Minggu, 27 Juni 2010

Kim Jae Won



Cowok satu ini memang punya ciri khas di senyumnya, gak heran dia dijulukin Killing Smile bahkan a smile angel...
Aku pertama liat dia di wonderful life, trus di My Crazy Love....

PROFILE:
§ Name : 김재원 / Kim Jae Won

§Profession : Actor and model

§ Birthplace : Seoul, South Korea

§ Birthdate : 1981-Feb-18

§ Height : 182cm

§ Education: Sangmyung University (Acting major)


Waktu main di Wonderful Life

TV SERIES

§ Hwang Jin Yi (KBS2, 2006)

§ Great Inheritance (KBS, 2006)

§ Wonderful Life (MBC, 2005)

§ She Is Nineteen (SBS, 2004)

§ Beijing My Love (KBS2, 2004)

§ Land of Wine (SBS, 2003)

§ Romance (MBC, 2002)

§ Rival (SBS, 2002)

§ My Love Patzzi (MBC, 2002)

§ Honey Honey (SBS, 2001)

§ Wuri's Family (MBC, 2001)



MOVIES

§ Shoeshine Boy (2006)

§ 100 Days with Mr. Arrogant / My Crazy Love (2003)

§ Coming Out (2000)



Serius.......
aneh juga si kalo pake kostum ini masih nyengir sumringah



lagi ngelamun? tapi kok kayaknya nelangsa ya?!

Nangis... saat dilepas fansnya untuk Wamil.....
(Maret 2009)



Lagi wamil neh........ di acara Konser Militer Maret kemarin

manis mana ma senyum Jo In Seong?

pake seragam cakep juga.....bareng ma Jo In Seong (Something Happened in Bali)

Source.....so many.....KMJ FC, KTO, Hancinema, Dramawiki, 10Asia

Kamis, 24 Juni 2010

Hero Episode 3




Terlihat segar setelah mandi, Do Hyuk teringat kata-kata pedas Jae In. Ia lalu mengambil sebuah kotak besar dan membukanya, mengeluarkan isinya satu persatu. Kotak itu berisi macam-macam, ada foto-foto keluarga, Piagam penghargaan ayahnya (yang ternyata seorang Wartawan), dan kliping artikel ayahnya (Do Hyuk kecil selalu mengumpulkan setiap artikel ayahnya). Tatapannya terhenti pada sebuah artikel terakhir, dan ingatannya melayang ke hari dimana ia menempelkannya.
Di luar sedang hujan, dari kakaknya Do Hyuk tahu ibunya yang sedang menjemput sang ayah tidak membawa payung. Ia pun menyusul ke halte dengan membawa sebuah payung lain. Melihat orang tuanya di seberang jalan, Do Hyuk memanggil mereka. Do Hyuk langsung berhenti menuruti perintah Ayahnya untuk menunggu dan tidak usah menyebrang. Pada saat orang tuanya menyeberang tiba-tiba saja sebuah truk datang dan menabrak mereka. Do Hyuk kecil hanya sanggup memanggil ayah dan ibunya.
Ditempat lain Yong Deok terlihat duduk terpejam (sepertinya mempunyai ingatan yang sama, ingat episode 1 saat malam ia menginap dirumah Do Hyuk, ia mengikuti seorang laki-laki disaat malam berhujan dan ada suara anak laki-laki yang memanggil ayah?).


Dalam perjalanan mengantar kerumah Jae In (Sol dan Jung akan dititipkan karena Do Hyuk akan pergi bersama staf Yong Deok) , Do Hyuk terus membujuk kedua keponakannya (terutama Sol) untuk memberitahu dimana ibu mereka agar para penjahat yang tempo hari mengganggu mereka bisa ditangkap.
"aku tahu, beri aku waktu untuk berfikir. Hari masih pagi, paman jangan cerewet. Eh, bukannya paman akan pergi dua hari dua malam? apa paman sudah menyiapkan semuanya?" (xixixi si Sol ini terlalu dewasa untuk umurnya).
"kau yang cerewet. apa kau istriku?"
"paman, kau bukan tipe yang aku sukai"...jiahahaha
Sampai dirumah Jae In, Do Hyuk meminta Sol dan Jung memasang wajah sedih sebelum ia menekan bel.Yang membukakan pintu pagar adalah Ibunya Jae In yang langsung mengenali anak-anak itu sebagai cucu Kyung Man dan menanyakan kakek mereka (ih, ibunya Jae In ini udah dibilang 2x masih salah faham aja).

Di dalam Jae in yang sedang menggosok gigi mendapat telepon dari Hae Sung yang menawarkan mengantarnya kekantor dan ia sudah menunggu didepan toko ibunya Jae In. Langsung panik, Jae In mencari baju dan berusaha mencopot piayamanya, tidak menyadari ibunya mempersilahkan orang lain masuk ke rumah. Jae In menjerit begitu sadar ada orang lain disitu sementara ibunya berusaha menutupi. (Do Hyuk menutup mata Jung padahal matanya dia sendiri jelalatan, hahah).


Berangkat beriringan dengan Do Hyuk yang mengendarai motor didepan, semua berhenti karena Do Hyuk berhenti untuk menyapa Hae Sung (yang sedang menunggu Jae In).
"wow, siapa ini? bukankah ini wartawan Hae Sung? kenapa ada disini?" tanya Do Hyuk yang membuka helm dan turun dari motornya.
"Koran Yong Deok?" Ha Sung membaca umbul-umbul di motor Do Hyuk
"bagaimana menurutmu? aku buka satu biro berita"
tertawa mengejek Hae Sung berkata "apa? Anjing dan kucing juga bisa membuka yang seperti itu" (ih kasar banget sih, dibandingan ma hewan)
"kenapa, kau takut?" tanya Do Hyuk santai
"menurutku kau ini wartawan kelas tiga, jangan terlalu sombong...." sambil memperhatikan isi mobil dibelakang motor Do Hyuk(iiih, geregetan pengen jitak Hae Sung) melihat Yong Deok ada juga didalamnya, dia lalu menambahkan "hanya sampah kelas tiga".
Teman-temannya dibelakang mulai tidak sabar, Do Hyuk lalu minta mereka jalan terlebih dahulu.


Senyum Jae In yang berjalan sambil terus merapihkan seragamnya hilang begitu melihat Do Hyuk sedang berdiri bersama Hae Sung.
"kalau Yong Deok bisa menang dari Daese, kau mau bagaimana?"Tanya Do Hyuk
Hae Sung tertawa "kau yakin kau bisa menang dariku?"
"kalau adil, menang darimu tidaklah susah. bukan begitu?" Do Hyuk kembali mengingatkan Hae Sung yang kadang suka berbuat licik.
Hae Sung diam tidak bisa menjawab (dia inget pernah ngalahin Do Hyuk dengan licik kayaknya), Do Hyuk lalu menambahkan "aku sangat penasaran, cara licik apa lagi yang akan kau pakai kali ini"
Jae In yang baru datang mendengarkan sedikit obrolan mereka
" permisi... foto palsu, siapa yang hampir membuat kehidupan seseorang hancur? Sekarang kau malah bertanya siapa yang licik?" Jae In langsung menyela pembicaraan mereka dan menyudutkan Do Hyuk.
"kalau tidak tahu, jangan asal ikut bicara" Jawab Do Hyuk menahan kesal
"apa yang aku tidak tahu?"cecar Jae In
"kalau merasa ada yang janggal, tanya dia saja... Maaf, keponakanku merepotkanmu" kata Do Hyuk hendak pergi
"ini untuk yang terakhir kalinya. Cepat temukan ibu anak-anak itu" (Jae In gak mau kelihatan ada hubungan pribadi ma Do Hyuk)
"aku tahu, pagi-pagi jangan terlalu cerewet" Do Hyuk menirukan kata-kata keponakannya, lalu pergi dengan motornya.

Melihat Do Hyuk pergi, Jae In bertanya pada Hae Sung "apa maksud perkataan Do Hyuk tadi?cara licik seperti apa?"
sempat kaget, Hae Sung hanya menjawab "entahlah, sepertinya ada yang tidak puas saat sekolah dulu"
"benar juga. itu kan sudah lewat begitu lama....tapi kalau orang itu, aku rasa tidak ada yang tidak mungkin"


Memacu motornya dengan kencang menyusul teman-temannya, do Hyuk terus berfikir "kau kira kau bisa menang dariku?"

Di tempat peristirahatan di tengah perjalanan, Yong Deok terlihat serius membaca buku "Aku juga bisa menjadi reporter dalam 1 minggu".
Ga Yeon dan Joon Hyun yang asyik memilih-milih makanan dikagetkan oleh suara gebrakan meja Do Hyuk "Daese Ilbo, kau kira aku tidak bisa menang?" kata Do Hyuk dengan wajah penuh emosi.
Do Hyuk yang masih emosi dengan keras juga mengingatkan teman-temannya untuk jangan sampai terbongkar resume palsunya.
"asal kau tenang saja" Ga Yeon mencoba menenangkan Do HYuk yang terlalu keras bicara, padahal Yong Deok duduk tidak jauh dari mereka.


Memakai seragam yang dibagikan Sang Chul, mereka berbaris sambil masih terus bertanya-tanya apa yang akan mereka lakukan.
"Selamat mengikuti pelatihan, aku adalah pengajar Bong Sang Chul, beri tepuk tangan!!!" yang langsung disambut tepukan meriah.
Memerintahkan para staf untuk Push Up, Do Hyuk malah membuat Chang Sul harus mendemontrasikannya. Contoh dari Sang Chul begitu kacau yang membuat Yong Deok marah dan memukul bahkan menendangnya.
Do Hyuk mendekati Sang Chul yang masih terduduk dan kelihatan kesakitan "adik, kau tidak apa-apa?"
"itu karena tenaga kakinya sudah melemah,... kalau dulu, aku pasti sudah mati" dan para staf langsung takut untuk tidak menganggap latihan hari itu tidak serius.

latihan yang Aneh:
mereka harus memanjat pohon, dan itu adalah interpretasi dari "Wartawan haruslah sabar, baru bisa mendapatkan berita yang eksklusif" ( emang ada hubungannya sabar ma manjat pohon? haha)

"Harus berlari untuk mengejar berita"... diartikan benar-benar berlari dengan membawa tas penuh beban dipunggung.

"Harus ada keyakinan dan semangat untuk mendapatkan berita"... badan masuk kelingkaran ban yang diikat tali yang ujungnya dipegang sang Chul, sambil terus berusaha menangkap ayam!! (what??)


Di kantornya Hae Sung melihat foto-foto latihan para staf Yong Deok Ilbo yang diberikan Gong Chil Sung (ingat anak buah Yong Deok yang dipukul pake asbak? ini orangnya). Chil Sung yang kini menjadi bos gangster baru mengingatkan agar Hae Sung jangan meremehkan Yong Deok Ilbo hanya karena isinya mantan gangster dan repoter tidak terkenal.
"Semua stafnya mantan Monday seoul....... kalau kau memandang rendah mereka, kau pasti akan menyesal."
Hae Sung tersenyum sinis "menurut logika, tidak akan mudah untuk berhasil"
Merasa Hae Sung meremehkan sarannya, Chil Sung lalu mulai menyinggung Direktur Choi, putrinya, dan rencana pernikahan Hae Sung dengan putri direktur Choi.
Merasa Chil Sung terlalu ikut campur urusan Dae Se, Hae Sung balik mengingatkan Chil Sung "Tuan Gong, tidak perduli apa yang kau lakukan, jangan meninggalkan bukti. Sekarang bukan jamannya menyelesaikan masalah dengan kekerasan" .

Sepeninggal Hae Sung, Chil Sung mengamati foto Yong Deok dan Do Hyuk. Ia minta anak buahnya terus mengawasi Do Hyuk.


"ternyata aku juga punya wajah seganteng ini" kata polisi Kyung Man mengamati wajahnya dicermin. Polisi Joong Il hanya tertawa pendek "kau ini sebenarnya kenapa? mau pergi mencari jodoh?"
Kyung Man mengiyakan ia bercerita akan mencari wanita single dan ia pria yang layak untuk itu. Pembicaraan terhenti ketika Jae In masuk dan menanyakan hubungannya dengan Do Hyuk.
Ia lalu memperlihatkan surat pinjaman dengan penjamin Do Hyuk dan heran jika Kyung Man yang katanya teman dekat tidak mengetahuinya.
Mengetahui dimana Taxi yang membawa penagih hutang (yang tempo hari berhasil kabur darinya) menurunkan mereka, Jae In meminta Kyung man bersiap-siap. Sempat menolak dengan alasan sudah ada janji (Kyung Man dah dandan rapi) dan menanyakan Jae In yang sekarang seolah peduli Do Hyuk, benar-benar membuat Jae In gusar dan balik mempertanyakan status mereka yang anggota polisi.
Kaget dengan reaksi Jae In, seisi kantor mulai ramai, bahkan Kyung Man meminta rekannya untuk menandai hari itu dikalender.


Pelatihan berlanjut ke kebun apel.
Setelah diceritakan Pemilik kebun itu adalah mantan teman satu sel Yong Deok yang dimintanya untuk tidak lagi mengayunkan pisau kearah orang baik, para staf langsung ketakutan memegang dada mereka dan langsung bersemangat memetik apel. (sebelumnya sempat merasa malas karena memetik apel dianggap tidak ada hubungannya dengan pelatihan mereka).
Malamnya, setelah melewati hari yang melelahkan mereka duduk bersama membicarakan konsep koran Yong Deok, tapi ide yang keluar tidak bermutu (dengan Do Hyuk yang coba menutupi kekurangan teman-temannya disana-sini).

Di kantor Dase, Hae Sung terlihat sibuk dengan deadline, ia menyempatkan diri mengirim pesan mengingatkan makan malam kepada Jae In. Jae In yang sedang mengintai di sekitar markas rentenir bersama polisi Kyung Man dan Jong Il tersenyum senang menerima pesan dari Hae Sung dan langsung membalasnya.

Begitu pentolan rentenir datang, Jae In langsung menyergap markas mereka. "Kami polisi!!"
Jae In begitu sigap dan cekatan menaklukan para komplotan rentenir, bahkan Kyung Man dan Jong Il sempat terpana melihat Jae In yang terlihat begitu perkasa melumpuhkan si pentolan.


Terbangun hendak ke kamar mandi, Sol bertemu Jae In yang baru datang "kau pulang lebih awal?" tanya Sol (jelas ini mah menyindir)
"apa aku pergi utuk main?" jawab Jae In kesal
"kalau itu, aku tidak tahu"
"semua ini harus salahkan kau, ibumu, dan pamanmu"
" manusia memang seperti itu, kalau baik ia akan mengatakan itu jasanya. kalau tidak, ia akan menyalahkan orang lain" Jawab sol sebelum ia masuk ke KM (ckckck anak ini terlalu tangguh buat Jae In, hehe).

Ibu jae In yang tidur disofa terbangun. Sol yang sudah keluar dari kamar mandi melihat keakraban mereka dengan ekspresi sedih dan iri (?!). Sebelum kembali kekamar, ekspresi Sol ini sempat terlihat Jae In.


Berusaha mencari sinyal, Do Hyuk keluar dari tempat mereka menginap dan menemukan direktur Yong Deok sedang duduk sendirian.
"Kau masih muda, banyak hal yang masih bisa kau lakukan. Kenapa harus wartawan?" tanya Yong Deok
"ayahku dulu juga adalah wartawan" jawab Do Hyuk
Waktu ditanya lagi apa hanya karena ayahnya wartawan Do Hyuk lalu bercerita dulu ada seorang ibu tua yang datang keayahnya untuk berterimakasih karena artikel ayahnya telah membuat keluarga ibu tua itu terbebas dari tuduhan palsu. "di saat itu aku memutuskan untuk menjadi wartawan seperti ayahku. aku berharap jadi wartawan dan memberi harapan bagi orang-orang seperti itu.... apakah terdengar kekanakan?"
"waktu dipenjara, aku pernah membaca sedikit buku... kau tahu Kaisar ketiga (Dinasti Joseon) itu siapa?"
"Tae Jong?
"Benar, dia demi memecahkan kesalahpahaman diantara rakyatnya, ia menempatkan satu drum (untuk interogasi?--gak ngerti niy) didepan istananya."
"jadi kau ingin membuat koran seperti itu?" Do Hyuk tersenyum senang karena visi misi mereka dalam membangun koran sejalan.


Di Gedung Daese seorang anak muda melakukan protes pada pengembangan yang perusahaan itu lakukan. Masyarakat dilingkungannya dijanjikan kompensasi yang tidak sesuai harapan, yang membuat ayahnya bunuh diri.
Hae Sung melihat pemuda itu sekilas, membiarkannya saja dan pergi.

Di sebuah panti jompo, Direktur Choi dan putrinya Ho Kyung sedang mengadakan acara " Berbagi Cinta Daese Ilbo". Mereka bernyanyi bersama, menyuapi para penghuni panti bahkan memandikannya, yang tentu saja tidak luput dari publikasi.
Selesai acara, Direktur Choi makan malam bersama putrinya dan Hae Sung. Ternyata putrinya ingin agar Direktur Choi menanyakan kapan rencana Hae Sung melamar Ho Kyung. Terlihat Hae Sung enggan untuk segera menikah.

Pulang kerumah, Hae Sung menyalakan komputernya dan melihat-lihat foto2 Jae In. Ia ingat ketika itu Jae In terlihat grogi karena baru pertama kali diwawancara, padahal untuk Hae Sung itu juga adalah wawancara pertamanya.
Hae Sung tersenyum bahagia mengingat hari itu.


Do Hyuk menunggu Jae In pulang dengan sekantung apel ditangannya. Jae In datang mengabaikan Do Hyuk yang ramah menyapa dan malah memarahinya "Kau bisa tenang meninggalkan anak-anak pada orang lain? menelponpun tidak"
Do Hyuk menggoda Jae In dengan mengatakan Jae In pasti kurang tidur karena lingkaran matanya menghitam. Jae In menjawab itu karena ia berusaha memecahkan kasus kakaknya Do Hyuk dan ingin segera menemukannya.
"ayahku meninggal waktu aku kecil, tapi aku masih punya ibu. Sekarang mereka butuh perlindungan, Jung juga terlihat tidak suka bicara" Kata Jae In menekankan perlunya sesegera mungkin menemukan kakaknya Do Hyuk. Do Hyuk mendapatkan ide untuk itu.


Duduk bersama berempat, Do Hyuk, Jae In, Sol dan Jung hanya menatap ngeri pada kue yang disajikan ibunya Jae In. Do Hyuk mulai menjalankan aksinya, ia mengatakan karena baru saja bergabung dengan sebuah perusahaan koran baru, ia akan sering bepergian lama. Bahkan dalam waktu dekat ia berencana pergi 1 bulan dan terpaksa harus menitipkan mereka di rumah Jae In. "kalian sangat senang dengan kue ini bukan?" tanya Do Hyuk sambil mengacungkan kue ditangannya. Sol dan Jung menatap ngeri.
"aku tahu ibu ada dimana" akhirnya Sol buka mulut. menurut Sol ibunya pergi mencari orang yang sudah menipu uangnya.

Mendapat informasi penipu ibunya adalah seorang paman penari Ballroom, Do Hyuk dan Jae In menyamar menjadi penari Ballroom. Mengetahui yang bisa masuk hanya anggota terdaftar, mereka menyamar sebagai Sylvester dan sofia (mencuri lihat dari daftar tag nama). Sepakat untuk tidak saling mengenal, mereka langsung menarik perhatian orang-orang disana (om om ma tante-tante). Melihat Jae In yang sedang "dipaksa" untuk jadi teman dansa om om, do Hyuk langsung menarik Jae In dan mengatakan bahwa mereka datang bersama dan mereka pasangan.

Berdua berdansa dengan mata yang terus mencari, Jae In dan do Hyuk akhirnya menemukan Do Hee. Jae In yang akan menangani Do hee, sementara Do Hyuk yang tahu pasti kakaknya akan kabur, menunggu di pintu keluar.
sesuai dugaan, Do Hee mencoba kabur, tetapi Do Hyuk sudah menunggunya di pintu.

Do Hee ikut pulang kerumah Do Hyuk. Sepanjang perjalanan Jae In terus memberitahu langkah-langkah yang harus Do Hee jalani, termasuk membayar hutang beserta bunganya (tarif resmi) kepada para rentenir.

Anak-anak telah menunggu, melihat ibunya Jung langsung sumringah dan berlari memeluk Do Hee. Namun Sol terlihat tidak antusias, ia mendekati Jae In dan membungkuk berterimakasih (karena dah bawa ibunya pulang? mungkin). Jae In sempat terkejut, tapi kemudian terlihat senyum dibibirnya. (gencatan senjata kah?).


"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Jae In yang dalam perjalanan pulang melihat Do Hyuk mengikutinya dari belakang.
"seorang wanita pulang malam sendirian pasti berbahaya"
"maksudmu aku?" tanya Jae In (haha, Do Hyuk malu sendiri, Jae In kan malah lebih jago berantem daripada Do Hyuk)
"terima kasih, ini ikhlas..... Terima kasih telah menjaga keponakanku dan telah menangkap para lintah darat itu.....terima kasih juga untuk bantuanmu atas kakakku" (uhm, manis banget Do Hyuk ngomongnya).
"aku hanya melakukan yang seharusnya"
Do Hyuk pamit hendak pulang, namun Jae In kembali mengingatkan agar Do Hyuk berhati-hati terhadap Yong Deok."kau tahu dia masuk penjara karena apa? dan apa yang dilakukannya sebelum masuk penjara?" Jae In berusaha meyakinkan Do hyuk
Do Hyuk menjawab bahwa semua adalah masa lalu. 15 tahun dipenjara sudah cukup untuk bisa mengubah seseorang.
Jae In berkata semua demi kakak dan keponakan Do Hyuk, Jae In tidak ingin mereka terlibat hal yang buruk.
Do Hyuk merasa selama ini Jae In salah faham terhadapnya, semua tuduhan seperti merekayasa berita dsb, suatu saat Jae In akan tahu dia orang yang seperti apa.
Tiba-tiba datang He Sung, Do Hyuk yang merasa terganggu sempat menuduhnya penguntit. Tapi melihat wajah Jae In, Do Hyuk mengerti bahwa mereka berkencan, ia pun segera pulang.


Jae In dan Hae Sung berbincang di Taman. Hae sung berkata ia hanya ingin bertemu Jae In saja. Ia lalu juga bilang bahwa ia masih menyimpan foto Jae In pada saat wawancara dulu, sehingga ia sering memikirkan Jae In dan ingin bertemu.
Di tempat tidurnya, Do Hyuk gelisah tidak bisa tidur (ehm, mikirin Jae in pa mikirin kakaknya ya?!)


Esoknya dikantor Yong Deok Ilbo, para staf memberi masukan yang tidak bermutu untuk isi edisi pertama mereka, sementara Do hyuk mengaku belum menyiapkan apapun karena kemarin sibuk mengurusi kakaknya. Yong Deok yang kecewa mengatakan agar mereka pelan-pelan saja, karena gaji baru akan dimulai setelah mereka ada ide untuk artikel edisi perdana, para staf langsung lemas.
Sebelum pergi, Yong Deok menyatakan ketertarikannya atas kasus yang sedang dialami Daese, apalagi sampai ada yang bunuh diri karenanya. ia ingin agar masalah itu di selidiki, dan ia menyerahkan tugasnya kepada Do Hyuk.
Di Daese, Hae Sung juga ingin meliput berita yang sama.


Do Hyuk bersama Joon Hyun, mendatangi kediaman remaja yang protes kemarin. Remaja itu sambil meneteskan air mata berkata ia hanya ingin masyarakat peduli terhadap apa yang terjadi. Ketika si remaja menjawab tidak punya semangat untuk sekolah, Do Hyuk mengingatkan tentang harapan alm ayahnya.
Do Hyuk hendak pulang ketika ia melihat Hae Sung dan rekannya, ia pun menyapanya. Hae Sung akan pergi ketika Do Hyuk tiba-tiba berkata "Koran Daese sangat mengerikan. Sudah ada yang mati pun matanya tidak berkedip"
Hae Sung tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan berlalu.


Di kantor, Ga Yeon dan Joon Hyung tidak melakukan apapun, sementara Do Hyuk terlihat sibuk menyusun berita.
Ga Yeon menganggap Do Hyuk itu hebat, ia sering melakukan wawancara, paman polisi saja (Kyung Man) bersedia menjadi informannya, belum lagi bos klub malam (madam P).

Mendengar ucapan Ga Yeon, Do Hyuk jadi teringat madam p, ia lalu mendatangi Klub, mencarinya. Dari informasi pegawai disana, semenjak dia menghilang dulu belum pernah ada kabar darinya, ponselnya pun tidak pernah aktif lagi.

Mendapatkan alamat dari pegawai tadi, Do Hyuk langsung mendatangi apartemen madam P dengan menyamar sebagai petugas hantaran. Di depan pintu ia melihat koran-koran menumpuk, begitu juga di kotak surat (surat-suratnya langsung diambil Do Hyuk). Dari petugas keamanan, Do Hyuk tahu madam P lama tidak terlihat pulang.
Gerak-gerik Do Hyuk diawasi anak buah Gong Chil sung yang selalu update memberikan laporannya.


Do Hyuk kekantor polisi, menyapa teman-temannya yang menanyakan Do Hyuk yang jarang terlihat. Mereka memberitahu kasus kakaknya dengan lintah darat sudah selesai. Do Hyuk berterima kasih, tapi ia datang karena hal lain, ingin meminta bantuan mencarikan orang yang hilang. Kyung Man dan Joong Il yang melihat Jae In datang berusaha menolak, dan mengatakan pencarian bos Monday Seoul saja belum selesai, lagi pula mestinya Do Hyuk melapor ke bagian orang hilang.

Do Hyuk bilang, orang yang ingin ia cari adalah nyonya P, masa Kyung man tidak mau membantu padahalkan mereka pernah makan bersama. Kyung Man berusaha menutup mulut Do Hyuk, dibelakang Do Hyuk Jae In mendelik. (haha, gini ya kalo ketahuan boss).
Do Hyuk lalu bercerita beberapa saat sebelum madam P menghilang, ia melihat mobil hitam yang selalu terlihat parkir disana (lengkap dengan nomornya lho), dan ia meminta untuk diperbolehkan melihat rekaman CCTV.
"siapa yang memberi ijin melihat CCTV?" sembur Ja In marah.
Do Hyuk lalu mendekati Jae In dan berusaha untuk meminta bantuan. Do Hyuk juga bilang setelah mengunjungi rumah madam P,instingnya mengatakan ada sesuatu yang terjadi.
"insting?" tanya Jae In "mau pakai instingku?" katanya melanjutkan"bukannya orang kaya itu pindah-pindah rumah adalah hal yang biasa?"
"jadi?" tanya Do Hyuk
"tak ada yang tahu dia hilang atau sengaja bersembunyi. kalau kau bukan kerabatnya atau penjaganya, jangan buru-buru unjuk gigi....ku katakan sekali lagi, ini bukan tempat untuk orang yang tidak punya kerjaan" jawab Jae In ketus
"Itu berarti satu wanita bar menghilang, bukan masalah besar? Polisi apaan yang menganggap tidak usah menghiraukan satu orang yang hilang?" suara Do Hyuk meninggi"baiklah, sudahlah kalau memang tidak mau bantu"katanya dengan suara biasa hendak pergi. Belum samapai pintu tiba-tiba Do hyuk berbalik " tapi diantara kita bukannya sangat keterlaluan?"
"diantara kita? memangnya apa hubungan kita?"
apakah perlu aku katakan lagi? pertama bertemu sudah berciuman (CPR dipanggung), dan bukannya semalam kita menari dengan panas?" do Hyuk bergoyang-goyang mempraktekkan tariannya.
Jae In marah besar dan menggebrak mejanya, Do Hyuk langsung kabur, sementara anggota polisi yang lain memandang Jae In dengan beragam arti.


Kesal, do Hyuk akan menampilkan berita "Petugas J dari kepolisian daerah K pilih-pilih kasus" untuk menyindir Jae In.
Man Soo menangani pencarian anjing hilang milik seorang nenek tua, bahkan Joon Hyun menangani kasus sepatu yang keduanya bagian kanan.

"Aku Cho Yong Deok dan para wartawan dari Yongdeok Ilbo, orang yang hidup dalam tuduhan, dan tidak bisa membersihkan fitnahan, kami akan bantu kalian sampai akhir....pasti ada hari dimana tidak ada fitnah dansemua orang tersenyum senang, dengan hati hangat............berperang tanpa senjata di hari tua adalah tidak mudah ....namun tetap berharap bisa mendapat sambutan dari kalian....Direktur Yongdeok Ilbo, Cho Yong Deok "
"Yongdeok Ilbo...SEMANGAT!!!!"


Akhirnya Yong Deok Ilbo terbit juga, reaksi bermacam-macam dari orang-orang yang terkait. Jae In yang marah besar karena dituduh polisi yang pilih-pilih kasus, Chil Sung yang tambah gregetan karena kasus madam P, hingga Hae sung yangmerasa diserang dengan pemberitaan remaja yang berdemo tempo hari.

Dengan langkah pasti dan percaya diri, Do Hyuk membawa setumpuk koran edisi perdana ke Gedung Daese.


source: sebagian foto dari dramabeans

Minggu, 20 Juni 2010

Holy Daddy (Won Tak's Angel) part 3--End

"pengumuman, ada berita baru!" kata seorang murid di kelas Won Tak "Kang Won Tak lah yang menerobos semalam, dan karena itu ia akan dikeluarkan! apa yang harus kita lakukan?" sementara yang lain mulai membicarakannya, Chang Su dengan wajah babak belur berbicara lantang "baguslah kalau dia dikeluarkan, berandalan seperti itu memang seharusnya dari dulu dikeluarkan saja. Tahukah kalian, cepat atau lambat ini semacam loncatan untuk masuk penjara".
"Lee Chang Su!! jaga bicaramu! kepada siapa kamu akan berkata seperti itu? kau pikir hidup Won Tak hina? kamulah orang yang sebenarnya hina! anak sialan!!" Dengan suara bergetar marah, Hyun Jeong mendekati Chang Su dan meninggalkannya yang bengong ( mungkin mikir, kok dia bs tahu ya? apa mungkin udah jadi rahasia umum di kelas Won Tak?).


ibunya Won Tak terpukul dengan kelakuan anaknya dan berusaha bunuh diri dengan melompat dari jembatan diatas rel, namun ditahan oleh Dong Hoon.
"Ini semua kesalahanku, maaf... tolong maafkan aku!....tapi kau tidak boleh mati seperti ini... ia tak punya ayah, dan jikau kau mati seperti ini, bagaimana dengan Won Tak? aku memohon kepadamu! tolong jangan... tolong" Dong Hoon terus menangis memeluk kaki Ibunya Won Tak. Won Tak melihatnya dengan sedih dan menunduk (mungkin dia mulai mikir x ya..).


Karena merasa Seok Jo begitu tertarik dan menyukai kalungnya, Ah Kyung memberikan bahkan memasangkan kalung itu dileher Seok Jo "mengapa kalung itu terlihat bagus padamu?" kata Ah kyung.
"benarkah terlihat bagus padaku?"
"ya, tetapi mengapa aku merasakan ada bau ayahku dari kamu?" tanya ah Kyung, Seok Jo cuma tersenyum mendengarnya.


"hari ini keluarlah untuk mencari Surat Ijin Ujian Masuk akademi" kata Ibu Won Tak saat mereka makan bersama.
"Surat Ijin Ujian! aku tidak tahu ada hal yang seperti itu. Mungkin itu akan jadi ujian murid yang pertama dirumah kita" kata Dong Hoon bersemangat (kita?dah serasa rumah sendiri, emang sih hehe).
Won Tak menoleh pada Dong Hoon.
Dong Hoon lalu menambahkan "ya, kita tak perlu Ijazah kelulusan" bahkan Dong Hoon menganggap dikeluarkan dari SMA itu adalah kelulusan Won Tak yang dipercepat, dan ia mengusulkan untuk merayakannya.


"akhirnya kita pergi kelaut juga seperti yang kau katakan, bagaimana?" tanya Won Tak.
"lebih bagus dari kapal sungai, kan?"jawabnya balik bertanya pada Won Tak, " bagaimana denganmu bu? " Dong Hoon juga bertanya pada ibu Won tak.
Ibu Won Tak tersenyum mulai mengingat kenangan lama, kenangannya bersama ayah Won Tak saat pacaran dulu. (aku gak bisa ngebayangin perasaan ibunya Won tak, apa dia menyesal telah memilih ayah won Tak sebagai suaminya?, tapi kayaknya enggak)


Seok Jo menemani ah Kyung menemui ayahnya di penyimpanan abu(?--lagi-lagi gak tau namanya). ah Kyung "berbicara" pada ayahnya, seolah-olah si ayah ada disitu.
"ingat apa yang aku katakan kepadamu aku akan membawa seseorang ketika aku menemukannya?" ia lalu memangil Seok Jo dan memintanya menyapa ayahnya.
(didalam ia melihat fotonya sendiri -wajahnya si laki2 yang mengaku malaikat-sedang menggendong putrinya---ternyata Ah Kyung anaknya).
"dia tampan kan?" tanya Ah Kyung yang belum tahu
"ya, ayahmu sangat tampan"
"ayah, kau dengar itu? ia juga berpikir kau tampan! jadi beri dia angka, angka yang sangat banyak" senyum Ah Kyung terus mengembang sementara Seok jo tertawa getir (anaknya jatuh cinta ma dia!).


(manis mana ya kue dibandingin senyumnya Min Woo? :P)
di Kapal, Won Tak memberi kejutan kue ulang tahun untuk ibunya. "cobalah, kue ini buatan Won Tak" kata Dong Hoon membuka rahasia
"benarkah?"
"tidak bu, aku hanya memanggang kue, Dong Hoon yang melakukan semuanya. hehe. ayo bu, tiup lilinnya, dan buatlah permohonan"
mereka begitu menikmati malam itu.


"apa kau menikmati perjalanan ini?" tanya si laki-laki dalam wujud aslinya
"iya, tempat yang paling indah yang pernah kudatangi dalam hidupku....terima kasih untuk semuanya tuan titisan malaikat"
"sama-sama.... sebenarnya ada yang belum aku katakan. Aku adalah manusia sepertimu didalam kehidupan sebelumnya. "
"benarkah?"
"aku dapat mengingat kembali ingatan yang telah kulupakan. dan itu semua berkat kamu.. terima kasih" (yang aku masih gak ngerti, kalau memang bukan dari awal, kapan akhirnya dia tahu kalo ah Kyung itu anaknya... kalung prisma? atau saat lihat foto di tempat penyimpanan abunya?)


"mengapa kau terlihat begitu bahagia akan berfoto dengan keluarga temanmu?" tanya won Tak yang heran melihat Dong hoon begitu bersemangat merapihkan penampilannya.
"tentu saja, jika kau hanya berdua ibumu akan terasa hampa! bukan begitu bu?"
"tentu saja, aku merasakan kamu bagian dari hidupku sekarang" jawab Ibu Won Tak bahagia.
"kenapa foto keluarga tiba-tiba?" tanya Won Tak sambil terus berusaha memperbaiki dasinya.
" cepatlah, bergaya didepan kamera!"


"Tuan! ada apa ingin bertemu denganku?"
"aku akan pergi untuk perjalanan bisnis"
perjalanan bisnis? kemana?"
"aku akan dihukum setiap aku berbohong... jadi jangan tanyakan lagi"
"jangan menjawab, kalau memang tidak bisa... kapan kamu akan kembali?"
Seok Jo membuka mulutnya, tapi tak ada kata yang keluar
"baiklah, selamat tinggal tuan malaikat!!" Ah Kyung mengerti Seok Jo tidak bisa mengatakannya
seok Jo pergi tapi kemudian berbalik kembali " Ah Kyung shi, apa kau menyukaiku?"
"iya, sangatt!"


Won Tak akan ikut ujian akademi, dia menunggu bis ditemani Dong hoon
"apa kamu gugup?" tanya Dong Hoon
"tidak sama sekali" padahal Won tak mengepit tangan diantara pahanya.
"aku tahu kamu akan melakukannya dengan benar"
"oke, tapi jangan berharap aku mendapat urutan pertama"
Dong Hoon meminta rokok pada Won Tak dan bertanya soal pemantik berwarna Gold yang dipakai Won Tak "ini? kepunyaan ayahku" ia melihat pemantik itu dengan penuh rasa sayang.
Dong Hoon lalu bercerita ia akan berimigrasi, tapi ia yakin suatu saat mereka akan bertemu.
"ini sangat tiba-tiba. aku akan merindukanmu" kata Won Tak tidak rela.

Sebelum naik bis " Dong Hoon kamu akan kembali bukan?" Dong Hoon hanya mengangguk.
"Dong Hoon, tetap hubungi aku ya?"pinta Won Tak dari dalam bis.
Dong Hoon mengangkat ujung hidung dengan jarinya, Won Tak tersentak kaget (ia ingat ayahnya kayaknya), tapi kemudian ia membalas mengangkat ujung hidungnya juga.
Dong Hoon berlari mengikuti bis Won Tak.... terlihat ayahnya Won Tak yang sebenarnya berlari, ia mulai menangis.


Ibu won Tak sedang membersihkan restorannya saat seseorang mengantarkan hasil foto keluarga di kapal tempo hari.


Dikamarnya, Won Tak mulai rajin belajar, ia tersenyum saat melihat Audio playernya, dan ingat kata-kata Dong Hoon menirukan iklan produknya. Sadar sudah lama player itu tidak pernah dipakainya lagi, ia mulai menghidupkannya dan terkejut dengan suara yang keluar dari sana.
"Won Tak, ini ayahmu. Aku telah tiada ketika kau mendengar ini. Sangat banyak yang ingin kukatakan kepadamu, tapi pada saatnya ingin kukatakan ia tak mau keluar.seperti itulah aku. Aku selalu ingin mengatakan ini kepadamu, tapi tidak pernah bisa... Jalanilah hidupmu dengan menyenangkan, jaga baik-baik, ibumu. Mungkin butuh ratusan kaset untuk mengatakan semua yang kumau. Terakhir aku ingin mengatakan ini.... AKU MENCINTAIMU ANAKKU" rekaman suara ayahnya mulai terdengar menangis, Won tak pun mulai menangis.


Tiba-tiba ia ingat tak ada seorangpun yang pernah menyentuh playernya kecuali Dong Hoon dan waktu di halte Dong Hoon menaikkan ujung hidungnya persis seperti ayahnya, ia langsung mecari album foto tua, dan menemukan foto ayahnya waktu muda.
Foto Wajah Dong Hoon dengan tag nama Kang Youn Gyu (nama ayahnya), disebelahnya seseorang dengan seragam yang sama dengan tag nama Ha Dong Hoon (ayahnya meminjam nama temannya ini).
"ayah.... ayah.... kenapa kau tak bilang bahwa itu adalah kamu? kamu telah kembali, tapi kenapa kau tidak katakan kepadaku? aku menyukaimu sekarang ayah...aku sangat merindukanmu sekarang!!" Won Tak terus menangis memeluk album foto.


Dengan langkah gontai, Won Tak keluar menemui ibunya "Won Tak?" tanya ibunya heran melihat Won Tak
"itu adalah ayah... Dong Hoon adalah ayahku"
"apa maksudmu?"
"ayah ada disini....dia datang.... tapi sekarang sudah pergi"


Ibu setengah berlari mendekati bungkusan foto yang tadi diterimanya, dengan tak sabar langsung dirobeknya dan terkejut melihat gambar disana, bukan Dong Hoon tapi Youn Gyu suaminya.
ibu dan anak berpelukan menangis haru.


Pagi yang cerah, Won Tak memulai usaha bakerynya, dan hari itu adalah hari pembukaan dimana orang-orang mendapat sample gratis. Dua teman Won tak berpartisipasi menjadi badut, sementara Ibu dan Hyun Jeong membantu melayani pengunjung. (ehem, jadi juga ma Hyun Jeong nih). Mereka terlihat begitu bahagia.
Teman sebangku Dong Hoon (yang dulu naksir dong Hoon) datang menggandeng seorang pria. ia menanyakan apa Won Tak masih bertemu dengan dong Hoon
"Dong Hoon? tidak, kenapa?"
"Jika kau bertemu dengannya, bilang padanya untuk melupakanku"
"huh?"
"seperti yang kau lihat, aku sekarang mempunyai pacar yang sempurna"
"oh tidak... iya pasti akan sangat kecewa" Won Tak tertawa membesarkan hati temannya.
(padahal yang naksir habis2an Dong Hoon kan dia, haha kePDan nih cewek)


Masih dengan senyum menghias bibirnya ia menengadah ke langit dan seolah melihat senyum ayahnya disana.

**TAMAT**

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...