Jumat, 04 Mei 2012

[Sinopsis] The City Hall -- Episode 19 Part 1

Episode 19 Part 1 dari Sinopsis The City Hall kali ini agak lebih panjang, banyak dialog yang gak ku singkat...
Selamat membaca, di tunggu komennya. Walau itu termasuk berita lagi-lagi ada yang terpanah pesonanya akang Cha *sigh... cemburu menguras jolang merah
Episode sebelumnya, MI Rae menyatakan MOU akan di tunda sampai batas yang belum di tentukan. 

Hampir semua yang hadir, terutama para pemilik tanah, diaula marah besar pada Mi Rae yang tiba-tiba mendelay kesepakatan dengan Dae Han. Seorang ahjumma bahkan menuduh Mi Rae merasa iri karena tak punya tanah untuk di jual, atau dengan kata lain tak menikmati keuntungan.
Mi Re berusaha tenang meninggalkan aula. Jo Gook mengikuti arah kepergian Mi Rae dengan ekor matanya.
Go Hae minta bicara dengan Mi Rae. Dan ia langsung menyemprotkan amarahnya begitu bertemu Mi Rae. Go Hae tak habis pikir, hal apa lagi yang kurang jelas dari proposalnya, dokumen serta dokumentasi yang di lampirkan sudah cukup jelas. Kalau memang bukan karena cemburu, ia minta Mi Rae menjelaskan…
Kim Sun Ah
“Maukah kau menjawab dengan jujur?” tanya Mi Rae
“Kenapa aku mesti berbohong?”
Mi Rae ingin tahu alasan di balik rencana Dae Han Grup membangun pabrik daur ulang, ia menampik alasan Dae Han ingin melakukan tanggung jawab sosial, “Apakah mungkin tanggung jawab sosial itu termasuk menyediakan dana kampanye untuk pemilihan presiden berikutnya?” Sinopsis di buat oleh cikurngora.blogspot.com.

Go Hae takjub pada Mi Rae yang bisa menebak dengan benar, tapi ia tentu tak ingin Mi Rae tahu kalau ia terkejut dan menganggap itu masalah besar.
Maka inilah jawabannya; “Entah benar atau tidak, apakah itu penting? Yang penting Inju mendapat keuntungan. Sebuah perusahaan besar mendirikan bangunan di kota yang sedemikian miskin dapat membawa banyak manfaat secara ekonomi. Apa yang merugikan walikota Shin?”

Tapi pemikiran Mi Rae ternyata lebih dalam dari itu, ia justru aneh. Walikota atau kota tak dirugikan sedikitpun, lalu kenapa yang jadi walikota mesti walikota boneka? Kenapa mesti Inju?

“Tentu saja itu karena Kongres Jo… Aku mengatakan itu sebelumnya, ini adalah dukungan istri untuk suaminya. Ini adalah sesuatu yang kau takkan pernah mampu lakukan bahkan di kehidupanmu yang akan datang” jawab Go Hae, seperti biasa sarat dengan sindiran.

Lagi-lagi Mi Rae sudah memikirkan kemungkinan itu, tapi tetap saja ada yang mengganjal. Rencana itu sudah ada sejak sebelum Jo Gook ke inju. Jadi Jo Gook ke Inju karena rencana itu, bukan rencana itu ada karena Jo Gook di Inju. Mi Rae memastikan takkan ada tanda tangan MOU apapun sampai semua kecurigaannya terjawab.
Ding Dong!! Go Hae terperangah, ia tak mampu menjawab. Setelah Mi Rae pergi, Go Hae mulai mencerna pembicaraan tadi. Sinopsis di buat oleh cikurngora.blogspot.com. Go Hae mengingat saat ia heran dengan langkah politik Jo Gook. Setelah Provinsi, kenapa bukan pusat lalu Gedung Biru? Kenapa dari provinsi mesti balik ke kota kecil? Ah, mungkinkah benar semua teorinya Mi Rae??
Cha Seung Won
Soo In mengikuti Jo Gook dengan langkah-langkah besar, ia tak habis pikir dengan Jo Gook. Bagaimana mungkin Jo Gook mengancam seorang wanita yang katanya sangat di sukainya? Ternyata Soo In mendengar ancaman Jo Gook pada Mi Rae (ep18 part2).
Jo Gook yang kini telah duduk dikursinya mengelak. Menurutnya tak ada yang bisa di simpulkan dari perkataan seorang politisi, tak bisa di tuntut sebuah kejujuran dari seorang politisi *wow*. Soo In mesti banyak belajar untuk bertahan di duni politik.
“Aku telah memilih berpihak pada siapa, jadi aku berhak untuk tahu”
“Memilih? Siapa? Walikota Shin?”
“Bagaimana jika iya? Kau tak berpikir bahwa aku akan menikammu dari belakang?”
“lakukan saja…. “ sahut Jo Gook dingin, ia tak ingin berdebat dengan Soo In. “Pergi dan lakukanlah pekerjaanmu..”.
Seharian itu hingga malam Jo Gook sibuk, ia sibuk mencari cara membantu Mi Rae. Ia mencarikan data-data yang bisa di pakai Mi Rae untuk membantunya memutuskan soal pabriknya Dae Han.
Jo Gook tiba-tiba tak bisa menahan kerinduannya, ia segera membuka website kota Inju untuk melihat foto Mi Rae. Secercah senyum langsung nampak di wajahnya.
Terdengar pintu dibuka, Jo Gook buru-buru mengganti dengan dokumen yang lain. Tapi Soo In ternyata sudah terlanjur melihatnya.
“Gambar ini lebih jelas” kata soo In sambil membuka dokumen yang didalamnya ada foto Mi Rae. Huaaaa Soo In nih perhatian banget sama Hyungnya. 
Soo In yang hendak beranjak pergi tertegun saat mendengar suara lirih Jo Gook.
“aku harap Walikota Shin tidak akan menyerah dan menandatangani Perjanjian, tapi aku ingin Shin Mi Rae segera menandatanganinya….. Aku harap Walikota Shin akan melawan sampai akhir, tapi kuharap Shin Mi Rae tidak akan melawan sama sekali, dan tidak terluka….. Aku ingin ia menyelesaikan dua tahun tugasnya dengan damai, lalu meninggalkan dunia politik yang kotor” ternyata Jo Gook galau. 
Secara politik, ia suka dengan Mi Rae yang bertahan demi kebenaran, tetapi secara hubungan pribadi ia ingin Mi Rae ikut arus dan tak terluka….
Jam menunjukkan waktu tengah malam saat Jo Gook duduk di kursi taman favoritnya juga favorit Mi Rae. Jo Gook mengusap teks sms dari Mi Rae.
Ternyata di bangku yang sama disisi yang berlawanan dan jam yang tak sama, Mi Rae juga duduk. Mi Rae berulang kali mengulang pesan suara Jo Gook saat mengkhawatirkannya yang tak kunjung pulang.
Esok paginya di kantor Mi Rae nampak 3 orang yang sedang mencari ‘sesuatu’. Boo Mi bingung harus mencari apa dari dokumen-dokumen di depan mereka. ‘kata-kata aneh’ akan terlalu sulit, (karena memang standar tiap-tiap orang beda), lebih mudah untuk mencari Tuan Kim atau Tuan Lee. Haha. Putus asa dengan yang harus dicarinya, Boo Mi memicingkan mata melihat ketebalan proposal Dae han. Ia heran kenapa Dae Han mesti repot-repot impor limbah sementara negara mereka juga punya banyak limbah.
Aha! Mi Rae tertarik dengan ucapan Boo Mi, ia mulai memikirkan keuntungan yang didapat dari mengimpor limbah. 

Sinopsis di buat oleh cikurngora.blogspot.com. Jung Do mematahkan kecurigaan Mi Rae. Sebuah negara yang mengimpor limbah dari sebuah negara besar, akan menerima pembayaran besar sebelum mereka mengolahnya. Selama kedua pihak mematuhi Konvensi Basel (perjanjian Internasional mengenai pengendalian perpindahan limbah berbahaya dan pembuangannya), takkan ada masalah. “dalam daftar impor Dae Han Group tidak ada pelanggaran terhadap Konvensi Basel.”
“Mungkin ada… daftar ini disediakan oleh Dae Han Group.. Bagaimana jika kita ditipu? Bagaimana cara mengetahuinya?... ah, telpon mereka!”
“Di Eropa, sekarang jam 02:00 malam” Jung Do mengingatkan Mi Rae, haha untung Jung Do sabar punya walikota kayak Mi Rae.

Akhirnya di putuskan untuk mengirim Imail. Tapi Jung Do sendiri tak yakin, mengingat kalau si empunya limbah di eropa pasti berada di pihak yang sama dengan Dae Han, akan sulit memperoleh info yang valid.

Mi Rae melihat inbox imelnya, sebuah imel berbahasa inggris yang ia tak pahami isinya ia anggap sebagai email dari situs dewasa, ia pun segera memsukkannya ke kotak spam sebelum yang lainnya tahu..
Solusi yang mereka lakukan kini adalah mencocokkan daftar limbah proposal dengan daftar limbah di kantor pelestarian lingkungan. Tak ada yang janggal, namun Mi Rae merasa bahwa ada sesuatu yang salah, ia hanya perlu menemukannya.
Sekali lagi Mi Rae menemui ahli lingkungan yang kemarin, ia menanyakan kemungkinan Grup Dae Han memalsukan nama limbah sehingga seolah limbah itu limbah yang aman. Ahli lingkungan sependapat, tapi mereka tak bisa mencari solusi kecuali si pemilik limbah beretika jujur soal produknya itu.
Dengan langkh gontai Mi Rae melangkah. Jung Do bicara pada Mi Rae, bahwa percaya pada Mi Rae, tapi kecurigaan Mi Rae kali ini bisa jadi salah. Bisa jadi ini hanyalah sentimen pribadi Mi Rae pada Jo Gook. Jung Do meyakinkan kalau Dae Han takkan mengimpor iron slag (terak/ampas besi) or copper sludge (lumpur tembaga) yang jelas-jelas limbah berbahaya.
Mi Rae minta Jung Do mengulang iron slag dan copper sludge, ia ingat pernah membacanya di suatu tempat. “Kata-kata itu tidak akan muncul dalam Wonderbra atau spam mail situs dewasa, kan?” hahaha, Mi Rae polos banget.
Akhirnya Mi Rae membuka kmbali email yang ia kira spam, Jung Do membantu menterjemahkan. Ternyata Jo Gook memberi bocoran pada perusahaan Greenland kalau Dae Han sudah meneken kontrak dengan beberapa perusahaan besar Eropa untuk mengimpor beberapa limbah berbahaya. Green land ingin potong jalur, ia ingin kerja sama langsung dengan Inju. Apalagi limbah berbahaya yang Dae Han akan impor merupakan limbah yang sulit di buang di negara mereka.
Pikiran Mi Rae kini tersita dengan ‘bukti baru’ ia tak lagi mempersoalkan bagaimana greenland punya alamat kontak dirinya
Mi Rae langsung mengontak Go Hae untuk bertemu. Mi Rae menyodorkan print-an surat dari Greenland, ia mempersilahkan Go Hae untuk bertanya bila ada kata-kata istilah seperti slag atau sludge yang tak dimengerti. Berkat Dae Han, Inju menjadi terkenal di Eropa.
Go Hae bingung, ia tak mengerti arah pembicaraan Mi Rae, ia minta Mi Rae lansgung ke intinya, “Apa balaikota pedesaan ini selalu santai?” Sindir Go Hae
Mi Rae tak mau kalah, “Apa anak perempuan dari keluarga kaya selalu tak tahu malu?” hahah Mi Rae ini berani juga. Mi Rae lalu menjelaskan kalau ia menemukan indikasi rencana Dae Han Grup mengimpor limbah berbahaya ke Inju. Untuk itu Mi Rae ingin membatalkan rencana kerja sama mereka.

“Apa maksudmu?”
“Mengapa kau yang bertanya? “ Mi Rae bertanya balik, ia lalu menyindir Dae Han Grup sebagai perusahaan yang hanya ingin melakukan tanggung jawab sosial. “Yang benar saja!”
“Diam Kau!” wah, kali ini Go Hae benar-benar tersinggung, ia tak terima Mi Rae menyindir Dae Han. (Karena, menurutku, Go Hae memang tak tahu rencana kotor ayahnya sendiri).
“Kau ini siapa? Beraninya kau meremehkan Grup Dae Han?” Go Hae lalu menjabarkan panjang lebar; (APA MI RAE TAHU) apa yang akan terjadi terhadap perekonomian negara jika Grup Dae Han mati? Seberapa besar persentase ekonomi negara tergantung pada Grup Dae Han? Seberapa banyak orang yang bekerja di Grup Dae Han? Berapa banyak mulut yang telah di beri makan oleh Group Dae Han selama 100 tahun terakhir? DAN sejarah Grup Dae Han ADALAH sejarah modern dari Korea?

Go Hae benar-benar tak terima tuduhan Mi Rae yang hanya berdasar sepotong email dari sumber tak jelas. Tapi kalaupun misalkan isi email itu benar, pengiriman paket limbah beracun melalui laut membutuhkan waktu minimal 2 tahun. Itu berarti bahkan jika Mi Rae akhirnya mendapatkan bukti fisik, masih menunggu 2 tahun lagi. “Pada saat itu, apa kau masih walikota Inju?” Sinopsis di buat oleh cikurngora.blogspot.com.

Go Hae pergi dengan kesal, demikian juga Mi Rae. Tapi kekesalan Mi Rae di arahkan pada Jo Gook. Jo Gook lah yang sempat mengancamnya untuk segera menandatangani MOU dengan Dae Han atau kembali masuk ruang KPK. Mi Rae langsung yakin kalau Jo Gook lah dalang semuanya, ia pun segera mendatangi Jo Gook di kantornya.
Tanp ba bi bu, Mi Rae langsung mengakui sangkaannya kini memiliki bukti yang jelas. Meski mereka setuju untuk tidak berada di sisi yang sama, sebelumnya Mi Rae sangat mempercayai Jo Gook. Namun sekarang tidak lagi.
Jo Gook berusaha santai, ia tak mengerti apa yang dibicarakan Mi Rae. Ia mempersilahkan Mi Rae duduk.
Boro-boro ingin duduk, Mi Rae melempar kertas berisi email Grenland.
“Apa ini? Apa kau ingin aku menerjemahkan untukmu?”
“Jangan mengganti topik”
“Apa ini laporan Balai Kota? Bukankah kau bilang kau takkan datang untuk melapor?”
“Jangan mengubah topik! Jangan membuat aku marah!.....” Dengan berapi –api Mi Rae bicara. Ia tak berminat melapor pada orang yang berniat mengubah Inju menjadi tempat pembuangan limbah demi mendapatkan uang untuk ayahnya menjadi Presiden,

Aku datang ke sini untuk mengatakan sesuatu. Dengarkan dengan baik…”
“Wow, aku sangat takut”
“Kau takkan mendapatkan apa yang kau inginkan, bahkan jika aku mati, aku takkan menandatanganinya. Meskipun aku tidak punya uang atau koneksi, aku punya rasionalitas,
hati nurani, moral dan ide-ide”
Melihat Jo Gook diam saja, Mi Rae yakin itu karena Jo Gook merasa malu. Tapi ia meyakinkan kalau Jo Gook akan mendapat malu yang jauh lebih besar, ia sudah mempelajarinya dari seseorang (=Jo Gook).
“Kau tak ingin belajar lagi? Sesuatu yang tidak dapat dilakukan hanya dengan hati nurani dan moral?”
“Kau mengatakan itu, tapi sebenarnya kau penasaran akan langkahku selanjutnya.. aku tahu itu” 
“Soo In benar, Walikota Shin memang terlihat sangat cute ketika dia khawatir”
“Dengarkan ...”
“Apa yang kau makan untuk makan siang, dan dengan siapa? Aku makan kimbap saja”
“Aku tidak tertarik pada makan siangmu.”
“Apa kau sudah selesai kerja? Apa rencanamu setelah pulang kerja?”
“Kau senang bermain2 denganku, kan?”
Jo Gook menoleh ke arah jendela, “turun hujan.. Apa kau dengar suara hujan? Bagaimana tadi kau ke sini?”
“Aku tanya, apa kau puas bermain-main denganku?”
“Karena hujan, apa kau ingin minum sesuatu yang hangat?”
“Kau tidak bisa diam?” Mi Rae naik lagi emosinya, karena pembicaraan Jo Gook sama-sekali tak berhubungan dengan inti masalah mereka. Mi Raepun mengungkapkan isi hatinya, mungkin bisa saja Jo Gook membuang baju tua, tapi setidaknya tidakkah Jo Gook mengingat dimana ia pernah memakai baju itu dan siapa yang ia temui dengan baju itu. (Baju=Mi Rae). Mestinya Jo Gook (kalau memang benar pernah mencintai Mi Rae) setidaknya ada rasa sedih, tapi mengapa justru tak acuh dan dingin?.

Mi Rae lalu mengungkapkan betapa tak mudahnya memberikan hati pada seseorang. Tapi mengapa disaat ia melakukannya, perasaan itu tak berbalas. “Apa kau senang melihat hatiku sekarang sudah hancur berkeping-keping?!, kau brengsek!” Setelah selesai mengatakannya Mi Rae segera pergi.

Jo Gook masih terdiam di kursinya, ia tadi tulus ingin tahu dengan siapa Mi Rae makan, apa yang Mi Rae makan, dan apa yang Mi Rae lakukan sepulangnya kerja. Jo Gook kembali melihat ke arah jendela yang sudah basah dengan air hujan.
Mi Rae menuntun sepedanya dengan sesenggukan, tiba-tiba sebuah tangan menyodorkan payung. Mi Rae melihat ke arah orang itu.
Hampir setengah memaksa, Jo Gook minta Mi Rae memakai payung. Mi Rae menolak, di tepisnya payung hingga payung itu terjatuh. Jo Gook buru-buru mengambilnya dan kembali memaksa Mi Rae memakainya. Lagi-lagi Mi Rae menepis payung itu.
“Apakah kau ingin berjalan pulang basah kuyup?”
“Tak masalah jika aku basah kuyup oleh hujan atau hujan es. Apa yang bisa kau lakukan? Aku sudah basah.”
Mi Rae tak memperdulikan Jo Gook yang khawatir ia akan sakit, baginya rasa sakit yang Jo Gook berikan jauh lebih buruk dari sekedar sakit fisik. Ia minta Jo Gook pergi.
Bukannya pergi, Jo Gook malah menarik Mi Rae, tepatnya memaksa menarik tangannya ke arah Gazebo dekat situ. Mi Rae meronta minta di lepaskan, sementara Jo Gook keukeuh mengeratkan pegangannya. Ia akan membiarkan Mi Rae pergi jika hujan sudah reda..
Mi Rae menangis meraung-raung minta Jo Gook membiarkannya pergi. Jo Gook tak perlu melakukan apapun lagi untuknya. Dengan kenangan yang lalu saja Mi Rae masih belum melupakannya, jangan ada lagi kenangan baru diantara mereka.
Mi Rae mulai tak bisa berdiri, dengan tangan yang di pegang Jo Gook, ia terus menangis. 
Tak cuma Mi Rae yang menangis, Jo Gook juga. Air mukanya tampak menahan kesedihan. Huah, sini tak peluk akang Cha…Sinopsis di buat oleh cikurngora.blogspot.com
Jo Gook menarik Mi Rae pergi, ia menghentikan taksi yang lewat. Taksi itu sebetulnya sudah ada penumpangnya, tapi karena hujan deras, merekapun berbagi.
Mi Rae akhirnya diam, dia tak mungkin berteriak-teriak menangis di tengah banyak orang. Taxi itu full, ia dan Jo Gook di bangku belakang bersama seorang wanita. Sementara di depan di samping supir ada penumpang pria.
Setelah beberapa saat, Jo Gook mulai melepaskan tangannya dari pergelangan Mi Rae. Kini telapak tangan mereka berada di atas paha masing-masing. Jo Gook pelan-pelan menggeser tangnnya, kelingkingnya berusaha menyentuh kelingking Mi Rae. Mi Rae bisa merasakannya, ia makin menahan tangis. 
Ah, cocok banget ma lagunya, “Even with a small hand gesture, you make me breathless”. Kalo aku di sentuh CSW mungkin gak Cuma breathless kali ya, tapi juga kejang2 wkwkwkwk.
Taksi mengantar keduanya sebagai penumpang terakhir. Jo Gook ikut turun, ia meminta Mi Rae meminjamkan kaosnya, atau mungkin handuk…..
Jo Gook masuk kamar Mi Rae, terlihat pendar senyum yang tak terlalu kentara. Baru kali ini ia masuk kamarnya Mi Rae. 
 
Saat menggantungkan Jas, perhatian Jo Gook tersita pada gambar di balik pintu. Poster pemilihan kongres dirinya terpasang lengkap dengan bros bandengnya Mi Rae.
Perhatian Jo Gook teralihkan saat pintu bergeser, Mi Rae masuk. Mi Rae membelakangi Jo Gook.
“ada apa?”
Mi Rae menghadap Jo Gook, “Tidak…. Aku hanya ingin memberitahumu untuk segera pergi setelah ganti baju.”
“Bolehkah aku ganti di depanmu?” kata Jo Gook membuka satu lagi kancingnya.
Mi Rae buru-buru berbalik, “Aku tidak akan melihat, jadi cepatlah ganti bajunya”
Jo Gook makin berkaca-kaca, ia merindukan Mi Rae. Tangannya sudah terulur hendak menyentuh pundak Mi Rae. Beberapa lama tangan itu tetap menggantung di udara. Akhirnya Jo Gook tak tahan lagi, tapi ia memilih menarik tangannya dan berpamitan. Air matanya sudah jatuh.
Mi Rae memutar badannya dengan kaku, saat berbalik tak ada lagi Jo Gook di belakangnya. Hatinya terasa hampa.
Esoknya Soo In mengajak bertemu. Soo In menyerahkan 2 lembar kertas lecek yang katanya ia dapat dari tempat sampah. Ia yakin kertas itu ada hubungannya dengan Mi Rae, lembar kertas yang di kerjakan Jo Gook semalaman sampai tak sempat pulang.
Mi Rae bingung, tapi ia kemudian ingat soal email Greenland, Mi Rae buru-buru memeriksa daftar di kertas. Ternyata Greenland ada di dalam list. 
Perlahan air mata menuruni pipinya. Kini Mi Rae baru menyadari Jo Gook diam-diam membantunya. Mi Rae menanyakan dimana Jo Gook. Dari soo In Mi Rae tahu kalau Jo Gook sedang menemui BB. Sinopsis di buat oleh cikurngora.blogspot.com
Jo Gook menyerahkan draft UU lingkungan yang baru di susunnya. Daftar list barang yang tadinya masuk didalam barang di larang untuk di impor telah di ubah menjdi boleh diimpor. Sejkalipun ada denda, nilainya telah di kurangi. Bb tersenyum senang, ia juga minta partai Purification (Partai barunya Jo Gook) yang mengumumkannya. Jo Gook bersedia.
Ketua Partainya Jo Gook agak marah saat malam-malam Jo Gook mengganggunya hanya karena sebuah draft undang-undang sepele mengenai peraturan lingkungan hidup.
Tapi Jo Gook tak gentar, ia berusaha menjelaskan kalau UU yang disebut tidak berharga itu akan menjegal Choi Dong Gyu (BB) dari kandidat wakil Presiden. Jels BB adalah lawan yang tangguh bagi calon dari partainya Jo Gook.

“Apa?”
“satu-satunya cara untuk mengalahkan calon presiden Choi Dong Gyu adalah hukum ini. Aku akan memastikan ia tidak bisa bahkan mendaftar untuk pemilu. Anda hanya perlu untuk menyetujui rencana ini.”
“Apa kau yakin?”
“Saya yakin.” Waah, Jo Gook sudah menemukan cara untuk melawan Bb…
“anggota kongres yang datang mencari Ketua Dewan Kota, atau seorang anak yang terasing datang untuk mencari teman ayahnya?” Begini respon Ketua Dewan Kota melihat Jo Gook menemuinya. Ia mengingatkan Jo Gook yang pernah memanggilnya paman sampai usianya 5 tahun.
“Aku ada di sana dan menyaksikan kelahiranmu, aku hadir saat perayaan hari ke 100mu saat kau mengambil pensil. Saat ibumu melemah karena morning sickness, ia menemuiku untuk melarikan diri dari ayah si bayi…. “ Ketua Dewan kota juga melanjutkan betapa dulu Jo Gook kecil begitu tampan, cerdas dan tulus. Berbanding terbalik dengan sekarang.

“Itulah alasan mengapa aku datang. Aku ingin memutarnya…” Jo Gook yang bertekad keluar dari bayang-bayang ayah yang membuat diri juga kekasih hatinya menderita, punya banyak pertanyaan. Jo Gook ingin tahu semua, kenapa BB memilih mundur dari pencalonan presiden dan berbalik mendukung presiden terpilih sekarang? Dan mengapa dia pensiun dari politik?

Ketua dewan memberitahu kalau jawabannya tergantung di mana Jo Gook berdiri, apa ia berada di sisi BB dan berniat menjadi pewarisnya atau sebaliknya. Sinopsis di buat oleh cikurngora.blogspot.com. Setelah mendengar kalau Jo Gook justru ingin menjauh dari BB, beginilah jawaban ketua Dewan: 
“Alasannya adalah ... karenamu Kongres Jo.”
“Apa?”

*^^ *
Adakah seseorang yang menjadikan aku sebagai North Starnya (?!)
*status galau* xixixixi

7 komentar:

irfa mengatakan...

hallo mba ai,, maaf ya,, aku lagi-lagi mau bilang,, Cha Ajussi memang mampu melelehkan hatiku,, apalagi pas adegan hujan itu,, kasian liat Mi Rae,, tapi terpesona sama tatapan Cha Ajussi,,,

aduh,, jadi kangen liat Soo In,, stelah liat karakter darknya dia di drama barunya,, kangen sama Soo In yang selalu ngikut Joo Gook kemana-mana...

Vee@n mengatakan...

wah teteh,,sebentar lagi selesai,,semngat

ai mengatakan...

@Irfaaaaaaaaa... tidaaaaaaaaaaaaaaaak...
ha, aku belum liat Soo In terbaru.. di equator man ya??

@apni... haha, udah kujadwalin kok ampe selesai... bulan ini hampir gabisa posting di blog sendiri, tapi untungnya dah punya tabungan banyak...

Anonim mengatakan...

MBk AI, MAKASIH BANGET LANJUTANNYA
KEREEN POOOLLL
PALAGI DAH LAMA NUNGGU NIH
THANKSSSS

ai mengatakan...

@anonim, you are welcome ^^

Anonim mengatakan...

This is a good blog message, I will keep the post in my mind. If you can add more video and pictures can be much better. Because they help much clear understanding. :) thanks Cavalieri.

ai mengatakan...

@anonim... need more effort for that... haha, but i'll try.. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...