Rabu, 27 April 2011

[Rekap] The City Hall -- episode 10

Lagu hari ini----Fashion's 70's OST, ga seum ah pa do, by Hwanhee (Fly To The Sky). Sebuah lagu yang mendayu2... cocok menemani sore yang dibasahi hujan, ckckckck.


Go Hae masuk dan meminta maaf karena terlambat, ia mengaku sempat terjebak macet.
Melihat Mi Rae yang kaget melihat dirinya, Go Hae menanyakan kemungkinan Mi rae kecewa begitu tahu ia yang akan membantu Mi rae. Jo Gook yang menjawab, menurutnya itu karena Mi Rae yang terlalu khawatir. Go Hae beranggapan seseorang memiliki rasa takut adalah hal yang normal. Ia menantang Mi Rae, jika ingin pergi, maka Mi rae dapat pergi. Jika Mi rae duduk berarti Mi Rae sepakat untuk melepaskan harga dirinya (balasan yang Go Hae minta, Mi Rae tak punya harga diri di hadapannya).

“Sepertinya kau sangat kaya. Tidak buruk untuk mencoba duduk. Biar aku lihat berapa banyak uang yang kau miliki” Mi Rae menjawab tantangan Go Hae lalu duduk.
“Setiap kali aku bertemu temanmu ini, aku selalu merasa dia sangat menarik“, Go Hae agak kaget tak menyangka respon Mi rae, ia mau duduk tapi tetap tak melepaskan harga dirinya.
Go Hae mencoba memamerkan sekaya apa ia, ia menyodorkan cek kosong. Gantian Mi Rae yang terkejut melihat cek kosong di hadapannya, ia mencoba menguasai diri. Dia mengambil cek itu dan mulai menulis angka 1 dan nol 7 buah, lalu menambah 1 nol lagi.
“Apa itu angka yang besar bagimu?” Go Hae mengira Mi rae sudah selesai, tapi belum, Mi rae mengubah angka 1 menjadi angka 4. Terakhir ia lalu menambah koma, hingga nilai cek kini hanya 400 won atau senilai 40 dollar. Kemenangan untuk Mi Rae, ia tetap duduk disana dan sama sekali tak menggadaikan harga dirinya, Jo Gook tersenyum sementara Go Hae tidak senang.
 
“Tak peduli apa yang akan kau katakan, aku bersyukur kau bersedia mensponsori kampanyeku. Bagiku 40 dollar jumlah yang besar. Lebih baik mengirimkannya ke rekening dana kampanyeku, sepertinya tak pantas jika langsung aku bawa.” Mi Rae pamit keluar, Ho Gook senyum2 simpul.
 
“Apa ini lucu?” Go Hae kesal melihat Jo Gook yang terus tertawa.
“Jika aku tidak tertawa, apa aku harus bergabung bersama dengan yang sedang marah?”
Go Hae memicingkan matanya pada jo Gook, ia menyadari Jo Gook sudah bisa memprediksi hal itu, lalu kenapa tak menghentikannya sebelum terjadi. Jo Gook mengaku ia penasaran. Mi rae ikut kontes nona Hering karena uang, melakukan protes seorang diri juga karena uang. karena uang pula ia ikut pemilihan walikota. Jo Gook ingin membuktikan penilaiannya pada Mi rae, sebagai kandidat yang ia calonkan, ia takkan bisa mendukungnya lagi kalau tetap tergoda oleh uang.


Go Hae bertanya2 mengapa akhir2 ini Jo Gook sering melakukan hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Jo Gook mengakuinya, tapi tak mau menjelaskan lebih lanjut, bahkan menawarkan mengantar Go Hae keluar (mengusir secara halus). Dengan dalih masih banyak hal yang harus ia lakukan, ia menawarkan soo In untuk mengantar Go Hae pulang. Lewat Soo In mungkin Go Hae akan mendengar banyak hal lain tentang Jo Gook lagi. Kayaknya Jo Gook sedikit nyindir Go Hae yang suka mengorek info dari soo in.
“Info tentang apa? hal2 seperti piknik dengan sepeda itu?“ Jo Gook terpaku, “aku dengar kau menginap” kata Go hae lagi.
“Bagaimana kamu bisa tahu?”
“aku memperhatikan dimana dan apa yang kau lakukan”
“kau mengirim seseorang untuk mengikutiku?” Jo Gok kaget karena menyangka Go Hae tau detilnya, padahal tidak. Justru dari ekspresi Jo gook, Go hae bisa menebak bahwa Jo Gook pergi tak sendiri, ada Mi rae yang menemani.
“Apa daya tarik dan pesona yang ia miliki?” Tanya Go Hae yang tak menyangka bisa dikalahkan oleh wanita yang jauh dibawahnya dalam kualitas. Ia mengingatkan pada Jo Gook bahwa wanita dan politik tidak seharusnya bercampur bersama-sama, hal itu tabu. Juga (kalau mau selingkuh) jangan mudah terendus, karena Go Hae tidak memiliki toleransi dan kesabaran, seperti Hillary Clinton .
Jo Gook pergi, ia bertemu dengan Soo In di lobby. Jo Gook minta pada soo In agar mencari informasi soal rival2 Mi rae, dan menjadikannya sebagai bahan pertimbangan di kantor kampanye. Soo In mengaku sudah membuatnya, ia menanyakan keseriusan jo Gook menjdikan Mi rae walikota. Jo Gook memarahi Soo In yang sembarangan memanggil nama Mi rae, “Calon Nomor 5, nyonya Mi Rae, kau harus ingat memanggilnya itu”
Soo In membela diri tak mudah mengganti panggilan dalam sekejap. Jo Gook yang mulai terbawa emosi pribadi juga memohon agar Soo in tidak mencampuri urusan pribadinya (kedekatannya dengan Mi Rae, Go Hae) dengan cara yang berbelit2, membuat Soo In tak mengerti maksudnya Jo Gook. Jo Gook terus memohon sementara Soo In makin bingung. Akhirnya jo Gook bisa menguasai diri lagi, ia mengulang lagi perintahnya tapi kali ini soal pemilu, gada hubungannya dengan yang tadi.

Soo In bingung pada perubahan sikap Jo Gook yang terlalu tiba2, di belakang Jo Gook ia misuh2, memikirkan kemungkinan siapa yang di temui Jo Gook hingga Jo gook bersikap aneh seperti itu, sebentar marah, sebentar memohon, trus tiba2 normal lagi, wkwkwk.

Esoknya di basecamp kampanyenya/resto Mexicana, Mi Rae menceritakan soal pertemuannya dengan Go Hae pada teman2nya. Mereka antusias mendengar cerita Mi rae. Jung Do tak sengaja ikut mendengar, “Siapa orang yang kau temui yang mampu memberi cek kosong? Apa Wakil Walikota bersamamu?”
Mi Rae mencoba menghindar bercerita lebih lanjut pada Jung Do, ia mengalihkan pembicaraan soal anggaran kampanye. Mi Rae shock melihat angka2 yang tertera. Mi rae mendapatkan ide.
 
Mi Raepun berhutang pada orang2 yang ia kenal baik. Makanan disponsori oleh restoran bubur. Mi Rae menulis surat hutang yang akan dikembalikan setelah pemilu. Mi Rae mendapat minuman dari sebuah toko. Pemilik toko merasa senang karena bisa mengembalikan semua kebaikan yang pernah ia terima dari Mi rae. Tapi Mi Rae berkeras menulis di buku hutang dan akan membayarnya nanti.
 
Begitu juga untuk kaos, kemudian poster dan mobil kampanye. Dari sekian banyak yang sudah Mi rae dapatkan, mereka masih butuh uang setidaknya uang cash 25rb dollar. Teman2 Mi Rae membujuk agar meminjam dari Jung Do, tapi mi Rae menolak. Bukan apa2, ia tak mau direndahkan joo hwa kalau sampai tahu meminjam uang dari suaminya. Ia berjanji akan mencari cara untuk mendapatkan uang itu.

Mi Rae ke kios ibunya, ia mencoba membujuk ibunya untuk menggadaikan rumah. Tentu saja usahanya ini gagal. Saat pusing memikirkan dari mana ia akan mendapatkan uang, Mi Rae mendapat telpon dari Dana karyawan. Ternyata setelah dipecat dari Balaikota ia mendapat pesangon 14 ribu dollar yang akan dikirim 2 minggu lagi terhitung dokumen yang Mi rae ajukan beres.
Mi Rae kini punya uang, tapi ia blm bisa menggunakannya. apa yang harus dia lakukan sekarang? Mi Rae menelpon mantan pacar nya untuk menagih hutang, dan menemukan nomornya sudah ganti. Tak lama telponnya berbunyi, dari Jo Gook.
Mi Rae mendatangi tempat Jo Gook menunggunya. Ternyata Jo Gook sedang bersama Joo Hwa. Joo Hwa bingung melihat Mi Rae begitu juga sebaliknya. Joo Hwa sempat menyindir Mi rae yang miskin mampu datang ke resto mahal. Mi Rae membalas sindiran Joo Hwa dengan mengatakan agenda pertamanya jika menjadi walikota adalah MEMECAT MIN JOO HWA dari DEWAN KOTA, wkwkwkwk, Joo Hwa kesal, Jo Gook menambah kekesalannya dengan menceritakan keberadaan Joo Hwa disana dengan maksud melobi Jo Gook untuk mendukung Calon No 1, juga memintanya agar membujuk Mi Rae untuk batal ikut pemilu.


Joo Hwa terkejut Jo Gook blak2an, sebaliknya Mi rae juga terkejut sejauh itukah Joo Hwa berusaha menjegalnya.
“Omo! Aku tak akan pernah membayangkan bahwa Wakil Walikota adalah orang macam itu? Anda begitu tinggi dan tampan tetapi mulut anda begitu cepat. Bukankah saya bilang sebelumnya bahwa ini adalah rahasia antara kita? Anda bicara terlalu banyak” wkwkwkwk aku suka liat ekspresi Joo Hwa yang kali ini kelabakan ketangkap basah ma Mi Rae.

Sepeninggal Joo Hwa, Jo Gook menanyakan usaha Mi Rae mencari uang. Mi Rae malah bertanya balik “Apa kau datang dengan 40 dollar (uang dari Go Hae)?”. Jo Gook mengeluarkan amplop dan menyerahkannya pada Mi Rae, Mi Rae menolak karena benar2 mengira itu uang dari Go Hae. Saat tahu isinya 25rb dollar. Mi Rae mengeluhkan justru orang-orang terdekatnya yang tidak di harapkan (Jung Do dan Jo Gook) yang bersedia meminjamkan uang. Jo Gook bersiap mengambil kembali amplop itu dan mengatakan didalamnya termasuk uang 6.700 dollar. Mi Rae menahannya, “ia mengirimnya? tapi ia merubah nomor telponnya”
“Bagaimana kau tahu nomor teleponnya ganti? Apa kau meneleponnya karena merindukannya?” Jo Gook menyelidik. Mi Rae berkilah untuk mengecek bahwa Jo Gook tidak membohonginya lagi.
“Apa kau ingin aku memberitahu nomor telepon barunya?” Tanya Jo Gook lagi
“Tunggu sampai aku merindukannya, aku akan meminta nomor darimu” Mi rae membalas sindiran Jo Gook dengan berpura2 masih mengharapkan mantannya, Jo Gook terlihat benar2 kesal (atau cemburu?). Mi Rae mengambil amplop itu, dan menanyakan perlu tidaknya tanda terima surat hutang.
Jo Gook kembali mengeluarkan sebuah amplop, kali ini berisi dokumen, ia minta Mi rae menandatangani dokumen itu saja sebagai ganti surat hutangnya, ia juga memberikan pulpennya. Mi Rae membaca dokumen itu dan ia shock.
“Mengapa kau menatapku seperti itu? Selain tubuhmu, apa kau punya sesuatu yang dapat digunakan untuk agunan?“. Ternyata surat yang diminta Jo Gook adalah agunan atas tubuh Mi Rae, bukan harta atau benda, tapi tubuh.
 
Meninggalkan restoran, Mi Rae dilarang masuk mobil Jo Gook. Jo Gook ingin agar Mi rae berjalan kaki, bertemu dengan banyak orang, memperkenalkan dirinya dengan menjabat tangan mereka dan tersenyum . Jo Gook memasangkan selempang pemilu dan membekali Mi Rae dengan setumpuk pamflet. “ini disebut jabat tangan diplomasi dalam politik. Tidak peduli apa orang itu akan membalas uluran tanganmu, kau yang harus memulai. Tak peduli jika orang lain akan menganggapmu orang gila, kau mengerti?“
 
Mi Rae pun mulai mengulurkan tangan pada orang2 yang ditemui dijalannya, “Halo! Saya Wonder Woman Inju, Calon Nomor 5, Mi Rae”. Ia terus berusaha untuk menyapa publik tetapi tak mudah, sebagian besar dari mereka mengabaikannya, ia juga menemukan posternya di halte bus dalam keadaan rusak.
Sementara itu, Jo Gook pergi ke kantor kampanye, disana penuh dengan ibu2. mereka antusias melihat Jo Gook, seperti biasa dia berusaha menyenangkan mereka. Jo Gook akhirnya terbebas, saat Ibu2 digiring keluar untuk makan siang. Tak lama Soo In datang, ia membawa program kampanye Mi rae sebanyak 50 rb eksemplar.
 
“Apa ini? Dari mana janji kampanye ini? bukankah seharusnya janji itu dibuat oleh yang bersangkutan.” Tanya Jung Do heran
“tentu saja iya, tapi apa dengan otak nya miliknya ia dapat membuat program2?” Jawab Jo Gook membenarkan tindakannya.
“Tidak peduli apa dia bisa atau tidak, itu harus diserahkan padanya untuk memikirkannya. Bagaimana kau tidak mempercayai kandidatmu sendiri? Jika begini, mengapa kau ke sini?”
“Itu sebabnya aku di sini, untuk menyelamatkan Mi Rae”
“Jangan kau pikir aku tidak tahu bahwa kau memiliki motif tersembunyi” kata Jung Do sambil mengambil buklet program kampanye dan membacanya, “Apa ini janji politik Mi Rae? bukankah ini janji politik Jo Gook? apa aku salah?” Jo Gook tak mengelak. Ia malah mempertanyakan apa kontribusi Jung Do untuk membantu kampanye Mi Rae.
 
Jo Gook lalu bertemu dengan sekelompok pengusaha, ia berusaha merebut perhatian mereka. Ia menggunakan rumor2 mengenai dirinya ‘Jo Gook yang dekat dengan Obama, PNS yang jenius dan berbakat, anak dari seorang ibu tunggal, rahasia terselubung di balik kedatangannya ke kota Inju, rencananya menuju kursi Majelis Nasional, Jo Gook yang anak haram dari mantan pembicara Majelis Nasional’ yang sebenarnya banyak yang di lebih2kan, menjadi daya tarik agar orang mau mendukungnya. Setidaknya untuk saat ini mendukung kandidatnya, Mi rae. Secara tak langsung ia menjamin keuntungan bagi mereka jika mendukungnya dengan memberikan kartu namanya.
Mi Rae sampai di resto Mexicana. Ia membaca janji politik yang di buat Jo Gook untuknya, tapi ia tak yakin.”orang sepertiku, menjanjikan hal semacam ini, apa orang-orang akan percaya? Aku sendiri bahkan tidak percaya“
“Apa yang ingin kau lakukan? Apa ada sesuatu yang telah kau pikirkan? apa janji yang akan kau berikan untuk pemilihmu? apa kau belum memikirkannya?”
Mi Rae bingung, karena ia memang belum menyiapkan apapun.

Jung Do memberi gambaran seberapa banyak populasi kota Inju dan hanya sebagian kecil saja dari mereka yang merupakan pemilih aktif. Dan dari sebagian kecil itu, rata2 mereka sudah terbiasa percaya pada partai yang sudah punya nama. Jung Do kini ingin Mi rae mulai memikirkan cara agar Mi rae dapat memikat orang2 untuk mendukungnya, ia meyakinkan pasti Mi rae bisa melakukannya. Jung Do meninggalkan Mi rae setelah sebelumnya mengingatkan esok mereka akan mulai kampanye aktif.

Mi Rae ingat perkatan Jung Do de kebun tempo hari, “Awalnya aku khawatir kau ikut pemilu hanya untuk uang, tadi aku mengujimu”
Esoknya putaran kampanye aktif dimulai, Mi Rae dan timnya pawai keliling kota menggunakan mobil terbuka. Mereka lalu berhenti di sebuah tempat, disana Mi Rae berpidato. Isi pidato Mi Rae sesuai yang Jo Gook tulis adalah tentang janji2 yang ia tak yakin bisa penuhi. Akibatnya Mi rae terlihat tak punya gairah untuk meyakinkan simpatisannya. Mi Rae kecewa dengan isi janji kampanyenya yang terlalu muluk2. Tapi disisi lain ia juga belum memikirkan apapun yang bisa dia janjikan untuk kampanyenya.

Kemudian datang mobil kampanye ayah Joo Hwa. Pidato mereka terlihat lebih meyakinkan dan energik. para simpatisan pindah posisi.
Mi Rae memilih turun dari mobilnya, ia mengamati kampanye ayah Joo Hwa. Joo Hwa mendekati seperti biasa ia berencana menyindir mi Rae, tapi Mi rae malah mengulurkan jabatan tangan dan memperkenalkan dirinya.
“Ada apa denganmu? salah minum obat?” Joo Hwa bingung dan keki.
“Bukankah kau pemilih juga? Pemilihlah yang menjaga demokrasi tetap hidup. Jika bukan karena kampanye, aku tak akan pernah punya kesempatan menjabat tanganmu “
Joo Hwa menjabat tangan Mi rae secepat dia bisa. Jung Do tersenyum melihat istrinya, ia mengingatkan Joo Hwa untuk memakai pakaian lebih hangat karena malam hari akan sangat dingin. Joo Hwa dengan sinis menjawab ia tak perlu berkampanye sampai malam, karena dengan waktu yang sebentar saja mereka sudah berhasil mengumpulkan massa. Joo Hwa juga mengingatkan ayahnya yang ingin bertemu Jung Do.
 
Jung Do berbicara dengan ayah Joo Hwa, yang menanyakan mengapa Jung Do mendukung orang lain daripada ayah mertuanya sendiri. Jung Do mengakui mertuanya sebagai pengusaha hebat, tapi tidak sebagai politikus. Ayah Joo Hwa mengerti, ia lalu mengubah topik, menanyakan soal anak yang tak kunjung hadir ditengah Joo Hwa dan Jung Do. Jung Do menjawab karena kesalahannya yang tak bisa punya anak. Di luar, Joo Hwa mendengar betapa Jung Do melindunginya.
 
Setelah mertuanya pergi, Jung Do yang juga bersiap pergi dikagetkan dengan perubahan Joo Hwa yang tiba2 perhatian padanya. Joo Hwa menyiapkan baju ganti dan selimut untuk ia bawa ke kantor kampanyenya Mi Rae. Joo Hwa yakin hubungannya dengan Jung Do bisa diperbaiki, ia memeluk erat suaminya.
 
Angka dukungan untuk Mi Rae masih sedikit, tak sampai 8%, tapi teman2nya pantang menyerah tetap berusaha mencari cara untuk meningkatkannya. Mi Rae melihat dari jauh bagaimana antusias teman2nya dalam menjalankan kampanyenya.
Saat teman2nya tertidur karena kelelahan, Mi Rae menyelimuti temannya, lalu pergi setelah meninggalkan pesan yang berisi ucapan terimakasih atas dukungan mereka dan betapa bangganya uia memiliki teman2 seperti mereka.
Mi Rae merasa bertanggung jawab untuk membuat usaha teman2nya tak sia2. Ia memutuskan untuk latihan membaca janji2 politik yang telah Jo Gook buat. Ia menghadap kelaut, melawan suara deburan ombak. Berapa kalipun mencoba ia tetap merasa gagal, kata2 itu bukan dari hatinya, terdengar lemah dan tak percaya diri. Mi Rae mulai menangis, ia meminta maaf pada semua orang, ia mengakui semua kesalahannya dan terus menerus meminta maaf, seolah2 didepannya memang banyak yang mendengarkan.
Mi Rae ternyata tak sendiri, ada Jo Gook di kejauhan yang melihat Mi Rae meratap, sorot matanya memancarkan kesedihan.
Esok harinya, kampanye kembali berlangsung. Tim Mi Rae tak mau tergantung pada kampanye keliling di atas mobil, mereka turun ke jalan untuk kampanye simpatik. Aksi bersih2 jalan, bahkan mendatangi pasar ikan yang juga tempat ibunya Mi Rae berjualan.
“Saya Mi Rae Calon no.5 Independen.Walaupun saya tidak punya janji untuk menjaga kehidupan dan kebebasan anda atau memberikan manfaat tapi saya akan membuat kematian Anda mendapat harga yang layak” Mi Rae mengajak ikan2 berbicara, membuat para pedagang ikan tertawa. Ibu mi Rae melihat putrinya dengan bangga.
Cara ini cukup efekif, popularitas Mi Rae mulai meningkat pesat, masih urutan keempat tapi angka dukungannya kini mencapai belasan persen.

Joo Hwa yang mulai khawatir pada Mi rae, mulai melakukan segala cara untuk meraih dukungan. Ia mengundang wartawan dan menyebar isu negatif tentang Mi Rae. Mi Rae yang terlihat sering keluar masuk hotel menginap bersama laki-laki. kubu Mi Rae yang melakukan lobi2 politik, dan Mi Rae yang menerima cek kosong sebagai dana kampanyenya.

Mi Rae (sesuai anjuran Jo Gook) kini banyak berjalan kaki agar bisa sering menemui langsung calon pendukungnya. Ia bertemu dengan Kepala park dan trio balaikota. Mereka tak ada yang mau menerima jabatan tangannya. Bahkan kepala Park terlihat menelpon seseorang.

Jo Gook mengundang kembali sekelompok pengusaha, seperti biasa ia berusaha melobi mereka dengan memanfaatkan rumor dirinya sendiri.
 
Malam menjelang, Mi Rae dan teman2nya kembali ke resto mexicana setelah seharian kampanye, ia beristirahat di teras restoran sementara teman2nya masuk kedalam. Tiba2 sekelompok pria melemparinya dengan tomat.
Untung saja Jo Gook dan Soo In datang, mereka menghajar pria2 tadi. Jo Gook berhasil memiting salah satu pentolannya dan menanyakan siapa yang meyuruh mereka. Tapi mereka tak mengaku bahkan menghina MI rae.
“Ini untuk telur“ Jo Gook mendaratkan tinjunya (Jo Gook tahu mereka orang yang sama suruhan Park, ternyata Park nelpon orang2 ini)
“Ini untuk tomat.” Tinju kembali melayang....“Dan ini untuk mulutmu“ Jo Gook siap melayangkan tinjunya lagi
Tapi tangannya ditahan mi Rae yang minta Jo Gook berhenti. Jo Gook menurut, akhirnya ia melepaskan orang yang dipitingnya. Para pelempar tomat buru2 pergi.
Jo Gook melihat Mi Rae, “Apa kau baik-baik saja?” melihat Mi Rae diam , Jo Gok setengah memarahinya kembali bertanya keadaan mI Rae, “aku tanya apa kau baik-baik saja? Kenapa kau diam saja padahal biasanya kau suka berteriak keras dan banyak bicara? Apa kau hanya berteriak kepadaku? Kenapa kau tidak minta pertolongan? Kenapa kau hanya berdiri di sana dan membiarkan dirimu dilempari?” Jo Gook setengah frustasi mengkhawatirkan MI Rae, tapi yang keluar dari mulutnya justru bentakan. Tanpa menjawab pertanyaan2 Jo Gook, Mi Rae hanya bilang akan membersihkan diri dan berbalik pergi . Jo Gook setengah memaksa menarik Mi rae masuk ke mobil.
“Apa yang kau lakukan? aku tak bisa pulang seperti ini, ibuku akan ketakutan ...” Jo Gook tetap menariknya masuk mobil lalu membawanya ke hotel.
 
Jo Gook menyiapkan bathtube berisi air panas, lalu mempersilahkan Mi Rae berendam, untuk kemudian istirahat. Mi Rae menurut, ia masuk ke KM. Ia tak langsung mandi, masih shock memikirkan yang baru saja terjadi padanya. Jung Do menelponnya menanyakan keadaannya, Jung Do sudah mendengar yang terjadi.
Mi Rae sudah selesai mandi, masih mengenakan jubah mandi, Mi Rae kedatangan Jung Do yang membawakannya pakaian ganti. Ia berusaha tersenyum untuk menunjukkan ia baik2 saja, baginya setidaknya tomat tak lebih menyakitkan dari telur. Mi Rae merasa tak enak pada Jung Do, ia selalu merepotkan. Jung Do tersenyum, “ini tidak gratis, kau harus membayarku. Sebenarnya aku inginkan sesuatu yang hanya kau yang dapat memberikannya“.
“Sesuatu yang kau inginkan? Apa itu?” Jung Do blm sempat menjawab saat Jo Gook masuk membawa kantong kertas berisi pakaian ganti untuk Mi rae juga.
Jo Gook terpaku melihat Jung Do telah datang lebih dulu membawakan Mi rae baju ganti. Akankah jadi perang???.

--Have a GrEat Day!!--

4 komentar:

istib umi iksiv mengatakan...

semangat ya untk nerusin sinopsisnya

vialin mengatakan...

Ketawa ketiwi sendiri mpe perut sakit baca ni sinop....
Semangat ya nerusin sinop'nya!!!!!!!

Akina~Ari RF mengatakan...

wahhhh malah belum nonton dan baca ni ari hahahhahahaha

ai mengatakan...

@Istib, semanaaaat!!
@Vialin, kalo sekarang dah sembuh kan ya?
@ari.. baca dong ah

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...