Sabtu, 16 Oktober 2010

Hero Episode 6





episode sebelumnya:
"kau ingin tahu kenapa orang tuamu meninggal?" kata suara diseberang (Chil Sung)
"siapa kau?"
"apa kau tahu kenapa orang tuamu meninggal? orang tuamu di bunuh. Apa kau tidak ingin tahu yang sebenarnya?" Chil sung terus berusaha membuat Do Hyuk penasaran.
 

Do Hyuk menurunkan HPnya dengan wajah shock
“telpon apa?” tanya young deok
seakan baru sadar dari lamunannya, Do Hyuk pamit untuk pergi sebentar dan mengatakan akan melanjutkan pembicaraan lagi nanti, kemudian bergegas pergi.

Yong Deok memegang dan menatap dasi pemberian Do Hyuk, ia menghela nafas, akhirnya tiba waktunya untuk menceritakan semua kebenaran pada Do Hyuk.

Setelah sekian lama gelisah menunggu dipinggir sungai, Do Hyuk, melihat sebuah mobil hitam datang. Chil Sung keluar dari mobil itu dan menghampirinya.
Do Hyuk langsung bertanya “siapa kau?”
“aku ini siapa itu sama sekali tidak penting, yang membunuh orang tuamu adalah..” belum sempat Chil Sung menyelesaikan pembicaraanya Do Hyuk dengan marah mencengkeram kerah jasnya
 
"aku tanya kau ini siapa?“ Do Hyuk setengah berteriak tidak sabar.
pengawal Chil sung sigap hendak mendekati tapi urung karena melihat Chil Sung memberi tanda agar ia tetap di tempatnya.
“aku pernah menjadi tangan kiri (kenapa translatenya kiri? kalo orang penting kan kanan?)” di partai kampak ganda Jo yong Deok. Apapun yang diperintahkan oleh Young Deok, akan ku lakukan”
“Young Deok?” Tanya Do Hyuk mengulangi tak percaya pada pendengarannya
“benar, orang yang membunuh orang tuamu”
“apa?” Tanya Do Hyuk masih tak percaya.

di kantor koran Yongdeok (selanjutnya aku singkat aja jadi YDI=Yongdeok Ilbo), Yong Deok menatap cermin, ia sedang mencoba dasi pemberian Do Hyuk dengan senyum tersungging

“ya, Yong Deok lah yang membunuh orang tuamu” Chil Sung mengulang kata-katanya meyakinkan Do Hyuk
“tidak mungkin, orangtuaku meninggal karena kecelakaan. aku melihatnya sendiri” sanggah Do Hyuk masih dengan leher jas Chil Sung di cengkramannya
Chil Sung lalu menceritakan kebohongan soal skenario pelenyapan ayah Do Hyuk karena mengetahui rahasia rencana jahat Yong Deok.
Do Hyuk gontai, ia melepaskan cengkramannya dengan lunglai
“kau bukan saja tidak tahu ia pembunuh ayahmu, tapi kau juga berhasil diperalatnya, aku tidak tahan melihatnya” Chil Sung meninggalkan Do Hyuk yang masih linglung. Di dalam mobilnya, ia tersenyum karena rencananya berhasil
sementara air mata mulai mengalir di pipi Do Hyuk
Dikantor YDI, Yong Deok mendatangi ruangan kerja karyawannya yang terlihat sibuk. Jun Hyung melihat dasi Yong Deok dan memujinya “hari ini dasi direktur sangat bagus”
Yong Deok tersenyum (seperti seorang ayah yang bangga) menyentuh dasi barunya “ ini hadiah yang aku dapatkan”
 
Teman-teman Do hyuk tersadar sesuatu mereka belum memberikan hadiah dan mereka mulai sibuk berdalih belum memberikan hadiah.
Do Hyuk tiba-tiba masuk, dengan raut muka yang kacau, ia terdiam didepan pintu dan matanya menatap ke bawah
“kau dari mana? ada yang ingin segera ku katakan padamu” kata Yong Deok ramah
“bicara apa?” Tanya Do Hyuk datar masih menatap ke bawah, lalu ia mulai melihat kearah Yong Deok “apa yang mau kau katakan padaku?’ nadanya mulai meninggi
“Do Hyuk?” Man Soo mengingatkan
Do Hyuk terus menatap tajam Yong Deok dan mengulang lagi pertanyaannya “apa sebenarnya yang mau kau bicarakan padaku?”
para karyawan mulai kaget dengan sikap Do Hyuk ” Do Hyuk, kau kenapa?’
“kau sebenarnya siapa?” Tanya Do hyuk, sambil marah dan berusaha mendekat namun langsung di tahan Sang Chul “aku mau membunuhmu” teriak Do Hyuk berontak, kali ini Man Soo, Eun Shil dan Jun Hyung ikut menahannya sambil terus berusaha menenangkannya
Do Hyuk teregah-engah berusaha sekuat tenaga untuk mendekati Yong Deok dan (mungkin) berusaha menghajarnya ”dasar pembunuh!” teriaknya frustasi, ia tidak bisa bergerak karena ditahan 4 orang.
Matanya masih tidak lepas dari Yong Deok, sementara Yong Deok tetap berdiri di tempatnya, tanpa berusaha menghindar, dan ia yang masih belum mengerti juga terus membalas tatapan Do Hyuk berusaha mencari tahu “apa? apa maksudmu?”
“dasar pembunuh! seorang pembunuh berani buka surat kabar apa? sudah semuanya! semua sudah berakhir!!”, Do Hyuk terus mengamuk mencoba meyapu semua yang tergeletak diatas meja di dekatnya “lepaskan aku!” nada suara Do Hyuk mulai mereda
“aku tidak tahu, dan masih menganggap kau seperti ayahku…. aku benar-benar berfikir begitu!” teriaknya terluka, melepaskan diri dari cengkraman teman-temannya lalu melangkah keluar.

Jae In mendatangi jaksa yang telah menghentikan kasusnya (ternyata orang yang ditemui Hae Sung di episode 5 itu adalah Jaksa). Jaksa tersebut berdalih bahwa kasus yang sedang diperiksa Jae In itu tidak layak, karena tidak cukup bukti, terlebih lagi yang melapor bukan dari pihak keluarga/kerabat korban.
 
Jae In terus mendebat, tetapi kemudian Kyung Man menyentuh Jae In agar tenang, lalu berkata ”tuan, sampai saat ini orang itu (pria yang terlihat diCCTV ) masih buron. Tapi jika cukup bukti untuk memastikan siapa dia, maka ijin akan turun?” (pintar juga Kyung Man).
jaksa terlihat bingung mencari alasan, tapi sepertinya dia tidak menemukannya dan terpaksa menyetujuinya.
Setelah mengucapkan terima kasih, Kyung Man pamit dan menggamit Jae In untuk segera pergi

Sepeninggal Jae In dan Kyung Man, jaksa segera menelpon Hae Sung dan mengatakan ia sudah berusaha sebisanya menghentikan penyelidikan, untuk selebihnya ia tidak yakin bisa membantu lagi. Hae Sung mengerti dan menutup telponnya. Ia sedang dalam acara makan malam bersama keluarga Choi.
Ketika berjalan hendak pulang, Direktur Choi bertanya “apa yang memusingkanmu?”
Hae Sung menjelaskan bahwa polisi mulai mencari wanita yang hilang itu, sementara koran YD juga telah menulis berita tentangnya, dan bahwa Chil Sung telah memintanya untuk membantu agar penyelidikan di hentikan. Hae Sung merasa ia dapat "membantu" maksimal, andai saja ia tahu soal hubungan direktur Choi dengan masalah tersebut.
Direktur Choi mengelak dengan mengatakan hal terbaik yang Hae Sung dapat lakukan hanyalah membantu Chil sung menanganinya.

Yong Deok tahu, orang yang tahu banyak soal kejadian orangtua Do Hyuk dan memutarbalikkan fakta pada Do Hyuk adalah Chil sung. Ia lalu menemuinya dipinggir sungai.
Chil Sung tertawa “aku sangat menantikan menolong pembunuh orang tuanya”
“Do Hyuk sangat terluka. Apa yang sebenarnya kau lakukan? apa maksudnya ia mengatakan aku pembunuh? siapa? siapa yang menyelesaikan tugasku (membunuh ayah Do Hyuk)? kau?”Tanya Yong Deok
“untuk apa mencari tahunya sekatang?” Chil Sung bertanya balik.
“kau jawab aku saja” kata Yong Deok datar. Begitu mendengar Chil Sung mengakuinya, dengan sekali gerakan, tinju Yong Deok mendarat di muka Chil sung.
Chil Sung terhuyung terjatuh, pengawalnya berusaha menolong, tapi urung karena takut melihat Sang Chul .
Chil sung segera bangun, sambil menyeka darah di sudut bibirnya, ia mendekati Yong Deok lalu tertawa, "Aku jadi terharu ingin meneteskan air mata. Seorang ayah dan anak kandungnyapun tidak akan saling mencintai sedalam ini “
Yong Deok mengancam, mengatakan bila Chil Sung melakukan sesuatu yang kotor lagi, maka Yong Deok akan langsung mencari Choi Il Do.
"Direktur bukan lawan yang sepadan denganmu" Chil Sung mengingatkan
Yong Deok mengulangi “kau yang membunuh, dan yang menyuruhmu adalah dia”
Chil Sung tertawa “kau masih tidak mengerti mengapa kau dipenjara selam 15 tahun”. (Lima belas tahun adalah kadaluwarsa untuk pembunuhan di Korea). Sekarang, baik Chil Sung atau direktur Choi tidak dapat dituntut lagi dijalur hukum. Chil Sung terus tertawa, dan Yong deok berusaha menghentikan tawanya dengan tinjunya, tapi Chil Sung terus tertawa. Sepeninggal YongDeok, tawa Chil Sung mulai berhenti,

Didepan cafenya, ibu Jae In terlihat menunggu seseorang “hari ini tidak datang”
“siapa?” Tanya Jae In dari balik punggung mengagetkan ibunya
Ibu Jae In kalu bercerita ia sudah menyiapkan teh untuk tamu yang selalu mengunjunginya pada malam sebelum tutup kafe,
Jae In dan Ibunya hendak masuk kedalam, saat mereka melihat Do Hyuk datang
“Do Hyuk?” seru Jae In
Ibu Jae In menghidangkan minum untuk Jae In dan Do Hyuk, Ia sedikit menanyakan kabar soal keponakan Do Hyuk dan pamit untuk pulang duluan. Do Hyuk butuh seseorang untuk teman curhatnya.
Ibu Jae In beranjak pulang, ia ingin memberikan keleluasaan pada Do Hyuk dan anaknya untuk berbicara berdua. Di depan pintu masuk ia dikagetkan oleh sapaan polisi Kyung Man yang ternyata sudah menunggunya.
“sudah mau pulang?”
Ibu Jae In menanyakan soal malam sebelumnya waktu Kyung Man pulang tanpa pamit, padahal ia ingin mengenalkannya pada putrinya.
“tiba-tiba ada masalah” dalih Kyung Man
“mau masuk untuk menyapa putriku?” Tanya ibu Jae In lagi “ ia juga bekerja sebagai polisi di kantor polisi …..sekarang ia ada di dalam”
Kyung man mengintip kedalam, dan melihat Jae In dan Do Hyuk duduk berhadap-hadapan saling diam “aku rasa tidak usah, lagian mereka sedang pacaran, lain kali saja.” Kyung Man berusaha terus mengelak
“benarkah? aku juga pergi dengan berpura-pura ada masalah penting “ Kata Ibu jae In
lalu Kyung man menawarkan mengantar pulang, Ibu Jae In sempat menolak, namun akhirnya ia menurut..

Di dalam cafe Ibu Jae In, Jae In menunggu Do Hyuk bercerita, namun Do Hyuk hanya diam.
“tidak mau cerita?” Tanya Jae In memecah keheningan “ada apa? ini tidak seperti dirimu”
Do Hyuk lalu bertanya soal apakah kasus kecelakaan yang terjadi 15 tahun silam masih bisa diperiksa
“15 tahun? laporan kepolisian 5 tahun, dan rumah sakit 10 tahun” jawab Jae In “kalau 15 tahun sudah sulit. apakah ini mengenai orang tuamu?” Tanya Jae In dengan hati-hati
Do Hyuk mengangguk, ia mengatakan bahwa kecelakaan itu disengaja, dan ia tahu siapa pembunuhnya.
Jae In mengatakan bahwa hukuman untuk pembunuh adalah 15 tahun penjara
“walaupun bunuh 2 orang?”

Karena mereka berdua belum makan, mereka melanjutkan percakapan mereka di sebuah kedai. Melihat Do Hyuk terus minum tanpa menyentuh makanannya, Jae In menyuruh Do Hyuk untuk makan bahkan membelah sumpit tempelnya (tau sumpit sekali pake yang kalo masih barunya dempet kan?)
“kau tahu siapa pembunuh orang tuamu? Tanya Jae in, melihat Do Hyuk mengangguk masih dengan tatapan ke bawah, Jae In melanjutkan “aku juga tahu” Do Hyuk mulai mengangkat wajahnya “maksudku aku juga tahu siapa yang telah membunuh ayahku” Jae In lalu menceritakan perihal ayahnya, Saat itu ayahnya mengejar pencuri yang lalu menusukkan pisau ke perut ayahnya. Ayahnya tidak menggubris lukanya, ia tetap mengejar dan menangkap pencuri itu.
"bahaya sekali, lalu kenapa kau jadi polisi? seharusnya jangan” kata Do Hyuk
"Karena orang yang melakukan kesalahan harus dihukum. Lagi pula aku ingin mewujudkan impian ayahku. Aku ingin menyelesaikan pekerjaan yang belum diselesaikan ayahku. Kalau hari itu ayahku tidak menangkap pencuri itu, mungkin suatu saat dia akan dibunuh orang."
"mana ada cara berfikir seperti itu?” ledek Do Hyuk sambil tersenyum
Jae In ikut tersenyum “kau sudah bisa tersenyum”
Do Hyuk lalu berterima kasih karena Jae In mau berbagi cerita soal ayahnya.
‘ini pertama kalinya aku menghibur orang, ternyata tidak mudah. Apa orang itu harus sama-sama terluka agar bisa saling menghibur?” Jae In menghela nafas dan meminum minumannya seteguk “ aku tidak tahu, ternyata kisah ayahku bisa berguna di saat ini”

Hae Sung mengantarkan Ho Kyung pulang, sebelum turun mereka sempat berbincang sedikit. Ho Kyung berkata ia ingin tinggal bersama Hae Sung setelah mereka bertunangan nanti tidak usah menunggu hingga pernikahan. Hae Sung menolaknya menurutnya lebih baik Ho kyung menikmati saat bersama orangtuanya saat ini , karena kalau sudah menikah ia harus berpisah dengan orang tuanya. Hae Sung lalu bertanya mengapa Ho Kyung terburu-buru dengan pernikahan mereka. Ho Kyung menjawab "Karena aku sangat mencintaimu." Hae Sung tersenyum getir. (kayaknya si Hae Sung ini emang gak beneran suka ma Ho Kyung deh).

Jae In dan Do Hyuk pulang bersama dalam keadaan mabuk. Jae In lah yang pertama sampai didepan rumahnya. Do hyuk mengklaim bahwa ia telah mengantar Jae In pulang. Jae In tidak terima, karena memang rumah mereka searah. “lucu sekali. aku pulang sendiri” Dan seperti biasa, lagi-lagi mereka mulai bersilat lidah. “kenapa kau tidak sopan terhadap Oppa?” Tanya Do Hyuk.
“Oppa?!"
"Ya, Oppa" Do Hyuk,
"Oppa?!” Jae In mengerenyit keheranan “ Oh, kau mau mendengarku memanggilmu Oppa? Oppa"
Do Hyuk tersenyum senang "Ya, itu kedengarannya bagus! Panggil sekali lagi, Oppa!”"
Jae In, "Oppa? Oppa kepalamu! Kau itu seumuran dengan aku!"
Kenapa kau bisa tahu? kau memeriksaku ya? polisi mana boleh begitu” seru Do hyuk
Jae in lalu mengingatkan Do Hyuk yang teman sekelas Hae Sung. “ooh, polisi yang selingkuh itu kan?” Do Hyuk tertawa senang tapi Jae in menggerutu itu bukan hal yang lucu,
Do Hyuk meminta maaf sambil menyanyi dan menari-nari lalu ia menabrak Jae In, keduanya terjerembab jatuh dan sempat tertawa-tawa. Jae In langsung duduk dan heran melihat Do Hyuk diam saja, ternyata Do Hyuk malah tertidur. Jae In membangunkan Do Hyuk dan berusaha mendudukkannya, tapi kepala Do Hyuk malah terkulai ke bahunya.
 
Jae In sepertinya merasakan kepedihan Do hyuk, ia menepuk-nepuk punggung Do Hyuk dan sedikit membelai rambutnya. Sementara tanpa setahunya, Hae Sung melihat semua kejadian dari dalam mobil di seberang jalan. (Mungkin Hae Sung datang untuk memberi tahu soal rencana pertunangannya?)

Jae In menggendong Do Hyuk pulang, Do Hee yang membukakan pintu terkejut. Anak-anak belum tidur, Sol bertanya “Kau..menggendong pamanku?”
“kau sudah melihatnya kan?” jawab Jae In, ia juga meminta Do Hee agar jangan diam saja dan membantunya (ckckck, Jae In ini bener2 ce strong!)
 
Sol menutup mata adiknya dan berkata, "Jung, kau jangan meniru yang seperti ini!"
lih-alih membantu Jae In, Do Hyuk malah menyuruh Sol mengambilkan kameranya “dari foto ini aku bisa dapat 10 ribu”
Jae In mulai mengeluh kelelahan, Do hee lalu menyuruh Jae In menurunkan Do Hyuk “turunkan saja, lagipula dia kan bukan barang berharga”
Do Hyukpun di turunkan dengan pakgedebug (haha, nyari padanan katanya dlm bahasa Indonesia susah euy)

Selama Sol mengambilkan air gula untuk membantu menyadarkan Do Hyuk, Jae In bertanya kepa Do Hee apakah Do Hee mengetahui masalah Do hyuk (karena ini kan soal orang tua Do Hee dan Do Hyuk) tapi melihat Do Hee sepertinya tidak tahu apa-apa, Jae In urung bertanya dan pamit.
“kau berpacaran dengan Do Hyuk kami?” Tanya Do hee menghentikan langkah Jae In
“apa?”
“bukankah kau sudah punya pacar?” belum sempat Kae In menjawan, Do Hee menambahkan bahwa Do Hyuk belum pernah berpacaran. Dia terlihat kuat diluar, tapi sebenarnya hatinya masih seperti anak kecil
“apa?” Jae In tidak mengerti arah pembicaraan Do Hee
“jangan melukainya…….. maksudku kau jangan selingkuh” kata Do Hee yang di jawabsenyum tipis Jae In sebelum kembali pamit dan keluar.

Do hee dan Sol menyeret Do hyuk ke kamarnya, Do Hee menyelimuti Do Hyuk dan berdiri hendak keluar kamar, tapi ia kemudian mendengar isakan Do Hyuk.
Do Hee kembali duduk dan mengusap pipi Do Hyuk yang basah oleh air mata. Do Hee sebenarnya bingung Do Hyuk menangis, tapi ia membiarkan tangannya digenggam Do Hyuk sementara tangan satunya mengusap-usap punggung Do Hyuk untuk menenangkannya sampai Do Hyuk tertidur.
(aku ikut kasihan denger tangisannya Do Hyuk).

Tengah malam Sang Chul terbangun, ia kaget melihat Yong Deok masih berdiri menatap keluar jendela. “kau masih belum tidur Hyungnim?” Sang Chul masuk kekamar Yong Deok
“Takdir itu memang ajaib." Jawab Yong Deok masih membelakangi sang Chul
Sang Chul termenung mencoba memahami kata-kata Yong Deok, akhirnya ia menyadari Yong Deok tengah memikirkan Do Hyuk, “Ya, takdir memang ajaib, tapi kau tidak bersalah. Kau harus cepat menjelaskan padanya”.
Yong Deok agak sangsi kalau Do Hyuk akan mempercayainya. "Kita harus biarkan dia berpikir dulu, bagaimanapun aku akan menunggunya”. Yong Deok lalu membicarakan Choi Il Do yang sudah membuat rencana yang sempurna memenjarakannya selama 15 th, tanpa ia tahu sebabnya.

Esoknya, persiapan untuk kampanye direktur Choi di mulai, poster-poster dan spanduk mulai dipasang didalam sebuah gedung.
Di ruangannya, Choi Il Do juga tengah mempersiapkan diri. Hae Sung menyerahkan naskah pidata yang akan dibaca nanti.
Ho kyung memuji ayahnya yang pintar memilih staf hebat (Hae Sung), lalu pamit untuk memilih pakaian yang akan ia kenakan saat bertemu ibu Hae sung nanti.
“kau bermaksud bagaimana?” tanya direktur Choi saat Ha Kyung sudah keluar
Hae Su tidak mengerti, direktur Choi melanjutkan “ orang-orang tidak ada yang berani menggosip kau hanya bantu-bantu saja, aku sekarang mulai sibuk dengan pekerjaan lain"
“walau anda tak ada, perusahaan tak akan ada masalah”
direktur Choi lalu meminta Hae Sung membantunya dalam pemilu, dan mengingatkan untuk langsung menentukan tanggal pertunangannya nanti saat pertemuan dengan ibu Hae sung. Melihat Hae Sung hanya terdiam, Direktur Choi menambahkan sambil tersenyum “ini ancaman!”

Hae Sung mendandani ibunya agar terlihat sepadan dengan keluarga Choi dengan membawanya ke butik, melihat harga pakaian disana yang sangat mahal ibu Hae Sung kaget dan mencoba pergi tanpa sepengatahuan Haesung. Hae Sung yang melihat segera memanggil sang ibu.

Setibanya di restoran tempat pertemuan mereka, Hae Sung kembali mengingatkan ibunya agar memperlama waktu pernikahan (emang kayaknya si Hae Sung gak berniat nikahin Ha Kyung).
Ia juga mengingatkan ibunya agar tidak terlalu banyak berbicara, dan banyak tersenyum saja. (iiih, Hae Sung ni ma ibunya kok gitu amat yak?!)

saat pertemuan dua keluarga, Ibu Hae sung sangat canggung, ia juga shock saat tahu ternyata calon besannya adalah Choi Il Do, direktur Daese.
Ibunya menatap Hae sung “kenapa kau?...”
Choi yang menyangka calon besannya hanya kaget karena ia orang penting dan kaya, hanya menegur Hae sung yang tidak memberi info yang cukup kepada ibunya.
Ibu Hae Sung menatap orang-orang yang duduk di depannya, ia gemetar dan berusaha minum, namun gelasnya jatuh dan pecah.

Sesampainya di apartemen Hae sung, ibu Hae Sung langsung meminum air segelas penuh untuk menenangkan dirinya. Ia lalu menghampiri Hae sung
“aku akan kembali lagi ke kantor, mungkin sampai malam. Kau pulang sesuai jadwal bus saja” (bener-bener ada anak yang kayak gini, ckckck)
“apa yang kau lakukan?”
“pakai ini untuk mempersiapkan satu set pakaian pernikahan Korea” kata Hae Sung memberikan kartu kreditnya
“ibu tanya apa yang kau lakukan?” Tanya ibu lagi dengan suara meninggi “kau masih mau balas dendam? waktu sekolah kau belajar begitu giat dan akhirnya kau bisa bekerja di Daese, ibu hanya berharap kau bisa bekerja dan hidup baik. tapi kini kau akan bertunangan dengan putri direktur Daese?”
“tidak usah merasa merasa heran” Hae sung sepertinya berusaha menyangkal
tapi mengapa kau ingin menunda pernikahannya?” melihat Hae sung tidak mau menjawab, tapi ibu sepertinya sudah tahu alasan semuanya, yaitu balas dendam
“kau kira ini yang diinginkan ayahmu? apa kau tahu yang diinginkan ayahmu? sama seperti orangtua lainnya, Ayahmu ingin kau bahagia….. hae Sung - ah”
"Aku akan bahagia” Hae Sung menatap ibunya, "Aku akan bahagia, tapi bukan sekarang."

Hari berganti, Sol ke kamar pamannya berpamitan hendak berangkat sekolah. Pamannya yang masih meringkuk diantara botol-botol soju kosong, tumpukan piagam ayahnya, dan koran Yongdeok, hanya mengangkat tangan dan melambaikannya tanpa menengok sedikitpun.
Sol pergi, Do Hee masuk membawa baki makanan dan membangunkan Do Hyuk. Walau Do hyuk menolak, Do Hyuk tetap membujuknya untuk makan. Do Hee yang tidak mengerti masalah Do Hyuk lalu menebak masalah Do Hyuk itu karena wanita yang sudah punya kekasih (Jae In).
“Jika kau mencintai wanita yang sudah punya kekasih, maka kau akan terluka sendiri” Do Hee terus berbicara untuk menenangkan Do Hyuk.
“benar, kakak sudah punya banyak pengalaman. Jangan buat keponakan lagi, dua sudah cukup” (bwahaha, gak enak banget ujungnya), Do Hee mulai kesal dan meninggalkan kamar Do Hyuk.
Do Hyuk lalu bangun dan meminum air yang ada di baki makanan, saat menaruh gelasnya ia melihat Koran.
Do Hyuk kaget membaca berita di koran soal pertunangan Hae Sung dan Ho Kyung, ia mencemaskan Jae In. (keren euy, make up + ekspresinya nyerminin orang depresi abis.....tapi kayaknya A Ijunk gak pantes berkumisssss...xixixi)

Ibunya Jae In juga sedang membaca koran yang sama, ia menatap Jae In tidak percaya, tapi melihat reaksi Jae In yang tenang-tenang saja Ibu Jae In bisa menebak kalau anaknya sudah tahu, tapi ia tetap merasa heran bagaimana bisa Jae In berkencan dengan pria yang sudah punya pacar.
“waktu itu belum tahu, sekarang sudah putus” Jae In menjelaskan.
Ibu jae In benar-benar kesal kepada Hae Sung, tapi Jae In membujuk ibunya untuk melupakan soal Hae sung dan segera makan. Sementara Jae In sendiri makan tanpa selera.

Hae Sung merapihkan pakaiannya, ia menatap wajahnya sendiri di cermin dan mendesah resah. Tapi ia langsung terseyum saat Ha Kyung masuk keruangannya. (dua muka banget nih Hae Sung)

Sementara Jae In menyibukkan diri dengan pekerjaan, acara pertunangan Hae Sung berlangsung dengan mewah. Semua orang di acara itu terlihat senang, kecuali Hae Sung dan ibunya.
 
Di kantornya Jae In mendesah menatap kertas-kertas dihadapannya, tapi tiba-tiba polisi Kyung Man masuk kemudian mengeluh tentang sulitnya pencarian anak nyonya Park. Melihat Jae In resah, Kyung Man mencoba mengajak Jae In minum bersama
“kau ada maksud?” Tanya Jae In curiga, Ia lalu pulang duluan meninggalkan Kyung Man yang kecewa. Tidak bisa mengajak Jae In, Kyung Man mencoba mengajak teman-temannya, tapi mereka semua langsung berpura-pura sibuk

Jae In sedang melangkah keluar kantornya saat dilihatnya ada pesan masuk, dari Do Hyuk “ingin minum?”
Jae In hendak membalas saat didengarnya suara Do Hyuk “hemat uangmu… hemat biaya smsnya dan jawab pesanku”
Do Hyuk mendatangi Jae In, sepertinya ia tahu saat ini pasti perasaan Jae In sedang gundah dan butuh teman untuk mengobrol karena rencana pertunangan Hae sung. Walau bagaimanapun Hae sung adalah lelaki yang disukai Jae In. (Do Hyuk bela-belain ngelupain masalahnya sendiri demi Jae in, liat aja tampang kusutnya berubah ceria)
“jangan minum, ayo kita lakukan hal lain yang lebih berguna” jawab Jae In

Dan hal yang berguna menurut Jae In itu adalah bermain!
 
permainan pertama, main baseball dalam ruangan, Jae In begitu jago sampai Do Hyuk bertepuk tangan kagum. Sebaliknya Jae In menggerutu “kenapa bisa begitu bodoh” dan terbahak-bahak geli karena Do Hyuk benar-benar parah mainnya. Lalu lanjut ke game area, main basket, kali ini mereka bekerja sama dengan baik.
 
Setelah itu menembak, tentu saja Jae In lebih hebat. Dan terakhir game dance, dimana Jae In yang menginjak panah-panah di kakinya dengan kaku malah terpukau melihat keluwesan Do Hyuk menginjak-injak panah yang menyala sambil menari. (orang itu memang ada kekurangan dan kelebihan masing-masing ya gak?!)

Pulang dari bermain, mereka makan. Jae in langsung menghabiskan segelas besar bir dalam sekali teguk.
“bukankah kau tidak mau minum alkohol?” Tanya Do Hyuk terheran-heran
“bir itu bukan alkohol” jawab jae In membela diri
“ya minum saja yang banyak, kali ini aku yang akan menggendongmu”
Mereka mulai santai mengobrol, Jae in menanyakan apa saja yang dilakukan Do hyuk beberapa hari ini (setelah malam mengantar Do Hyuk yang mabuk berat, Jae In baru ketemu ma Do Hyuk lagi)
“kau menghawatirkanku? goda Do Hyuk
“khawatir apa? apa mungkin ada kasus pembunuhan, aku sangat menantikannya. Mau sampai kapan begini terus?”
“apa?”
“mencari anak nyonya P, dan mencari tahu siapa yang menculik nyonya P. “ mereka berdua saling diam
Jae In lalu menyemangati Do Hyuk, kalaupun masa untuk menghukum seorang dari kasus 15 tahun lalu sudah lewat, tapi Do Hyuk bisa melakukannya lewat berita (hukum moral) Do Hyuk kan wartawan.
“dia orang yang sudah menerima hukuman dan kehilangan banyak hal.” jawab Do Hyuk tidak bersemangat
“orang yang kau kenal?” mendapat jawaban ya, jae in melanjutkan “kalau begitu, maafkan dia. Walau butuh waktu lama dan pasti sangat sulit, tapi yang menderita itu kau, bukan dia”
Do Hyuk berpikir sejenak, kemudian berkata pada Jae In, "Apa kau tahu? Kang Hae Sung itu sama sekali tidak pantas untukmu”

Di rumah, Do Hyuk duduk dimejanya memikirkan nasehat Jae In. Ia lalu melihat Koran YD diantara tumpukan bukunya dan mengamati gambar di halaman utama (foto seluruh staf YDI). Ingatannya kembali melayang ke masa ia baru mengenal Yong Deok mulai dari pertama keluar penjara sampai nasehat agar ia menjadi wartawan yang hebat seperti ayahnya.

Beberapa hari kemudian, di ruangannya, Yong deok membaca berita mengenai pencalonan Choi Il Doo menjadi presiden, ia lalu meremas koran itu. Semua staf YDI juga membaca soal pencalonan diri Choi sebagai presiden, dan mulai membicarakan apakah akan datang atau tidak dalam konferensi persnya, tapi akhirnya disepakati tidak karena yakin pembaca mereka tidak akan tertarik.
Pembicaraan mulai menyingung Do Hyuk, seperti kapan dia akan masuk dan direktur Yong deok membunuh siapa.
“Mantan kepala mafia yang terkenal di seluruh negeri pasti pernah membunuh orang “ kata Ga Yeon ”tapi kalau sikapnya seperti itu, seharusnya yang di bunuh itu adalah orang yang Do Hyuk kenal” lanjutnya lagi

Yong Deok datang dan menyapa stafnya, ia melihat kursi Do Hyuk yang masih saja kosong. Tiba-tiba pintu terbuka dan Do Hee masuk bersama Jung, Do hee lalu menyapa semua orang.
Do Hee lalu berbicara berdua dengan Yong deok, sementara Jung bermain pesawat-pesawatan mengitari ruangan.
Do Hee ingin tahu apa ada sesuatu terjadi di kantor, ia mengaku sangat penasaran dan khawatir dengan keadaan Do Hyuk. Yong Deok menanyakan kabar Do Hyuk dan dijawab Do hee bahwa Do Hyuk tidak mengatakan apapun, ia hanya minum-minum lalu tidur.
“Setelah kehilangan orang tua, kalian hidup seperti apa ? aku boleh tahu ?” Tanya Yong deok
Do Hee menerawang mengingat masa lalu, di RS, Do hyuk kecil hanya menangis memeluk Do Hee “ia seperti Jung, ada beberapa saat dia tidak bisa bicara”
“wartawan Jin Do Hyuk?” kayaknya Yong Deok heran, secara Do Hyuk itu rame, banyak omong.
Menurut Do Hee hal yang wajar, karena Do Hyuk melihat sendiri semua kejadian dan menjadi ketakutan hingga tak bisa bicara.
Lalu Yong deok menanyakan soal Jung, Do Hee menceritakan bahwa Jung tidak pernah bicara sejak ia melihat ibunya dipukul oleh ayahnya, sepertinya karena shock.
Do Hee menyeka ujung matanya, ia bercerita hanya ingin kehidupan yang lebih baik, sayangnya ia tidak punya keahlian apapun. Sementara Do Hyuk harus bekerja rangkap agar mereka bisa bertahan.

Di kamar Do Hyuk, Jung mencoba membangunkan pamannya, sementara dari luar terdengar suara Do Hee “dipanggil-panggil juga tidak mau bangun, entah kenapa”
Do hyuk yang mulai membuka matanya lalu mendengar suara Yong Deok (ternyata Do Hee mengajak Yong Deok ke rumah mereka), serta merta ia langsung bangun dan bergegas keluar kamar ” kenapa datang kesini” tanyanya pada Yong Deok
“kakak kecil” kata sangchul mengingatkan
“kenapa kau datang kemari?” teriak Do Hyuk lalu mencoba menyerang Yong Deok, namun ditahan Sang Chul. Dong Hee langsung memeluk Jung yang ketakutan.
Do Hee mencoba bertanya kepada Do hyuk apa yang sebenarnya terjadi, tapi tak di hiraukan Do Hyuk
"Aku ingin bicara denganmu sebentar." kata Yong Deok.

Yong Deok membawa Do Hyuk ke taman untuk berbicara, ditemani Sang Chul
“aku tidak membunuh siapapun” kata Yong Deok membuka percakapan
“kau mau aku mempercayainya? ok, aku percaya, ini sudah cukup kan?” sindir Do Hyuk seraya beranjak pergi, sepertinya ia benar-benar enggan berbicara lebih lama dengan Yong Deok
“kalau aku membunuh orang tuamu, aku tidak akan dipenjara” kata Yong Deok
Do hyuk langsung menghentikan langkahnya saat mendengarnya. Alasanku masuk penjara adalah karena aku tidak membunuh orang tuamu. Yong Deok mengulang kisah 15 tahun silam saat ia kembali dipanggil oleh direktur Choui di tepi sebuah sungai. Direktur Choi saat itu langsung menanyakan apakah ia sudah membunuh wartawan Daese yang bernama Jin Yeon.
Dong Hyuk tidak percaya “Choi Il Do? Choi Il Do direktur Grup Daese? Choi Il Doo yang akan mencalonkan diri sebagai Presiden ? orang itu yang membunuh orang tuaku? menurutmu ini masuk akal?”
“aku tidak pernah berbohong”
Do hyuk terlihat enggan mempercayainya, tapi ia kemudian menanyakan alasan kenapa ayahnya sampai di bunuh.
Yong deok lalu menceritakan kalau ayah Do hyuk mengetahui kalau Choi Il do bekerja sama dengan mafia. Direktur Choi khawatir berita tersebut jatuh pada kantor berita lain, atau lebih buruknya pada polisi, makanya direktur Choi memintanya untuk "menyingkirkan" ayah Do hyuk.
Yong deok menolak, walau direktur Choi mengatakan ini perintah terakhirnya, Yong Deok tetap mengatakan tidak bisa. Sebelum Yong Deok pergi, direktur Choi mulai mengancam “putrimu sepertinya lebih kecil dari putriku”
mau tak mau Yong Deok akhirnya setuju dengan catatan itu benar-benar yang terakhir, (Yong deok sepertinya sudah mau insyaf dari pergengsteran)
“lalu kenapa tidak kau bunuh?” Tanya Do Hyuk
“waktu itu aku melihatmu” jawaban Yong deok membuat Do Hyuk akhirnya mau melihatnya” aku melihatmu yang datang membawa payung.
Do hyuk teringat saat sebelum kejadian, setelah ia memanggil ayahnya, seseorang berpakaian gelap dan bertopi berjalan ke arah yang berlawanan. Tidak berapa lama muncul sebuah truk yang kemudian menabrak orang tua Do hyuk.
Do Hyuk ingin tahu siapa yang mengemudikan truk, “orang yang telah mengatakan bahwa akulah yang membunuh orang tuamu” jawab Yong Deok.
Do Hyuk terdiam, air matanya mulai mengalir, dan ia mentertawakan cerita Yong Deok yang menurutnya pasti akan laris bila di novelkan.

Hae Sung melihat papan nama bertuliskan namanya di meja, ia lalu duduk di kursi barunya. hae Sung kini mempunyai ruangan sendiri, ia tersenyum senang karena sepertinya semua rencananya mulai berjalan lancar.

Choi Il Do dan Hae Sung tiba di ruangan untuk konperss kampamye calon presiden, ruangan sudah dipenuhi para awak media, dan pendukungnya yang meneriakkan yel-yel nama Choi Il Do.
Hae Sung naik ke Podium untuk membuka acara, tapi kemudian terhenti karena keributan di pintu masuk. Seluruh wartawan YDI, kecuali Do Hyuk tentunya, datang dengan heboh dan membuat kacau, bahkan menduduki kursi yang sudah diduduki wartawan lainnya.
 
Hae Sung dan Choi Il Do saling menatap, mereka hanya bisa menatap kegaduhan yang ditimbulkan wartawan Yongdeok. Choi Il Doo menerima telp dari Yong Deok yang memintanya untuk bertemu saat itu juga, jika tidak Yong Deok mengancam akan mempermalukan Choi Il Do di depan para wartawan peserta konpers . Choi akhirnya minta Hae Sung untuk menunda acara sementara ia menemui Yong Deok.

“kau ingin apa dariku? aku mungkin bersedia. Uang?” Tanya Choi kepada Yong Deok yang telah menunggunya di atap gedung,
“ku dengar kau ikut pemilu, ternyata pembunuh juga bisa ikut pemilu.”
"Aku tidak membunuh siapapun."
“Tapi kau memberikan perintah” jawab Yong Deok.
Choi tertawa sinis “tapi kau tidak menyelesaikannya kan? …. Yong deok, sudah 15 tahun, waktu yang begitu lama. Lagipula dunia sekarang berpihak padanya. Di dunia ini hanya percaya kepada pihak yang berkuasa. ”
“tapi suatu hari semua akan menjadi jelas. Jangan lupa aku orang yang seperti apa, aku tidak pernah bohong, dan aku selalu melakukan apa yang aku katakan. Kalau aku bilang aku tidak akan melepaskanmu, apapun yang kau lakukan tidak akan bisa menghindar”
“kau tidak usah mendesakku, tidak ada untungnya bagimu, siapa dia? Jin Yeon? membunuh wartawan kecil seperti itu sama sekali tidak sulit. Jika ada yang menghalangi langkahku, aku bisa melakukan yang lebih buruk!" ancam Direktur Choi lalu meninggalkan Yong deok.
ternyata Yong Deok ingin membuktikan ia tidak bersalah, maka ia menyusun rencana agar direktur Choi mengakuinya, karena ternyata Do Hyuk mendengarkan, mengamati, bahkan merekam percakapan keduanya dari lantai atap gedung yang lebih tinggi.
Setelah mendengar semuanya, Do Hyuk terhenyak lunglai.

5 komentar:

elmo mengatakan...

haiiii.... salam kenal.
aku suka banget ma lee jun ki sejak nonton Iljmae. pliss lanjutin dong sinopsis HEROnya........ceritanya TOP deh. makasih. FAIGHTING.

ai mengatakan...

salam kenal juga Elmo...... oh ternyata ada yang nungguin HERO, kirain gak ada, hehe....makasih.... I'll try... ^.^

vialin mengatakan...

Ia lanjutin dong HERO!!!!!! Penasaran ma endingnya...
Please lanjutin ya......

ai mengatakan...

@Vialin, kayaknya aku kmrn nemu DVDnya, tapi blm ku cek masih bisa pa enggak, hehe

diean Rangers kuning mengatakan...

lanjutin dunk,,,,,,,,,,,,,,penasaran nie,,,,,

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...