Rabu, 20 April 2011

[Rekap] The City Hall -- episode 9

“Tutup mulutmu dan dengarkan baik-baik!! Jika kau tidak tak berubah, maka aku yang akan berubah. Aku akan berubah menjadi sesuatu yang takkan bisa kau remehkan lagi! kau tak akan lagi berpikir aku itu bodoh. Semua yang pernah kau lakukan, akan ku balas setimpal… Tidak, akan kubalas sepuluh kali lebih sakit.”
Joo Hwa mencibir, “bagaimana kau akan melakukannya?”
“Aku akan berubah menjadi ‘Wonder Woman’. Aku telah memutuskan untuk menjadi ‘Wonder Woman’ kota Inju. aku akan mencalonkan diri sebagai Walikota!!”
Joo Hwa terkejut, dengan kasar ia bertanya bagaimana dan dengan cara apa Mi Rae akan ikut pemilu? apa dengan memakai celana dalamnya di luar maka ia menjadi Wonder Woman? ia juga menuduh Mi Rae gila yang tak bisa membedakan kenyataan dan mimpi. Mi Rae tak ambil pusing dengan penghinaan Joo Hwa, ia yakin kalau Joo Hwa sedang ketakutan jika sampai Mi Rae benar2 ikut pemilu.

Mi Rae menceritakan dengan antusias pertemuannya dengan Joo Hwa kepada teman-temannya di resto Mexicana. Teman2nya menanyakan apa memang Mi Rae akan ikut pemilu, Mi Rae menggeleng. Ia mengaku hanya menakut2i Joo Hwa saja. Pembicaraan terhenti karena Mi Rae mendapat telepon dari Boo Mi yang menunggunya di rumah.

Mi Rae memegang tangan Boo Mi, ia mengucapkan terima kasih karena Boo Mi telah datang menemuinya. Boo Mi tak bergeming, wajahnya datar, “Tak perlu mengucapkan terima kasih. aku datang untuk meminta uang yang pernah kau tawarkan padaku. Beri aku uang, juga dokumen2mu. Fotokopi KTP, Kartu keluarga, stempel dan juga tandatanganmu“
“Dokumen? dokumen untuk apa?”
“Bukankah kau bilang sedang mencari pekerjaan? Besok siapkan dokumen2nya”
Mi Rae menganggap Boo Mi sudah kembali seperti dulu, sangat perhatian padanya, bahkan mau membantunya mencari pekerjaan.

Esoknya, Jo Gook bersama gubernur bermain golf. Saat Gubernur mengenalkannya pada kandidat dari partai mereka, Jo Gook terang2an menolak. Ia mengaku akan mengajukan calon lain yaitu seorang wanita yang bahkan tak mengenal partai politik, ia juga menegaskan takkan mendukung calon pilihan Gubernur. Gubernur marah, meminta Jo Gook tidak bercanda dengannya. Jo Gook menyatakan keseriusannya, bahkan ia minta jika nanti calonnya berhasil terpilih, ia minta agar Gubernur mau mendukungnya dalam pemilihan Majelis Nasional.

Saat hendak pulang, Soo In bingung dengan rencana Jo Gook, ia menanyakan apa mungkin orang yang Jo Gook maksud adalah Mi Rae dan Apa menurut Jo Gook itu masuk akal?. Jo Gook membalik pertanyaan, “waktu kau mengkhianatiku, apa itu juga masuk akal?”.
Soo In bingung, kalau memang Jo Gook sangat sakit hati pada perbuatan Soo in, kenapa tak memecatnya saja. (jujur, itu juga jadi pertanyaanku :P). Jo Gook mengakui ia tak punya wewenang untuk itu. Ia pribadi akan melakukan apa yang Soo In lakukan (mengkhianati atasannya/teman) jika memang BB memintanya, bahkan ia akan melakukannya lebih baik dari soo In. Tapi diujung debat mereka, Jo Gook mengingatkan agar Soo In jangan lagi berani menghianatinya.

Joo Hwa menemui ayahnya, berbekal informasi mengenai cinta pertama ibunya yang akan mencalonkan diri, ia membuat ayahnya cemburu dan tak mau kalah ikut juga dalam pemilu.

Sementara Joo Hwa sibuk melobi ayahnya, Jung Do sibuk memberikan pengarahan pada para petani stawberry agar produk mereka lebih mudah dipasarkan. ngiler liat strawberrynya merah2 dan besar. Jung Do mendapat telpon yang mengabarkan Mi Rae terdaftar sebagai kandidat walikota baru.

Boo Mi bertemu Mi Rae, ia mengaku telah mendaftarkan Mi Rae ke KPU dan membereskan semua syarat termasuk uang pendaftaran. 5ribu dollar dari Mi Rae dan 5rb dollar lagi uang Boo Mi. Mi Rae bengong tak percaya. Boo Mi menegaskan ia tak bercanda, ia meyakinkan agar Mi Rae mau ikut pemilu, kalau tidak uang 10rb dollarnya akan hangus. Mi Rae tetap tak percaya, ia minta Boo Mi bersumpah atas nama ke3 anaknya. Begitu Boo Mi dengan yakin bersedia bersumpah, Mi Rae mulai histeris mengatai Boo Mi gila dan bodoh. sambil menangis ia pergi.
Di tempat lainnya, Jung Do yang mendapat kabar soal pendaftaran Mi Rae, menemui Jo Gook. Ia yakin itu hasil perbuatan Jo Gook. Ia mempertanyakan bagaimana mungkin Jo Gook bisa diam2 mendaftarkan seseorang menjadi kandidat calon walikota tanpa sepengetahuan orang itu, apa sebenarnya tujuan Jo Gook. Jo Gook tak mengelak, bahkan ia bertanya jika Jung Do tahu alasannya, akankah Jung Do membantu?.
Jung Do mencengkram kerah Jo Gook, “Di matamu, kau anggap apa aku ini?”
“Bukankah kau selalu bersedia membantuku?” Jawaban Jo Gook kali ini benar2 memancing amarah Jung Do, Jung Do langsung meninjunya membuat bibir Jo Gook berdarah. Jo Gook heran dengan jung Do yang terkesan melindungi Mi Rae yang notabene hanya teman istrinya atau memang ada alasan lain? Jung Do akan melayangkan tinju ke2nya, tapi kali ini ditahan Jo Gook, tepatnya gantian tangan Jung Do yang dicengkram. Jo Gook sadar ia layak menerima pukulan yang pertama, tapi tidak untuk yang ke2. Apa Jo Gook mulai mikir kalo Jung Do terlalu perhatian itu karena suka sama Mi Rae?.
Jo Gook tak melepaskan tangan Jung Do hingga ponsel Jung Do berbunyi, ia membantu mengambilkan ponsel dari kantong Jung Do sebelum melepaskannya dan berbalik pergi. Jo Gook berhenti saat mendengar nama Mi Rae disebut.
“ya Mi Rae-ssi, di mana kau? aku akan datang sekarang. Jangan kemana2 sampai aku datang!” Jung Do bergegas pergi tepat saat Jo Gook berbalik. aku nebak Jo Gook mungkin bertanya2 plus cemburu, saat kebingungan kenapa Mi Rae mencari Jung Do bukan dirinya? hehe, sok tau.

Mi Rae di kantor KPU, ia mencoba dengan berbagai cara membujuk agar dapat mengambil kembali uang pendaftarannya yang tentu saja ditolak petugas. Saat Jung Do masuk, Mi Rae mengadu dengan panik tentang uangnya yang akan hangus bila ia mengundurkan diri. ia bahkan sampai menangis sambil jongkok. Jung Do bertanya pada petugas soal kelengkapan administrasi pendaftaran yang dijawab semua berkas yang diserahkan oleh wakil kuasa, lengkap dan beres. Jung Do membantu Mi Rae bangun, ia mencoba menghiburnya untuk mencari wakil walikota untuk minta pertanggungjawabannya. Jung Do terkejut saat Mi Rae memberitahu yang mendaftarkannya itu Boo Mi bukan Jo Gook.

Boo Mi menemui Jo Gook yang mengucapkan terima kasih karena Boo Mi bersedia membantunya. Lalu menyodorkan amplop tebal sebagai pengganti biaya pendaftaran Mi Rae. Boo Mi menolaknya, bahkan saat Jo Gook memberikannya sebagai rasa terima kasihpun Boo Mi tetap menolak. Ia kemudian menanyakan apa benar Jo Gook yakin Mi Rae menang? Jo Gook menjawab ia yakin.

Bagi Boo Mi, Mi Rae adalah orang yang berpikir sederhana juga polos, bersedia membantu siapapun, dan menghabiskan waktu untuk mengurus semua orang (dari mulai kerja paro waktu untuk menyumbangkan uang ke sekolah, membuat snack untuk anak-anak yang akan melakukan perjalanan lapangan mereka, kue beras untuk yang ulang tahun) . Dan yang paling penting dalam 365 hari setahun, ia selalu tulus, menggambarkan potret dirinya. “aku tak pernah melihat seorang walikota seperti itu sebelumnya dan aku ingin punya walikota seperti itu. untuk itu kau harus membuat Mi Rae jadi Walikota berikutnya. Aku mempertaruhkan uang itu, karena aku dan Mi Rae sama2 akan berusaha yang terbaik jika mengenai uang, untuk itu kau harus mengambil uang ini kembali “

Boo Mi kembali ke resto bubur dan menemukan Mi Rae dan Jung Do menunggunya. Mi Rae mendekati Boo Mi dan menceritakan uang pendaftaran yang tak bisa ditarik kembali. Ia mengguncang Boo Mi, mempertanyakan bagaimana bisa Boo Mi membuang uang mereka sia2 seperti itu. Boo Mi meyakinkan uang itu tidak akan sia-sia, asal Mi Rae mendapat minimal 15% suara maka uangnya akan dikembalikan. Mi Rae tak yakin, jangankan 15%, 15 suara saja ia kesulitan mendapatkannya.

“maka berusahalah!! Berusahalah dengan keras untuk mendapatkan 15%, dan lebih keras lagi untuk menang, kau akan terpilih jadi Walikota. Kau harus jadi walikota agar aku bisa mendapatkan pekerjaanku lagi!!! aku PNS yang baik. Untuk negara aku orang yang setia dan berdedikasi. Untuk masyarakat, aku bertindak benar dan memberi kontribusi. Sebagai staf aku kreatif dan bertanggung jawab. Di tempat kerja aku dihormati dan dipercaya. Dan dalam hidupku, jujur adalah prinsipku. Aku demi pekerjaanku yang kuhormati dan kuhargai, telah bekerja keras untuk memperoleh pengakuan itu. Jadi, kau harus membuatku mendapatkan kembali ke pekerjaanku, kau mengerti?”

Mi Rae putus asa, ia menyadari semua yang dikatakan Boo Mi benar, namun Boo Mi baru saja meletakkan tanggung jawab yang takkan sanggup dipikul Mi Rae. Bagaimana Mi Rae bisa menghadapi orang2 yang telah menandatangani persetujuan dirinya mencalonkan diri yang pasti akan kecewa. Mi Rae keluar dari resto dengan sedih.

Sepeninggal Mi Rae, Jung Do mendekati Boo Mi. Ia menanyakan kemungkinan Boo Mi telah bertindak atas permintaan Jo Gook. Boo Mi mengakui, awalnya memang karena Jo Gook. Tapi saat Boo Mi mengumpulkan tanda tangan, ia menyadari bahwa pada dasarnya ia harus melakukannya. Blm sempat Boo Mi menyelesaikannya, Jung Do menimpali ia mengerti perasaan Boo Mi, tapi ia mempertanyakan tujuan Jo Gook. Apa niat tersembunyi dibalik itu? tidakkah Boo Mi menyadari Jo Gook mencari walikota yang akan mudah dimanipulasi dan dikontrol?. Boo Mi terkejut.

Mi Rae menjaga kios ibunya, ia terus mencoba menghitung berapa suara yang dibutuhkan untuk mendapat angka 15%. Tetangga kiosnya ramai membicarakan masalah pemilu, mereka tiba2 bertanya padanya akan mendukung siapa. Dengan tergagap Mi Rae menjawab dengan tak yakin, “diriku sendiri?”
Jo Gook menarik perhatian para pedagang pasar saat muncul bersama ibunya dan Jo Rang. para tetangga kios Mi Rae menyambutnya.
Mi Rae berdiri dan merapihkan rambutnya. Saat dekat kios Mi Rae, Jo Gook menyapa yang dijawab dengan kaku oleh Mi rae, suasana terasa canggung. Sebuah suara mencairkan suasana, “siapa dia, ayah?”
Mi Rae ingat perkataan Hae Ri yang bilang soal anaknya Jo Gook yang sama sekali tak mirip dengannya, kemungkinan itulah yang membuat Jo Gook bercerai.
“Dia adalah kawanku” jawab Jo Gook hati2. hm? kawan? beneran niiih?. Mendengar Mi rae adalah kawan ayahnya, Jo Rang menyapa Mi Rae, ia memperkenalkan dirinya dan ia menjelaskan tahu arti kawan, yang sama dengan teman. Mi Rae tersenyum lebar saat berbicara dengan Jo Rang, ia memujinya pintar mirip dengan ayahnya.
Jo Gook berusaha mengenalkan Mi Rae pada ibunya, tapi ivbunya menolak karena mengaku sudah tahu lewat surat kabar. Ibu Jo Gook terlihat terganggu oleh bau ikan dan terlihat ingin segera pergi lalu menarik Jo Rang pergi. Jo Gook ikut pamit pergi.

Mi Rae menggerutu karena Jo Gook yang datang hanya untuk mengucapkan salam dan berkelakuan seperti orang asing. Mi Rae duduk melihat kembali angka 15%nya, ia menyadari sesuatu.

Didalam mobil, Jo Rang bertanya soal senyumnya. Karena paman Soo In selalu mengingatkannya untuk tersenyum manis saat ia bersama ayahnya. Jo Gook menyadari ia ayah yang buruk, yang bahkan memanfaatkan anaknya sendiri yang masih kecil untuk tujuan politiknya. Ibu Jo Gook menimpali itulah yang membuatnya benci politisi. Jo Gook coba mencairkan ibunya dengan menawari sesuatu yang bisa mengisi waktu. Ibu Jo Gook ingin punya bar, tapi Jo Gook menyarankan toko bunga. Ibu Jo Gook menolaknya mentah2.
Jo Gook baru saja menjalankan mobilnya saat tiba2 Mi Rae muncul hingga Jo Gook harus me- rem mobilnya, Mi Rae minta waktu untuk bicara.

Keduanya akhirnya bertemu, Mi Rae bertanya soal kesediaan Jo Gook membantunya dalam pemilu yang di iyakan oleh Jo Gook.
“kau yakin bisa membuatku jadi Walikota?”
“Ya”
“Jika ternyata aku tak bisa jadi Walikota, apa kau bisa jamin aku akan mendapatkan 15% suara?“
“Ya”
“Jika ternyata aku tidak dapat suara 15% dan tidak menang, bisa kau mengganti uang pendaftaranku?”
“takkan ada kemungkinan itu, Mi Rae-ssi tidak akan kalah.”
“benarkah? bisa kau bersumpah?” Mi Rae tak percaya
“Jika kata2ku terbukti, apa balasannya? jika aku memintamu melakukan sesuatu, kau mau melakukannya?”
“aku mau”
“kau tak bertanya apa yang kuminta?”
“Aku tahu“
“kau tahu?”
“saat aku makin dekat dengan seorang pria, mereka akan selalu berharap hal ini ... ‘bahwa aku bisa melakukan sesuatu untuk mereka’.”
“Apa itu?”
“‘pergilah!!’ atau ‘temukan orang lain yang lebih baik, aku tak cocok untukmu’ atau ‘bukankah lebih baik hubungan kita seperti kakak adik saja?’
Jo Gook marah, “siapa bajingan2 itu, beri nomor telepon mereka akan ku urus mereka”
“ada satu lagi, yang paling buruk dari semuanya”
“memangnya ada begitu banyak priamu?”
“Pria ini berkata ’dia adalah kawan ayah’” deg! Jo Gook kena! yang tadi itu jawaban Jo Gook saat di tanya Jo rang tadi di pasar. “aku bukan gadis polos dan tak berdosa berumur 20 tahun yang akan terkesan hanya karena semalam kemping bersama”
Jo Gook tertegun, dengan lirih ia mengakui akhir2 ini (termasuk hari itu) ia melakukan banyak hal yang belum pernah dilakukannya. Ia tumbuh terlalu cepat menjadi dewasa, tak pernah mengalami hal-hal itu (menyukai seorang gadis?). “Melakukan hal yang kulakukan padamu membutuhkan keberanian yang besar untukku. tidakkah kau bisa melihatnya? aku akui bahwa aku bukan orang baik, tapi aku harap kau tak melihatku sebagai orang yang akan kau benci”

Jo Gook dan Mi Rae saling menatap. hoa, banyak yang tersirat dalam kata2 Jo Gook. jujur aku ngetiknya sambil hatiku cenat cenut. maumaumau kalo Jo Gook di dunia nyata, aku mau pesen satu.
Wakil Walikota Ae kesal saat tahu Mi Rae telah mendaftar sebagai peserta pemilu. Ia minta kepala Park berbicara pada Mi Rae untuk membujuknya mengundurkan diri. kepala Park menunjuk kepala byeon yang lebih dekat, Byeon menunjuk Ji, Ji menunjuk Moon. Moon bersedia tapi dengan cerdas berhasil membawa Ji dan Byeon turut serta. wkwkwk, Trio balaikota memang tak terpisahkan.

Mereka kemudian berkumpul di resto Burger untuk mengajak Jung do bicara, orang yang menurut mereka paling tepat untuk membujuk Mi Rae. Tanpa mereka sangka, Jung Do menolak.

Waktu Pendaftaran bagi para kandidat ditutup, KPU mengumumkan nama2 kandidat beserta no urutnya. Calon No 1, Min Yu Gam(ayah Joo Hwa), calon nomor2, Ahn Ji Sung. calon nomor 3, Kim Si Chon, Nomor 4 Park Jung Jin dan terakhir no 5 yang saat itu tak ikut hadir, Shin Mi Rae. Joo hwa shock.

Mi Rae tak hadir di KPU karena ia menemui Jung Do di kebun buah, ia memohon agar Jung Do mau membantunya. Awalnya Mi Rae keukeuh alasan ikut pemilu demi uangnya balik. Tapi kemudian tanpa sadar ia mengucapkan”Setidaknya aku tahu dengan keyakinan bahwa aku akan menjadi Walikota yang jauh lebih baik dari Walikota Go”
Jung Do tersenyum, itu kata yang ingin didengarnya. “seperti yang aku pernah bilang, Orang sepertimulah yang harusnya memerintah. Awalnya aku khawatir kau ikut pemilu hanya untuk uang, tadi aku mengujimu”
Jung Do dan Jo Gook sama2 ada dipihak Mi Rae, tapi tak mudah membuat mereka berdua dalam perahu yang sama. Pertemuan mereka mulai dengan saling mengejek hingga Mi Rae harus menghentikan mereka.
Persiapan pertama, kantor kampanye, Jo Gook dan Jung do saling bersaing mengatakan tempat merekalah yang terbaik. Setelah saling berdebat, Mi Rae mengambil jalan tengah, ia memilih pilihannya sendiri, Restoran Mexicana.
Pembicaraan berlanjut ke konsep poster, yang memancing perdebatan panjang. Jo Gook yang modern dan Jung Do yang konvensional. Belum lagi teman2 Mi Rae yang ingin Mi Rae tampil seperti Sailormon.
wkwkwk puncaknya Mi Rae menggabungkan ke3 konsep itu.PARAHHH!!wkwkwk

Akhirnya setelah seharian Mi Rae jadi bahan percobaan tim kampanyenya, gambar yang dirilis adalah gambar yang diambil Boo Mi waktu membantu menangkap ikan di kontes nona hering. Dilengkapi slogan: ‘Untuk masa depan, Wonder Woman Shin Mi Rae’.
Mi Rae dan Jo Gook melihat poster pemilu yang telah resmi dipasang di tempat2 strategis.
“Apa sekarang terasa nyata?” Tanya Jo Gook
“Ya, sangat mendebarkan. Bukan karena 4 lawan 1 tapi ini juga kesempatan bagiku untuk mencoba yang terbaik.”

Tiba2 datang petugas mencopot poster no.3 milik Kim Si Chon. Tuan Kim di diskualifikasi karena ia membayar menggunakan cek kosong. Mi Rae memasang tampang sedih, tapi kemudian berubah menjadi tawa senang, 3 lawan 1.
Wartawan bermunculan, menanyai Mi Rae soal pemilu, seperti agenda utama, aset kekayaan, target suara… Mi Rae awalnya mencoba menjawab jujur yang justru terlihat konyol, Jo Gook berusaha mengatur arah kata2 Mi Rae dengan berdehem, mengedip, haha lucu liat adegan ini. Akhirnya Jo Gook menyeret Mi Rae sebelum dia membuat pernyataan2 lebih konyol lagi.
Didalam mobilnya Jo Gook melatih Mi Rae, “Mulai sekarang dan seterusnya, apa pun yang ingin kau katakan, harus katakan dulu denganku, kau mengerti?
“Aku lapar ... aku lelah ... aku ingin pergi ke toilet, seperti itu juga perlu?”
“tentu saja” jawab Jo Gook sambil terus konsentrasi menyetir
“Bodoh ... Bajingan ... aku cinta padamu..” Jo Gook menoleh, Mi Rae tanpa merasa bersalah melanjutkan kata2nya ”yang seperti itu juga?”
“Ya” pembicaraan terhenti karena telpon berbunyi, Jo Gook menerimanya, iya menutup telponnya dengan kata2 ‘ya, aku juga merindukanmu’.
Mi Rae menoleh, ia sudah bisa menebak siapa yang dirindukan Jo Gook. Entah Jo Gook jengah atau apa tiba2 ia menghentikan mobil menyuruh Mi Rae turun karena ia mendadak ada janji. Ia berpesan agar Mi Rae cukup istirahat dan siap untuk besok. Mi Rae menatap kepergian mobil Jo Gook.

Jo Gook mendatangi Go Hae di galerinya. Go Hae memancing cerita dari Jo Gook, tapi Jo Gook selalu menyatakan baik2 saja. “apa mundur dari jabatan wakil walikota bukan masalah?”
Jo Gook kaget Go Hae selalu update kabar terbarunya. Ia akhirnya menceritakan niatnya yang sedang merintis jalan ke arah gedung biru. Go Hae menanyakan apakah BB tahu semua rencana Jo Gook. Jo Gook memastikan BB tahu, ia punya telinga di banyak tempat. Go Hae menanyakan kemungkinan Jo Gook mengharapkan bantuan Bb. Yang ditepis Jo Gook, BB takkan menawarkan bantuan tapi situasi akan memaksanya untuk membantu Jo Gook. Situasi itulah dukungan terbaiknya. Go Hae tersenyum saat Jo Gook memberitahu dukungan terbaiknya itu adalah Go hae.
Mereka lalu berjalan2 di taman. Go Hae tak masalah jika Jo Gook memanfaatkannya untuk memuluskan jalan menuju Gedung Biru, sebagai imbalannya, ia ingin berada di sisi Jo Gook ketika Jo Gook memasuki Gedung Biru. Jo Gook sepakat.
Go Hae kembali memberi kejutan, ia tahu soal Mi Rae yang kini ikut pemilu dan Jo Gook termasuk tim suksesinya. Jo Gook sadar Soo In yang menyuplai informasi pada Go Hae. Go Hae juga menawarkan untuk membantu pembiayaan kampanye Mi Rae. Dengan lembut meminta Jo Gook tidak menolak uangnya, karena jika Jo Gook menolak maka Go Hae mungkin akan akan berpikir bahwa Jo Gook dan Mi Rae memiliki hubungan khusus.

Jo Gook kembali ke Inju, ia mengingat malam saat kemping. Flashback dimulai saat ia pura2 mendengkur dengan mata melek, agar Mi Rae yang gelisah bisa tenang tidur. Memang terlihat tarikan nafas lega dari Mi Rae. Tapi Mi Rae tak langsung tidur, ia berbalik ke arah Jo Gook yang buru2 memejamkan mata.
Ragu2 Mi Rae mulai menyentuh alis Jo Gook, ujung2 bulu matanya, pipinya, lalu perlahan turun hendak menyentuh bibirnya.
Tiba2 Jo Gook menangkap tangannya, “Jika kau teruskan, jangan salahkan kalau aku akan melompat ke atasmu”
Mi Rae meminta maaf, ia segera berbalik menahan malu, sementara Jo Gook lalu memilih tidur diluar. Flashback selesai.
Di tempat lain, Mi Rae juga sedang mengenang momen yang sama. Ia mengingatnya sambil melihat jas Jo Gook yang tergantung dikamarnya.

Paginya Mi Rae ke Mexicana, sebelum masuk ia mengintip bahkan menelpon Alba yang ada didalam untuk memastikan ada atau tidaknya Jo Gook, ternyata Jo Gook ada dibelakangnya menanyakan apa Mi Rae menunggunya. Mi Rae tergagap tak mengaku, ia buru2 masuk.

Didalam Jung Do memberi perincian biaya kampanye Mi Rae. yang membuat Mi Rae terkaget2. Ia harus mencari uang, boleh berupa pinjaman tapi bukan sponsor, kalaupun ada sponsor harus ada tanda terima sebagai bukti pinjaman. Jung Do akan mencoba meminjamkan, baginya tak masalah karena jika suara Mi Rae mencapai 15 % maka semua biaya akan dikembalikan. Tiba2 Joo Hwa masuk, ia marah2 tak setuju meminjamkan harta mereka untuk Mi Rae.
Jung do dan Joo Hwa berbicara di luar. Joo Hwa ingin Jung Do membantu ayahnya, Jung Do mengelak, ia memilih membicarakan rencana meluruskan rambutnya yang langsung di cegah Joo Hwa.

Bong Seon Hwa menjadi maskot tim kampanye Joo Hwa, mereka membagi2kan makanan yang dengan pesan terselubung: memilih kandidat no1, ayah Joo Hwa.

Mi Rae mencoba menghubungi teman2nya untuk mencari pinjaman, tapi tak mendapatkannya sama sekali. Ia terus mencoba sampai tiba2 Jo Gook merebut ponselnya dan menyatakan Mi Rae takkan mendapatkan uang dengan cara itu. Mi Rae mulai frustasi, ia mempertanyakan uang 6.700 dollar yang kabarnya sudah ditransfer pacarnya pada Jo Gook. Jo Gook balik bertanya apa Mi Rae benar2 percaya kalau mantannya mengembalikan uang? ia juga mengingatkan Mi Rae agar mencari pria yang jauh lebih baik. Saat tahu mantannya ternyata belum mengembalikan uangnya, Mi Rae meradang, ia tak mengerti kenapa Jo Gook membohonginya (dan memaksa ikut tamasya). Jo Gook tak menjawab, ia malah menarik Mi Rae masuk ke dalam mobilnya dan membawanya kesuatu tempat untuk menyelesaikan masalah dana kampanye. Mereka menuju hotel, menurut Jo Gook ada orang yang bersedia meminjamkan uang yang sedang menunggunya disana.

Sambil menunggu, Mi Rae terus bertanya2 siapa orang yang mau meminjamkan uangnya, tapi Jo Gook tak mau menjelaskan siapa, ia hanya mengatakan ia seseorang yang punya banyak uang. Mi Rae mulai takut karena berpikir Jo Gook sedang mencoba membuatnya menghabiskan malam (tidur) dengan orang licik. “Bajingan! Aku tidak akan melakukannya .... Aku tidak akan ikut pemilu, bahkan jika harus kehilangan uang 10rb dollar!!. Jangan pernah muncul di depan wajahku lagi!! Apa kau mengerti?”
Mi Rae sangat marah, ia sudah berdiri akan pergi saat Go Hae masuk kedalam. Go Hae meminta maaf karena terlambat datang.
Mi Rae sadar telah salah sangka, tapi ia juga tak berharap orang yang akan membantunya adalah Go Hae, Mi Rae menatap Jo Gook. Go Hae tersenyum tanpa merasa bersalah.

--------- coba lihat dari banyak sisi, agar pikiran kita lebih terbuka ---------

2 komentar:

arie sshi mengatakan...

akhirnya episode 9 keluar jg...
ha...ha...itu yg foto pakae wig buat poster kampanya lucu bgt....
coba disini ada yg kampanya pake poster ky gitu...

ai mengatakan...

iya Arie sshi, hampir tnpa dialog, tapi kerasa lucunya... menurutku sih drama ini juga nyindirorg2 politikus, coba mereka nonton drama ini buat mikir...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...