Kamis, 17 Mei 2012

[Sinopsis] The City Hall -- Episode 20 Part 1

Cha Seung Won, Kim Sun Ah,
“Aku telah mencoba segala cara (namun tetap gagal)… Tapi di lihat dari sudut manapun, aku tidak menyerah….”
Setelah wakil walikota pergi, Jo Gook nyerocos kalau semestinya Mi Rae kabur atau sembunyi di banding harus meletakkan seluruh hidupnya sebagai taruhan. Mi Rae mengaku tak punya pilihan, ia lebih baik mengorbankan dirinya sendiri di banding mengorbankan kehidupan orang banyak.
“Mengapa kau menatapku seperti itu?” Tanya Go Hae galak pada Mi Rae, ia merasa dirinyalah yang teraniaya, bukan Mi Rae. Jadi ia memastikan kalau Mi Rae akan di tuntut kompensasi yang sangat banyak yang bahkan Mi Rae pun tak pernah membayangkannya. Go Hae mengambil dokumennya di meja Jo Gook dan bermaksud pergi.
Jo Gook menahan tangan Go Hae, “Jangan lakukan ini. Jika kau menindaklanjuti masalah ini, aku akan melakukannya juga ”Ada pandangan memohon dari Jo Gook.
Go Hae tak perduli, memang sudah selayaknya Jo Gook ikut campur dalam masalah itu (dalam hal berpihak pada Go Hae, ayah Go Hae juga Bb).
Jo Gook meyakinkan Go Hae kalau Go Hae, ayah Go Hae juga Bb takkan punya pilihan selain bertanggung jawab penuh. Kali ini ada sedikit ancaman.

“Tanggung Jawab? Tanggung Jawab?” Go Hae menarik tangannya dan menunjukkan dokumen yang di pegangnya, “Aku tidak tahu apa ini, tapi kupikir terlalu dini untuk mengatakan itu…. “Go Hae terluka lagi harga dirinya, tak pernah sedikitpun terlintas merugikan orang lain. Jadi kalau ada tuduhan seperti itu, ia minta waktu setidaknya untuk mencari tahu kebenarannnya. Go Hae lalu pergi.
Jo Gook siap ngomel lagi, tapi ia tak tega saat melihat wajah sedih Mi Rae. Ia kaget saat tiba-tiba Mi Rae minta oleh-oleh. “Bagaimana kau bisa bercanda di saat seperti ini?”
“Kau harusnya membelikanku tas tangan…. Mi Rae kembali jadi pengangguran dan ingin tas tangan.” Mi Rae mulai merajuk. Sinopsis ini dibuat oleh cikurngora.blogspot.com.
Jo Gook tak menjawab, ia berdecak hopeless lihat kelakuan Mi Rae.
“Bagaimana seseorang bisa seperti ini? Bahkan ketika kau mengejekku, jantungku berdetak kencang”. Hoah, Jo Gook pasti meleleh. Mi Rae lalu memberi tahu kalau sekarang ia akan punya banyak waktu luang, jadi Jo Gook bisa menghubunginya kapan saja. Walau kini Mi Rae bukan lagi walikota, ia memastikan akan selalu datang dan melapor pada Jo Gook. Mi Rae pamit, ia hendak ke Balai Kota untuk menurus banyak hal.
Jo Gook mendadak menjadi pendiam, tapi ia mengerti kesedihan Mi Rae. Jo Gook menahan tangan Mi Rae lalu memeluknya ke dalam pelukannya.
Membiarkan pelukannya menjadi pelipur lara bagi Mi Rae. Sinopsis ini dibuat oleh cikurngora.blogspot.com
Pengumuman Mi Rae membuat kaget seluruh karyawan Balaikota, termasuk para kepala bagian. Kegaduhan langsung terasa, bisa di bilang mereka tak rela kehilangan pemimpin sebijaksana Mi Rae. Pertanyaan bertubi-tubi, mengapa, mengapa, dan mengapa dari seluruh yang hadir termasuk Jung Do.
“Bisa-bisanya kau melakukan ini? Walikota adalah pejabat yang secara pribadi dipilih oleh masyarakat. Mana ada di negara ini seorang walikota akan mengundurkan diri secara tidak bertanggung jawab?”
Mi Rae berusaha menjelaskan kalau itu satu-satunya cara terbaik yang bisa ia lakukan untuk Inju. Ia minta pengertian semuanya.
“Mengerti? Mengerti apa? Apa yang si serigala Go Go Hae atau Goguma lakukan padamu?“ Boo Mi yakin kalau ada intervensi pada Mi Rae. Dan aku rada ngakak kalau Go go gae di plesetin jadi Goguma (ubi jalar) wkwk.

Trio balaikota yang dulunya AMAT MEMBENCI Mi Rae, kini membela Mi Rae, mereka bahkan bertekad ikut resign bersama Mi Rae, He Ra sekertaris yang nyebelin bahkan menawarkan untuk menyelinap ke ke kantor wakil walikota untuk mengambil dan merobek surat pengunduran diri Mi Rae.
Tapi keputusan Mi Rae telah bulat, “Hal ini adalah yang paling terpuji yang pernah saya lakukan sejauh ini. Jadi tolong, izinkan saya untuk meninggalkan kalian dengan lambaian tangan dan salam perpisahan ‘Anneyong’ “ Sekali lagi Mi Rae menatap para parner kerjanya selama ini di City Hall.
Jadwal berikutnya Mi rae adalah berpamitan pada warga kota, “Seperti yang telah saya jelaskan kepada anda selama ini, untuk mencegah hal berbahaya, saya disini untuk mengembalikan setiap suara untuk saya… Janji yang saya buat tentang saya yang takkan meninggalkan kalian, tak mampu saya pegang lagi….. Saya sangat menyesal.” Mi Rae membungkukkan badan.
Reaksi negatif datang dari para pemilik tanah, terserah Mi Rae jadi walikota atau tidak yang mereka pertanyakan adalah Pabrik jadi dibangun atau tidak. Sinopsis ini dibuat oleh cikurngora.blogspot.com. Mendengar ketegasan Mi Rae yang menjawab tidak, mereka tak terima. Menurut mereka Mi Rae mengada-ada dan mengundurkan diri karena menerima suap.
Jung Do tak tahan lagi, “Bagaimana kalian bisa berkata seperti itu? Kenapa kalian egois sekali? Walau pabrik itu akan menghancurkan lingkungan atau membahayakan kesehatan warga, uang tetap yang terpenting?... Mereka yang tadi bicara, di mana kalian tinggal? Apa kalian benar-benar tinggal di Inju?... Untuk kalian, tanah itu mungkin hanyalah tanah… tapi untuk warga Inju, itu hidup mereka dan masa depan mereka…. Di mana sebenarnya kalian ini tinggal?” Pertanyaan Jung Do membuat para warga membubarkan diri. Beberapa mungkin setuju, tapi kebanyakan ngegerundel.
Seperginya para warga yang tak suka, tertinggal tepukan tangan dari warga yang setuju, Mi Rae mengangkat wajahnya. Nampak ahjuma toko kelontong dan ahjuma toko kaos (mereka mendukung Mi Rae dan meminta maaf atas kesalahan mereka), juga kalo gak salah ahjussi kepala desa. Ahjussi berkata kalau sesuatu yang buruk, maka tidak boleh dibangun di Inju. “Kau telah melakukan hal yang benar. Kerja yang bagus!”
Go Hae melempar kertas ke meja ayahnya, “Tolong jelaskan ini. Ini adalah kontrak tertulis yang dibawa Kongres Jo dari Eropa…. Harap jelaskan mengapa ayah menandatanganinya…”
Presdir Go tetap sibuk dengan catatannya, “Kenapa aku tak pernah melihat bajingan itu? Telepon dia dan ajak makan bersama!”

Go Hae mulai tak sabar, ia meninggikan suaranya, “Tolong jelaskan kepadaku, Ayah. Apa kau
benar-benar terlibat dalam limbah berbahaya ... “
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan…. Bahkan jika RUU (yang baru itu) disahkan, Dae Han Group tidak akan hancur…” Presdir Go meyakinkan sebuah kalimat klise seperti ‘Lingkungan sangat berharga’ yang mereka ucapkan beberapa kali cukup untuk membuat semuanya kembali normal.
“Ayah…” Go Hae tak percaya apa yang di dengarnya…
“Aku telah memberi makan dan memelihara kehidupan negara ini, sekarang saatnya rakyat untuk membalas budi padaku…. “ Mengimpor limbah berbahaya adalah satu-satunya cara untuk ekspansi bisnis ke Eropa. Dae Han menyelesaikan masalah untuk pabrik-pabrik Eropa, dan sebaliknya masalah Dae Han akan di selesaikan mereka.
“Apa ini etika bisnis yang ayah ajarkan padaku?...” Go Hae meradang, apa artinya Manajemen yang transparan, Manajemen yang bermoral dan Manajemen yang meninggalkan kesan yang selama ini di cekoki padanya… Bagi Go Hae, Dae Han Group adalah kebanggaannya, dan ayahnya adalh pebisnis yang di ia hormati. (Tak heran Go Hae sempat tersinggung pada Mi Rae dan Jo Gook soal tuduhan miring terhadap Dae Han). “Ayah, bagaimana kau bisa melakukan ini?! “ Go Hae hampir menjerit mempertanyakan sikap ayahnya.

“Pelankan suaramu! Tidak peduli siapa dan bagimana, tidak ada yang punya hak untuk mengkritikku… “ Presdir Go mengungkit-ungkit jasa Dae Han pada Korea. Alih-alih membahas hal itu, Presdir Go akan mempercepat pernikahn Go Hae dengan Jo Gook. Sinopsis ini dibuat oleh cikurngora.blogspot.com.
“Tidak…. Aku tak bisa… aku tak bisa dengannya walau aku ingin.. Semua karena ayah… Aku tak punya lagi sesuatu untuk dibanggakan.” Go Hae terisak. Kalo di pikir-pikir, kasian juga Go Hae…
Ternyata Jo Gook juga menerima kabar yang sama soal Presdir Go dan Bb yang berencana mempercepat pernikahannya dengan Go Hae.
“Aku pernah mengatakan pada Anda secara khusus bahwa Anda hanya bisa memilih antara dua hal…. Mundur, atau tamat… Anda memilih yang terakhir?”
Bb tak mempeerdulikan Jo Gook, ia tetap minta Jo Gook segera mengumumkan rencana pernikahannya ke Pers dengan tampilan yang baik.
“Aku memberikan anda kesempatan lagi ... “
“Kesempatan? Siapa kau yang ... “
“Ayah!! aku anakmu! Apakah anda akan terus menyangkal fakta ini? Semua takkan berjalan seperti yang anda rencanakan…. Mundur. Mundurlah dan hidup sebagai ayahku.” Suara Jo Gook melunak.
“Aku menjalani hampir seluruh hidupku sebagai pemimpin seseorang, tak pernah sekalipun sebagai ayah seseorang…. Kau berpotensi menjadi penggantiku, tapi kau tak bisa menjadi anakku”
“Tidak, mulai saat ini, aku akan membuat hidupmu bukan sebagai legenda atau pemimpin, tapi hanya sebagai ayah.” Kata jo Gook yakin, ia lalu menoleh ke arah pintu dan mempersilahkan masuk.

Para wartawan ternyata menunggu di balik pintu, mereka langsung ngaburudul masuk.
Walau bingung, Bb berdiri dan merapihkan jasnya dan berusaha tersenyum ke arah wartawan. Jo Gook berdiri menghadap wartawan, ia tak menghiraukan Bb yang bertanya apa yang di lakukan Jo Gook.
Jo Gook dengan serius mulai bicara, kekagetan muncul saat Jo Gook mengumumkan kalau Choi Dong Gyu alias Bb menyatakan pensiun.
Beragam pertanyaan soal alasan pensiun bermunculan, mulai dari isu kesehatan sampai alasan politik.
“Alasan pensiunnya Ketua Choi adalah karena dia tidak ingin memblokir jalan anaknya.”
“Anak? Apa yang dimaksud dengan anak? “ tanya para wartawan.
“Anda semua pasti akrab dengan rumor tentangku… ‘Dia anak dari seorang ibu tanpa suami’, ‘Dia anak tidak sah dari calon presiden potensial’” Jo Gook membenarkan semua rumor itu, ia juga menyatakn dirinya sebagai anak tidak syah dari Bb.
Tanpa menganggap Bb ada dan menatapnya tajam, Jo Gook terus bicara “Ketua Choi mengkhawatirkan keburukan masa lalu dapat mempengaruhi masa depan saya sebagai anggota Kongres. Itulah mengapa dia membuat keputusan ini dan mengorbankan dirinya sendiri… “.
 
Jo Gook juga mengaku memaklumi ayahnya yang sekian lama menyembunyikan kalau ia adalah anaknya, memaklumi yang dilakukan BB demi ambisinya menjadi politikus. Kini saatnya Ia yang memenuhi ambisi ayahnya menjdi politikus. Ia juga meyakinkan untuk para pendukung Bb tak usah risau kehilangan pemimpin, karena Jo Gook meyakinkan ia akan memberikan kompensasi kerugian sekuat tenaganya. (ehm, mungkin bahas sederhananya, pendukung Bb silahkan mendukung Jo Gook, karena ia pun tak kalah cakapnya sebagai pemimpin).

Go Hae membaca koran soal pengumuman Bb yang mengundurkan diri dari panggung politik. Go Hae menangis menatap fotonya bersama Jo Gook yang di pajang di meja. Kini ia tahu pasti kalau Jo Gook takkan kembali padanya. Sinopsis ini dibuat oleh cikurngora.blogspot.com.
Sementara itu Mi Rae tampak sibuk. Ia sibuk menulis surat pada calon penerusnya,
“Untuk Walikota baru, pertama, saya ingin mengucapkan selamat kepada anda atas terpilihnya anda menjadi Walikota. Saya menuliskan beberapa hal yang mungkin akan membantu anda:
1. Jika para Kepala Biro mengucilkanmu, mintalah pengunduran diri mereka… sangat efektif
2. Anggaran akan segera keluar. Pastikan untuk memeriksa instalasi Gas Kota… Saya mohon bantuan anda.
3. Saya sudah menjual dua dari tiga mobil dinas walikota…. Maaf ..
4. Rumah Dinas walikota digunakan sebagai ruang belajar untuk anak-anak.. Saya tahu saya tak tahu malu itu, tapi apa boleh rumah itu tetap di gunakan sebagai ruang belajar?
5. Jika seseorang memberi anda Ginseng, pastikan untuk memeriksa berapa umurnya (jangn sampi kena seperti Mi Rae yang dituduh meneriama suap karena menerima Ginseng tua)

Dari mantan Walikota,
Shin Mi Rae. “

Mi Rae keluar dari ruangannya. Tampak Jung Do yang bersedih dan Boo Mi yang menangis. Mereka mengantar Mi Rae ke kantor polisi.
Di luar dugaan, Mi Rae di sambut para warga yang tidak setuju Mi Rae mengundurkan diri. Mereka kompak minta Mi Rae tak mengundurkan diri. Mi Rae tak kuasa menahan haru.
Kehadiran Go Hae mengganti suasana riuh menjadi kasak-kusuk.
“Kenapa kau di sini? Polisi pasti sudah memanggilmu”
“Aku kesini sebelum polisi meneleponku…”
“datang sendiri?... Selama ini, apa aku berurusan dengan orang bodoh sebagai lawanku?” tanya Go Hae mencibir
“Bodoh?”
“Tidakkah kau tahu bahwa kau hanya akan dihukum jika aku mengajukan gugatan?” Melihat Mi Rae yang hanya melongo, Go Hae berkomentar kalau tak berpendidikan dan kemiskinan memang tak bisa disembunyikan.
Ia memberikan dokumen. Mi Rae kaget saat membaca dokumen MOU. Ternyata Go Hae bermaksud meneruskan perencanaan pembuatan pabrik.
“Aku tak bisa kalah darimu, Shin Mi Rae.” Seumur hidup, Go Hae tak pernah kalah dari siapa pun, jadi kalau sampai ia kalah dari Mi Rae (yang bukan apa-apa) akan terasa mengerikan. Go Hae meyakinkan kalau pabrik itu nantinya tidak akan mengimpor limbah berbahaya dari Eropa atau dari manapun. Dae Han akan membangun pabrik besar yang hanya akan menggunakan produk limbah dalam negeri. Tak hanya itu, Rumah Sakit juga tetap akan di bangun di Inju. Itu adalah satu-satunya cara dari Go Hae untuk mempertahankan harga dirinya, melanjutkan rencana De=ae Ha tapi tanpa merugikan orang lain.
Sayangnya Mi Rae kan sudah mengundurkan diri. Jadi ia minta agar Go Hae menyerahkan dokumen pada wakil walikota.
“Saya tidak pernah mengatakan saya akan menjalankan tugas anda… Kenapa anda terus melimpahkan tugas Anda ke orang lain? Ini sangat menjengkelkan… Anda harus melakukan anda pekerjaan sendiri.. pengunduran diri Walikota Shin... “ Suratnya di robek2, “Saya tidak ingat pernah menerimanya.”
Sekertaris Park bahkan sudah menyiapkan mobil, “Mari kita pergi ke Balai Kota, Wali Kota”
Dunia seakan tiba-tiba berputar berbalik bagi Mi Rae, Ia tersenyum haru.
Perjanjian dengan Dae Han berjalan lancar.
Setumpuk foto-foto kebersamaan Jo Gook dan Mi Rae di letakkan di meja. Ternyata wartawan yang diam-diam meng-candid Mi Rae dan Jo Gook selama ini menyetorkannya pada Go Ha. Ia membuka suara semestinya setelah jalan-jalan (dengan petualangan cintanya), Jo Gook punya souvenir. Dan kini perjalanan (cinta dengan Go Hae) sudah selesai, Go Hae datang untuk menyatakan pertunangan mereka putus.
Jo Gook menahan senyum, “baiklah…” akhirnya Jo Gook membuktikan ucapannya kalau ia menunggu Go Hae yang akan memutuskan pertunangan itu.
“Bila suatu hari nanti kau masuk Cheong Wa Dae (gedung presiden), aku takkan berada di sisimu. Aku mungkin akan berdiri di samping Presiden yang akn kau salami” Haha, Go Hae tetap yakin akan bisa menjadi pendamping presiden, siapapun itu.
Jo Gook lagi-lagi tersenyum, “Baiklah…” ia lega karena Go Hae melepaskannya dengan kerelaan.

“Jika kutahu kau adalah pria yang tidak bisa terbang karena terjebak di dalam tanda kurung, aku takkan mendekatimu.”
Jo Gook bingung, ia menatap Go Hae.
“Shin Mi Rae mengatakan kepadaku kalau ia dalah tanda kurungnya Jo Gook, dan bahwa dia adalah makna tersembunyinya Jo Gook”
Jo Gook berdecak, “aku tidak tahu.”
Go Hae dengan jujur ingin memberi ucapan selamat pada Jo Gook dan Mi Rae, tapi di sisi lain ia juga tak rela, haha GoHae ikut seneng tapi juga gengsi. Go Hae berharap akan ada saat dimana Jo Gook akan akan menyesal apa yang terjadi di antara mereka. Tapi jika itu terjadi, Go Hae juga tak mau menerima Jo Gook. Ia lalu pamit pergi.
Go Hae terdiam saat mendengar suara Jo Gook, “Aku juga….berharap kau akan menemukan pasangan yang akan membawamu pada perjalanan yang indah… Aku sungguh-sungguh.”
“Seorang politisi yang menunjukkan ketulusan ... ternyata kau memang bukan pasangan untukku” jawab Go hae sebelum pergi. Haha, kadang kata-kata Go hae ini tajam tapi bikin ketawa.
Ketua Dewan kota menemui Joo Hwa, ia minta Joo Hwa agar memberikan suaranya untuk keputusan Gas Kota. Joo Hwa menghindar, ia kan tak pernah membuat keputusan politik
berdasarkan pendapat orang lain. Walau orang lain itu adalah Ketua Dewan.

Ketua Dewan lalu bertanya satu hal, dilihat dari komposisi anggota dewan, dimana rasio Partai berkuasa (Joo Hwa dan kroninya) berbanding partai oposisi adalah 4:3, bagaimana mungkin ia jadi Ketua Dewan. Pasti ada salah satu orang dari partainya Joo Hwa yang telah memilihnya, dan Ketua Dewan yakin kalau orang itu adalah Joo hwa.
“Omo! Itu mengejutkan. Omo! Bukan aku... Anda tahu betul bahwa aku tidak akan melakukan itu.”
“Apa benar bukan?” Tanya Dewan Kota yang sepertinya sudah tahu kebenarannya.
“Ya, itu pasti bukan aku.” Joo Hwa seperti anak yang menyangkal setelah ketahuan salah, ia buru-buru kabur dengan alasana rapat akan mulai. Ketua Dewan tersenyum.
Boo Mi masuk ke ruangan Mi Rae yang sedang tegang menunggu hasail rapat. Mereka sontak berpelukan saat boo Mi memberi kabar kalau anggaran di setujui secara bulat. Wowowowo, rekor gitu lho. Sinopsis ini dibuat oleh cikurngora.blogspot.com.
Giliran Jung Do yang bingung, “Bagaimana mungkin Joo Hwa juga menyetujuinya?”
Jung do tersenyum lebar saat orang dipikirkannya menelpon, “Aku baru saja memikirkanmu… Kau baru saja melakukan satu hal yang baik…”
“Itu adalah hadiah terakhir dariku… Aku ada di pengadilan sekarang, untuk memproses dokumen kita.”
“Joo-Hwa ... “
“Kau tak bahagia bersamaku… Aku juga berpikir kalau hidup bersama itu tak selalu yang terbaik. Aku akan membiarkanmu pergi sekarang…. Hiduplah dengan bahagia.” Joo Hwa menutup ponselnya dan menahan tangis.

“Apa ini?” Tanya pegawai pengadilan melihat berkas Joo Hwa.
“Tak bisakah kau lihat? Itu surat cerai… kau kan sudah sering melihatnya….” Joo Hwa berhenti bicara saat melihat surat yang di kembalikan pegawai itu. Sebuah surat dari Jung Do…
“Saat kau membaca catatan ini, mungkin berarti bahwa kau sudah memutuskan untuk bercerai. Demi aku atau demi dirimu, jika diputuskan tanpa penyesalan, aku akan menghormati keputusanmu….
Flashback saat Jung Do potong rambut, ia menulis surat itu, “Aku baru memotong rambutku hari ini… Aku ingin tahu pendapatmu, tapi pada akhirnya, aku tidak bisa bertanya….. Kau mungkin tak menyadari, tapi setiap kali aku kerja, aku akan memikirkanmu. Sayuran yang akan istri makan, tempat di mana istriku akan istirahat, pajak yang akan istriku bayar…. Setiap kali aku menandatangani dokumen, atau peraturan baru dibuat, kau lah standarku…. Terima kasih padmu, aku telah mendapatkan kepercayaan diriku….”
“karena itu, walau kita pisah, jangan merasa malu. Kau masih dapat berdiri tegak…. Dalam perceraian ksalahan bukan hanya dari satu pihak… kita berdua telah berbuat salah… Aku ingin pergi lurus, kau ingin kiri dan ke kanan. Jika kau benar-benar ingin pergi, pergilah kemanapun kau mau. Untuk pertama kalinya, aku menyalakan lampu hijau untukmu. Jadi, jangan menangis. Pergilah… Bagaimanapun kau harus bahagia… Selamat tinggal, Joo Hwa….”
Bersambung ke episode 20 part 2/2 (End)
*^^*
ye ye ye ye ye
Akhirnya 1 part lagi The City Hall tamat
dibuat oleh cikurngora.blogspot.com dengan penuh cinta
^^Khususon buat akang Cha!!^^
*^^*

4 komentar:

irfa mengatakan...

aku tetep setia menanti sinopsis city hallnya,, walo udah nonton dari dulu,, selalu tertarik baca sinopsisnya mba ai,,

ai mengatakan...

awwwww... gak cuma CSW yang bikin melted... kata2nya Irfa juga bikin melting ^^

Anonim mengatakan...

mo tanya dong..musik di awal drama episode 20 bisa cari di mana yaa...coz ku coba cari gak pernah dapet...^_^

ai mengatakan...

@anonim, aku juga pernah di tanyain soal OST di episode 20 ini saat flashback 8 tahun sebelumnya, tapi aku ga pernah dapet, hihi... maklumlah kupingku gak peka ama musik

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...