Minggu, 17 Februari 2013

[Sinopsis] Hero Episode 7 Part 1


Yay, setelah episode 6 terbit 16 oktober 2010, kini aku punya mood buat nerusin ini sinopsis. A Ijunk, Setelah Sinopsis Arang and The Magistrate ku buat, kini Hero ku lanjutkan demi cintaku padamu, heuheuheu.

Untuk Akang Cha, aku jadi Ai Jung
Untuk A Ijunk, aku jadi Ai Junk
Aduuuh, jadi bingung pilih yang mana????

*^^*Sinopsis Hero episode 7/1*^^*
Catatan: Mulai Episode ini, Nama Direktur Choi kita ganti jadi Presdir Choi… 
Do Hyuk yang shock berjalan dengan pikiran kosong, betapa tidak, info yang baru di dengarnya mengguncang jiwanya. 
Di tengah jalan, Do Hyuk melihat siaran televisi yang menyiarkan pengumuman Presdir Choi yang akan maju jadi kandidat calon presiden. 
Sampai di kantor, Young Deok langsung di kerubungi para karyawan. Mereka kaget mendengar soal kejadian tadi. Yang mereka khawatirkan kini adalah Do Hyuk…. 
Do Hyuk sendiri terlihat di pantai bersama Do Hee dan para keponakannya. Ia dan Do Hee menatap Pantai yang sama tempat mereka menaburkan abu jenazah orangtua mereka bertahun silam. Dua ponakan Do Hyuk mendekat, Jung langsung memeluk Do Hyuk. 
“Kau ... seperti Jung. Kau tidak pernah menjawabku, tak pernah bicara. Kau seperti orang yang marah dengan mulut tertutup rapat ... seperti yang kau lakukan sekarang” Komentar Do Hee pada Do Hyuk.
Do Hyuk hanya tersenyum dengan mulut tetap terbungkam. Dari Obrolan Do Hee, kita tahu betapa susahnya mereka saat orang tua mereka tiba-tiba meninggal. Tak punya uang bahkan untuk meletakkan abu jenazah. Mencegah suasana makin sendu, Do Hee mengajak anak-anak mencari kerang. 
Sebelum mengikuti ibunya, Sol menoleh, “Samchun, apa ada yang sakit?” 
Do Hyuk mengangguk 
“Dimana yang sakit?” Tanya Sol lagi.
Do Hyuk menepuk dada kirinya. 
“Kadang-kadang aku juga merasa sakit di situ, tapi, setelah beberapa saat, ia akan hilang”. Jawab Sol, jelas ia sedang berusaha menghibur pamannya. 
Sol tersenyum, do Hyuk juga.... Ah ini ponakan Do Hyuk emang dewasa sebelum waktunya… 

Setelah Sol juga pergi, Do Hyuk menggenggam erat radio tape yang ia pakai merekam suara presdir tadi. 
Hae Sung mendatangi presdir Choi sekaligus calon mertuanya, melaporkan soal suksesnya acara konferensi pers mereka. Ia juga menanyakan Presdir pergi kemana tadi, mungkinkah Presdir menemui Jo Young Deok? 
“Kau mengurus perusahaan, mengurusku, dan bahkan koran. Itu lebih dari cukup untuk kau khawatirkan. Jangan menambah kekhawatiranmu untuk hal-hal seperti ini” Jawab Presdir Choi tajam. 
Jawaban yang sepertinya tak Hae Sung sukai…. 
Presdirpun menemui Chil Sung. Ia yang sudah mulai terganggu soal Young Deok, makin terganggu lagi saat tahu Do Hyuk itu anak wartawan Jin Yeon. Refleks ia marah pada Chil Sung. Chil Sung berusaha menenangkan presdir, ia yakin kalau takkan ada yang percaya pada keduanya, mereka akan dianggap sebagai orang yang coba merusak reputasi Presdir saja. Tapi tetap saja Presdir khawatir, bagaimana jika mereka tahu soal Nyonya Park? Solusi terakhirpun tercetus, Young Deok harus segera di singkirkan. 
Do Hyuk menemui Young Deok, ia ingin tahu apa yang sebenarnya ayahnya cari tahu soal Presdir Choi. Young Deok pun berkisah, 15 tahun yang lalu, Choi Il Doo berniat mengembangkan suatu daerah. Untuk itu, ia menyuap para pejabat untuk mendapatkan kontraknya. Ia juga menggunakan kekerasan untuk menyingkirkan siapapun yang menentang rencananya itu. Ayah Do Hyuk yang kala itu adalah wartawan Daese Ilbo, menaruh perhatian pada orang-orang yang terlantar akibat proyek itu. Ia kemudian mulai menyelidiki kegiatan illegal Choi Il Doo

Ingat itu, Young Deok jadi khawatir pada keselamatan Do Hyuk. Tapi Do Hyuk mengaku tak takut, ia yakin akan bisa menggulingkan Presdir Choi. 
“Apa yang akan kau dapat dari melakukan hal itu?” Kata-kata Young Deok ini tak urung membuat Do Hyuk berpikir. Young Deok mengingatkan kalau ayah Do Hyuk dulu melakukannya bukan untuk menghancurkan Choi Il Doo. Dia melakukannya karena dia ingin untuk membantu mereka yang tidak berdaya. Dia ingin memberitahu kebenaran pada khalayak dan melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang wartawan. Jadi kalau Do Hyuk memang mau bergerak, dasarnya adalah ‘tanggung jawabnya sebagai seorang wartawan‘, bukanlah balas dendam… 
Pulang kerumahnya, Do Hyuk lalu kembali membuka box peninggalan ayah. Ia membuka kembali kliping berita soal pembangunan itu dan melihat2 catatan2 ayah, ia lalu membubuhi namanya di bawah nama ayah.. 
Esoknya, niatan Do Hyuk untuk menyelidiki kegiatan illegal Presdir Choi mendapat tanggapan yang tak antusias dari teman-temannya. Do Hyuk sadar betul kalau teman-temannya itu pasti merasa takut. 
Jadi walau Young Deok bilang rencana Do Hyuk tak bertentangan dengan misi Yeong Deok Ilbo, Do Hyuk memantapkan hatinya untuk melakukannya sendirian. 

Salah satu teman Do Hyuk memberi masukan, si rekaman di serahkan saja ke Koran/ TV lain. Sayangnya ide itu punya kelemahan, takkan ada yang percaya dengan mereka. Bisa saja malah berbalik mereka yang di tuduh membuat rekaman palsu. melawan DAESE Ilbo dimana Presdirnya adalah calon Presdir, itu sama dengan ‘melanggar batu dengan telur’ = bertempur tanpa harapan. 

Tapi Do Hyuk tetap bersemangat, ia meyakini ‘Tetes air dapat membuat lubang di batu’ = keuletan mengatasi hambatan. “kalian semua mengenal aku. Kata-kata ‘menyerah’ tidak ada dalam kamus Jin Do Hyuk.”

Tanpa dukungan teman2nya, Do Hyuk mulai mendiskusikan langkahnya pada Young Deok. Ia menunjukkan kliping juga notes milik sang ayah. Young Deok kemudian mengeluarkan sebuah notes juga, ia menyerahkannya pada Do Hyuk. Isinya adalah apa-apa yang Gong Chil Sung bisa lakukan atas perintah dari Choi Il Doo. Hal yang sama yang dulu pernah Young Deok lakukan. Tampak rasa bersalah tergambar di wajah Young Deok. Do Hyuk menghiburnya, menurutnya Young Deok telah membayar semua kesalahannya dengan menghabiskan waktu di penjara. 
Sebelum berpisah, Young Deok mengingatkan agar Do Hyuk hati2 pada Chil Sung. 
Hae Sung menemui Chil Sung, ia kaget atas info yang baru di dengarnya, soal ayah Do Hyuk yang meninggal dalam kecelakaan mobil. Ia curiga itu bukan kecelakaan biasa. Chil Sung meyakinkan walau wartawan memang bisa jadi sandungan untuk Presdir Choi, tapi ia meyakinkan kalau Presdir bukanlah tipe orang yang akan membunuh seseorang. Jadi, menurutnya, Jin Do Hyuk dan Jo Young Deok hanya salah paham. 
Untuk mencegah kemungkinan Do Hyuk dan Young Deok mengganggu Presdir, Chil Sung minta Hae Sung mengurusnya. Hae Sung menyanggupi, tapi masih ada pertanyaan di benaknya, siapa Nyonya Park? Dengan tegas Chil Sung minta Hae Sung tak ikut campur, itu bukan masalah besar. Ia minta Hae Sung membuat artikel yang bagus saja untuk membantu Presdir. 

Do Hyuk mulai bergerilya. Ia mendatangi beberapa perusahaan konstruksi untuk menanyakan proses kekalahan mereka dalam tender. Tapi bukan hal yang mudah mengorek keterangan dari mereka. 
Do Hyuk juga mendatangi penduduk yang masih bertahan di tanah yang akan di gusur. Dari seorang anak, Do Hyuk tahu kalau polisi seakan tutup mata akan cara kotor apapun yang di lakukan Grup Daese. Lagipula sebagai Grup yang punya Koran sendiri, mereka selalu menerbitkan berita yang kebalikan dengan kenyataannya. 
Buntu mendekati korban, Do Hyuk pun berniat mendekati pelaku. Saat hari mulai gelap, Do Hyuk menemui kantor Daese Ilbo, sementara ini ia menemui  Hae Sung.
Jelas Hae Sung tak suka melihat Do Hyuk. Do Hyuk pun berbasa-basi memberi ucapan selamat atas pertunangannya, juga selamat atas di angkatnya Hae Sung jadi Direktur Daese Ilbo. 
“Aku di sini karena aku penasaran untuk mengetahui berapa banyak yang kau tahu. Dan jika kau tahu, apa tindakanmu?” Whoa, kata2 yang ambigu… 
“kalau ada yang mau kau katakan, katakanlah. Jangan bermain kata-kata”. Balas Hae Sung.
Do Hyuk menyinggung soal boss Young Deok Ilbo yang baru keluar dari penjara dan membuat boss Daese Ilbo ketar-ketir. Ia kemudian mengingatkan, “Kebenaran tak selalu hanya apa yang kau lihat. Jika kau tahu kebenaran dan masih menyembunyikannya, maka kau tidak layak untuk jadi seorang reporter”. Do Hyuk mengaku memberitahu Hae Sung, karena ia tak mau menusuk dari belakang, karena bagaimanapun mereka adalah teman SMA. 

Sebelum Do Hyuk pergi, Hae Sung memanggilnya. “Sebagai mantan teman sekolah, aku juga memberi saran. Aku tidak tahu apa yang kau mau. Tapi jangan lakukan itu. Kau tidak cocok untuk Presdir kami. Tidak peduli apa yang akan kau lakukan, kau tidak akan pernah mengalahkanku” 
“Apa yang ku inginkan bukanlah mengalahkanmu. Menang atau kalah tidaklah penting”. Sahut Do Hyuk enteng.

Mood Do Hyuk makin down saat keluar gedung Daese berpapasan dengan Presdir Choi, Do Hyuk terlihat jelas menahan gejolak amarahnya, ia berpura-pura tak melihat Presdir Choi. 

Sesampainya di kantornya, Do Hyuk langsung membuka semua artikel soal Presdir Choi lewat internet.
Sementara itu, di kantor polisi, Jae In yakin kalau Nyonya Park memang sengaja di sembunyikan di suatu tempat, bagaimana tidak, setelah beberapa hari mereka menyelidikinya, tak ada titik terang sama sekali.
Kyung Man tertarik pada jaket yang sedang di lipat Jae In, menurutnya jaket itu bagus. Kyung Man pun ingin tahu Jae In mendapatkannya dari mana. Hampir saja Jae In menjawab jaket itu dari Do Hyuk, ia buru2 meralatnya dengan menjawab kalau jaket itu pemberian seseorang. 

Ingat jaket, membuat Jae In ingat malam di mana Do Hyuk menyelimutinya dengan jaket itu. Juga malam di mana Jae In menggendong Do Hyuk yang mabuk. Ingat Do Hyuk, Jae In pun menanyakan Do Hyuk pada Kyung Man. Sayangnya Kyung Man pun belum mendapat kabar apapun dari Do Hyuk.

Do Hyuk masih sibuk di kantornya. Sebuah sms masuk dari Jae In, ‘tebak di mana aku?’. 
Jae In yang khawatir soal Do Hyuk, ternyata sengaja datang ke kantor Yong Deok Ilbo. Ia kecewa saat mendapat balasan sms, ‘Kenapa aku harus peduli?’. Jae In pun bermaksud pulang, tapi terdengar suara gerbang terbuka, Do Hyuk yang keluar dari sana. Dua-duanya sama-sama kaget. 
“A-apa yang kau lakukan di sini? “ Tanya Do Hyuk kaget.
“Ah ... aku ... itu ... Aku kebetulan lewat. …” Jae In mendadak gugup.
“Ah ... kau datang ke sini karena kau merindukanku, kan?” Do Hyuk dengan PDnya nyerocos kalau Jae In pasti kangen sama dirinya. 
Melihat Do Hyuk yang bertingkah seperti biasa, Jae In pun yakin kalau Do Hyuk baik-baik saja. Jadi ia memutuskan pulang, ia menolak tawaran Do Hyuk untuk mengantarnya. 
“Apa kau sudah makan?” Teriak Do Hyuk pada Jae In yang sudah menuntun sepedanya 
“Ya”. 
“Aku belum”. 
Hm, ternyata itu salah satu cara ngajak cewek makan. Cara ini cukup berhasil karena kemudian kita lihat Jae In dan Do Hyuk duduk menunggu pesanan mereka. Do Hyuk sengaja memesankan makanan untuk Jae In, ia tak mau makan sendirian. 
“Tidak ada yang terjadi, kan?” Jae In masih khawatir pada Do Hyuk, sepertinya ia mencium gelagat Do Hyuk sedang menyembunyikan sesuatu.
Bukannya menjawab pertanyaan Jae In, Do Hyuk malah balik bertanya, “Kau tahu Choi Il Doo, kan?”.
Ja In pun menjabarkan seperti kebanyakan orang, Presdir Choi dianggap pengusaha yang mau bekerja untuk kepentingan warga, pengusaha yang telah menghidupkan kembali Perekonomian Korea Selatan, juga tokoh kuat dalam kontrol otoritas.
Do Hyuk bisa menduganya, tak mudah membelokkan stigma citra baik Presdir Choi yang sudah bertahun mengakar. Ia memilih melanjutkan obrolan ke hal pribadi. Soal Hae Sung.

Menjawab pertanyaan dari Do Hyuk, Jae In mengisahkan pertemuan pertamanya dengan Hae Sung. Keduanya bertemu saat hari pertama Jae In gabung di tim investigasi kriminal, sementara Hae Sung mewawancarainya. Yang pasti hari itu Jae In merasa senang, entah karena di wawancara atau karena Hae Sung. Pokoknya, sejak saat itu, Jae In rajin membaca semua artikel Hae Sung. Saat ada artikel yang menurutnya menarik, Jae In akan mengirimi Hae Sung email. Jae In yakin kalau ia adalah fansnya Hae Sung. 
Do Hyuk kesal, menurutnya Jae In masih saja membela Hae Sung. 
“Tak ada gunanya bagiku membencinya, kan?” Seperti kasusnya, Jae In mengingatkan Do Hyuk, “Jangan banyak membenci. Membenci itu jauh lebih menyakitkan daripada dibenci.” 
Kata-kata Do Hyuk semalam terus terngiang di telinga Hae Sung. Suara dering telepon menghentikan lamunannya, telpon mati sebelum sempat di angkat. Hae Sung mendengarkan pesan dari ibunya. Lagi-lagi Hae Sung melewatkan upacara peringatan kematian ayahnya. Ibu juga mengingatkannya untuk ‘menghentikannya sebelum terlambat’. Hm, wondering, apa tujuan yang ingin di capai Hae Sung hingga ibunya sedemikian khawatir?? Balas dendam pada Daese? Nampak wajah Hae Sung mengeras mendengar pesan dari ibunya. 
Tapi wajah itu berubah menjadi penuh senyum saat Ha Kyung, tunangannya, datang. Ha Kyung membawakan makanan, keduanya lalu sarapan bersama. 
Kyung Man akhirnya menceritakan kegalauannya. Galau di mana wanita yang ia suka ternyata ibunya Jae In. Keduanya sama sekali tak mirip, jadi Kyung Man tak pernah menyadarinya.
“Jadi itu sebabnya kau mengikuti Ketua Tim seperti anak anjing?”. Komentar rekan Kyung Man.
Kyung Man tak marah dengan kesimpulan yang di ambil teman2nya, ia justru menambahkan kalau makin lama ia memikirkan Jae In itu akan jadi anaknya, Jae In makin terlihat manis dan cantik. Jadi ia menganggap Do Hyuk tidak cukup baik untuknya. Pembicaraan terhenti saat Jae In masuk…
*^^* 
SMILE!!

3 komentar:

Dewi Cendrillon mengatakan...

Hwaiting unnie^^

irfa mengatakan...

Huah~~~ akhirnya mba ai lanjutin sinopsisnya Hero~~ lanjut terus mba^ suka banget sama dramanya Aa Junki yang satu ini^^

Anonim mengatakan...

Lanjutin sinopnya dong chingu, penasaran banget sama endingnya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...