Kamis, 31 Maret 2011

[Rekap] The City Hall -- episode 7

OST The City Hall hari ini, Jeomooneun Gil (Night Falling on Street) by: Han Sul Hee, Kim Jung Bae.


Di resto bubur, Jo Gook menawarkan bantuan untuk Mi Rae dengan syarat tujuan mereka haruslah sama..
“Lalu apa tujuanmu, wakil walikota?“
“menggulingkan Walikota Go, kemudian melakukan pemilihan walikota baru... Apa tujuanmu sama? atau beda?
“kau ingin menggulingkan Walikota?”
Jo Gook menjabarkan catatan Walikota yang bertanggung jawab atas beberapa macam tindakan korupsi dan kriminal, pertumbuhan ekonomi yang stagnan, dan membuat 3 orang menjadi pengangguran (Kepala Lee, Boo Mi dan Mi Rae). Cukup banyak alasan kenapa Walikota Go harus di turunkan. Mi Rae tidak terpengaruh oleh kata-kata Jo Gook, ia minta Jo Gook saja yang melakukannya.
“Lalu apa tujuan protesmu di depan balai kota? Apa kau tak pernah berpikir bahwa kemunculanmu akan berakibat sesuatu?” Jo Gook terkejut dengan penolakan Mi Rae
“Aku telah memikirkannya, tujuan awalku hanya ingin sedikit menakut-nakutinya. Namun ternyata Walikota tidak takut sedikitpun. Jujur saja aku tidak menduga bahwa aku akan di pecat dan diusir. Aku pikir kalau aku mengejar dan menginjak ujung ekor mereka, mereka akan berusaha mempertahankan reputasinya dan mengembalikan uangku. Tapi aku salah." Mi Rae juga merasa menyesal karena tidak mengindahkan nasihat Jo Gook, ia sadar ini bukan permainannya lagi, “Aku benar-benar tidak memenuhi syarat untuk ikut bermain. apa aku bisa pergi sekarang?”
Jo Gook merespon dingin “pergilah!! kupikir kau realistis, tapi sepertinya aku salah. pergilah!“

“Tidak, kau tak salah menilaiku. Hanya saja aku telah mengalami begitu banyak hal dalam beberapa hari ini, itu cukup jangan ditambahi diriku di manfaatkan oleh orang lain.” Mi Rae pamit pergi. Ia keluar begitu saja dan menyadari masih memegang jas Jo Gook, ia lupa mengembalikannya. Mi Rae berbalik akan kembali ke restoran bubur saat dilihatnya mobil Jo Gook melewatinya begitu saja.
Mi Rae sampai di depan balai kota, ia mulai mengeluarkan aksesoris protesnya saat dilihatnya Jung Do datang. “Apa kau memiliki keberanian untuk menjadi saksi yang terhormat? Apa kau memiliki kepercayaan diri sampai akhir dan bertahan tidak menyerah di tengah jalan?” beruntun Jung Do menanyainya. Mi Rae diam, dan dengan berkaca2 ia mengangguk menjabat tangan Jung Do.
 
Tiba2 datang segerombolan orang yang membawa2 poster, ternyata orang2 itu biasa di sewa untuk kebutuhan unjuk rasa. Jung Do dan Mi Rae menolak tawaran mereka, dan berusaha mengusir mereka. Suasana tambah kacau sat kemudian datang reporter televisi. Jung Do dan Mi Rae tak mau membuat pernyataan apapun, tapi orang2 tadi malah menguasai kamera dan memberikan pernyataan, Kericuhan terjadi karena Jung do tak terima, sementara orang2 tadi keukeuh ingin terlibat. Keributan di depan balaikota disiarkan oleh Televisi.
(Mi Rae dan teman2nya menonton berita ala walikota di resto Mexicana)
Pihak walikota tak mau kalah, mereka juga membuat berita versi mereka sendiri. Mereka menampilkan wawancara yang menguntungkan walikota dan menjelek2an Mi Rae, bahkan mantan kontestan Soen Hwa menyatakan bahwa kemenangan Mi Rae adalah rekayasa karena Mi Rae dan Jo Gook adalah pasangan kekasih.
 
Jo Gook tertawa saat menonton berita itu di televisi, sementara Soo In melihat Jo gook dengan heran. “Tak perlu menonton lawak atau berita lucu untuk membuatmu tertawa. Apa kau tertawa? Dia mengatakan bahwa kami (Jo Gook dan Mi Rae) adalah kekasih. Bagaimana menurutmu?“ Soo In diam saja tak merespon pertanyaan Jo Gook, mungkin dia juga bingung mo ngomong apa. Jo Gook menatap Soo In, “Ah! Menurutmu dia cantik, Kenapa? Sekarang leluconku tidak terdengar lucu untukmu? tampaknya kau tidak berani tertawa di depan wajahku, lalu mana keberanianmu saat menikam di belakang punggungku? Terus belajar, bajingan!!“ Jo Gook benar2 masih marah pada pengkhianatan Soo In.
Anehnya justru saat ini Soo In tersenyum, dengan heran Jo Gook kembali berkomentar, “kau pikir ini lucu?”
Soo In menjawab ringan, “aku belajar dengan baik dan menyerapnya dengan cepat”, kata2nya menghentikan senyuman Jo Gook.
Di sebuah restoran, diam2 Joo Hwa membayar pihak2 yang memberi wawancara pro walikota di televisi, ia membagi2kan paket tonik. “Ini sedikit tanda penghargaan dariku. Meskipun pembungkus biasa saja, tetapi isinya benar-benar memberikan manfaat yang besar“. Saat semua orang sudah keluar, Joo Hwa memberi tanda, lalu Walikota Go Boo shil masuk dari sisi lain.
Walikota memuji Joo Hwa, yang bisa membereskan masalah dalam satu serangan. Walikota berencana menuntut Jung Do dan Mi Rae. Joo Hwa tidak setuju, apalagi kalau membawa2 Jung do suaminya. Walikota tak mau kalah, ia mengatakan tak ingin jatuh sendirian, apalagi Joo Hwa juga bersekongkol dengannya. Joo Hwa tidak terima bila walikota menganggap mereka di kubu yang sama.
“apanya yang beda?“ walikota protes
“Tentu Ada perbedaan besar. Aku mempunyai uang yang tidak sedikit. Apa kau tahu apa keuntungan punya banyak uang? ketika dalam bahaya, kita bisa pakai banyak cara untuk membereskan segala sesuatu. Jadi jangan pernah lagi mengancam kepala Lee, jelas tidak boleh membahayakan dirinya dengan cara apapun. Kau tahu apa maksudku?”. Joo Hwa mengancam walikota yang dijawab dengan deheman tanda mengerti.
 
Mi Rae masih mencoba menghubungi Boo Mi. Ia menelpon Boo Mi dari depan rumahnya, saat tiba2 ia lihat Boo Mi pulang. Boo Mi terkejut melihat Mi Rae menunggunya. Mi Rae menyapa, menanyakan Boo Mi dari mana.
“Wawancara” Boo Mi menjawab pendek
“Wawancara?”
“Aku ingin mencoba mengajar tapi kelihatannya tak mudah” Boo Mi terlihat putus asa. Mi Rae meminta maaf atas kesulitan yang di akibatkan olehnya, ia lalu memberikan kimchi yang di bawanya. Boo Mi yang kesal mulai marah, bahkan lebih marah dari sebelumnya. menurutnya warga Inju sekarang melihat Mi Rae sebagai orang gila dan pembohong.
Mi Rae tersenyum, walau mereka belum berbaikan, setidaknya mereka berbicara lagi. Mi Rae menenangkan Boo Mi.”Aku sedang mencari jalan keluarnya. Tunggulah sebentar lagi, aku pasti bisa menyelesaikannya.”

Serangan Joo Hwa belum berhenti, ia memanfaatkan para pemilik kios di pasar (yang kebanyakan adalah kerabat Walikota) yang menyewakan kiosnya pada para pedagang di pasar. Para teman2 ibu Mi Rae menyalahkan Mi Rae, karena kini mereka tak punya tempat berdagang setelah pemilik kios menolak untuk menyewakan tempatnya lagi.
 
Mi Rae bertemu dengan Jung Do, ia sempat kaget saat tahu rencana walikota yang ingin menggugatnya atas pencemaran nama baik tapi kemudian merasa tenang karena ingat Jo Gook yang pernah menawarkan bantuan. Tapi Jung Do mengingatkan bahwa Jo Gook yang politikus tidak akan benar2 membantu, ia hanya memanfaatkan Mi Rae. Tapi Mi reae merasa tak punya pilihan.
“bukankah kau tahu, kau sekarang berada di tengah permainan politik ?” Jung Do berusaha menyadarkan Mi rae
“Aku tidak tahu. Bahkan jika aku tahu, itu tidak akan ada bedanya. Jadi aku tidak akan berhenti“, Mi Rae bergegas bangun.
“Jika kau telah memutuskan untuk bekerja sama dengan Wakil Walikota maka aku tidak akan lagi membantumu” suara Jung Do menghentikan langkah Mi Rae,
“aku minta maaf. Aku masih ingin memilih jalan yang jauh lebih mudah“, ia telah mengambil keputusan walau itu membuatnya terpaksa menyakiti Jung Do.
 
Jadi Mi Rae menelan harga dirinya, meminta bantuan Jo Gook setelah awalnya menolak tawarannya. Ia menunggu Jo Gook pulang. Saat Jo Gook datang, Mi rae langsung memohon pertolongannya, ia meyakinkan Jo Gook kalau tujuan mereka kini sama. 
Jo Gook setuju untuk membicarakannya sambil makan malam, ia meminta Mi Rae menunggu sebentar sementara ia akan berganti pakaian.
Di kamarnya Jo Gook menemukan parfumnya yang di meja rias telah diganti tunangannya. Ia tak suka pilihan tunangannya, dan memilih memakai parfum cadangan dari dalam laci. Ia juga tak lupa mengambil dokumen di meja kerjanya, matanya melihat jepit rambut ikan di mejanya.
 
Ia terpaku, menatap jepit itu, ingatannya menerawang saat malam sebelum Mi Rae di keluarkan dari kontes, Mi Rae memasang vinyl di rumah nenek Kyung Hee bersama Jung Do. Malam itu Jo Gook ternyata tidak hanya mengawasi dari dalam mobil, tapi ia juga sempat berdiri cukup dekat didepan pagar rumah.
 
Cukup dekat untuk melihat keakraban antara Mi Rae dan Jung Do. Tapi tidak jelas apa tujuannya, kebetulan lewat atau mengikuti Mi Rae? Saat akan pergi itulah, ia melihat jepit rambut ikan milik Mi rae di tanah dan mengambilnya kini menyimpannya.
Jo Gook dan Mi rae membahas rencana untuk walikota sambil makan malam berdua di restoran hotel mewah, jo Gook terus memperhatikan Mi Rae yang asyik makan.
“Apa akan ada yang terluka?” Tanya Mi Rae saat makanan dipiringnya telah habis.
“Harus ada”
“Dapatkah kau menjamin hanya Walikota Go yang terluka?
“Tidak, tidak bisa. Kenapa?? Apa kau sekarang menyesal telah datang mencariku?”
“Tidak, aku ingin tahu apa yang membuat kau begitu percaya diri. Aku kini yakin, lagipula demi mendatangimu aku telah membuat seseorang tersakiti”
“Siapa yang telah kau sakiti?” Mi Rae tak mau menjawabnya, ia malah mencomot steak yang tersisa di piring jo Gook dan memakannya.
Jo Gook lalu bangun tapi Mi Rae menahan tangannya, mengira Mi Rae tak membiarkannya membayar, ia menasihati “ini tempat mahal, kau takkan sanggup membayarnya”
“karena tempat ini mahal, makanya sayang melewatkan dessertnya. Cepat duduk, aku benar-benar ingin makan dessert setelah makan” wajah Mi Rae memelas memohon.
Setelah makan malam saat mereka berjalan keluar dari restoran hotel, Mi Rae memijat perutnya yang penuh, “Sangat sayang kalau tidak dihabiskan.”
Jo Gook mengakui bahwa ia belum pernah melihat seorang wanita seperti Mi Rae sebelumnya. Mi Rae berhenti, dan dengan malu-malu bertanya pada Jo Gook macam apa wanita Mi Rae itu. “Jenis wanita yang tidak mengunyah makanan, tapi langsung menelannya. kau makan banyak sekali, kau tak memiliki gangguan pencernaan?” Pertanyaan Jo Gook jauh dari sangkaan Mi Rae, tapi ia mencoba cuek, ia bilang bahwa pacar terakhirnya sangatlah tampan dan selalu menyebutnya begitu imut dan mungil.
 
Saat itu juga Mi Rae terpaku melihat sepasang kekasih di lobby hotel, Jo Gook heran melihat Mi Rae, “Apa yang salah? Apa kau kenal mereka?”Jo Gook ikut2an mengamati.
“Ya. Setelah dia lulus ujian tingkat 9 PNSnya, bajingan itu mencampakkanku dan merayu gadis yang jauh lebih muda. Selain itu, sekarang aku harus membayar semua utang-utangnya” Ia lalu minta Jo Gook minggir agar tidak malu atas apa yang nanti Mi Rae lakukan. Ia akan mencoba saran dari Jo Gook agar orang2 tak lagi meremehkannya.
Mi Rae mendekati mereka yang terkejut melihatnya, ia dengan tegas lalu minta mantannya melepas sepatu, dasi, ikat pinggang, jam, bahkan kemejanya.
“Apa maksudnya?” sang mantan bingung
“Apa kau keluar kencan memakai barang2 yang dibeli olehnya?” pacar baru mantannya mengernyit jijik.
mantan pacar Mi Rae berusaha mengelak, tapi Mi Rae tetep keukeuh, “Apanya yang tidak? kau tak akan melepaskannya? Cepat!! Apa kau tahu betapa aku telah menderita demi membayar hutang2 mu?
“Hutang? Apa kau juga memiliki hutang?“ pacar baru sang mantan makin kesal
“tidak” jawab sang mantan, tapi pacar barunya sudah sangat kesal dan akan pergi tapi tidak jadi karena tiba2 datang Jo Gook,
Jo Gook menghentikan pacar baru mantan Mi rae. mi Rae risih saat Jo Gook mendekat, “Lepaskan kalung dan cincin itu juga“ kata Jo Gook menunjuk perhiasan yang dipakai pacar baru mantan Mi Rae. Mi Rae terkejut menyangka Jo Gook kenal dengan gadis itu, tapi ternyata Jo Gook melakukannya karena menurutnya Mi Rae perlu mengambil bunganya juga.
mantan Mi Rae kesal, ia tak terima ada orang yang ikut campur.
Mi Rae menatap tajam mantannya, “Sebaiknya hati-hati dengan apa yang kau katakan. Apa kau tahu siapa orang ini? dengan cepat Mi Rae mendeskripsikan Jo Gook. kau hanya PNS tingkat 9 bukan? orang ini adalah Wakil Walikota.” Mi Rae menggamit lengan Jo Gook.
Jo Gook tak keberatan bersandiwara demi Mi Rae, ia meminta ponsel mantannya Mi Rae dan mengetikkan noreknya, ia minta agar mantan mi rae membayar hutangnya lewat rekening itu.
“Apa kita bisa pergi sekarang? Aku sudah memesan kamar”. Jo Gook bertanya dengan lembut pada Mi Rae. Mi Rae masih melotot pada mantan pacarnya reflek menjawab “ya”, lalu seakan baru sadar arah pembicaraan Jo Gook langsung menatap Jo gook, “Apa?”
“aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi” kata Jo Gook dengan suara manja menatap Mi Rae penuh arti, Mi Rae yang akhirnya mengerti langsung berbalik ke pelukan Jo Gook, “Oppa, aku juga tidak bisa menunggu lebih lama lagi” mereka lalu pergi berpelukan meninggalkan mantan Mi Rae yang terbengong2.

Di dalam di kamar hotel, Jo Gook yang melihat Mi Rae lesu lalu menanyakan apa Mi Rae blm bisa melupakan mantannya tadi. “Apa kau pernah telah ditinggalkan oleh seseorang sebelumnya? “ Mi Rae balik bertanya.
“pernah”
“pernah?”
“tapi bukan seorang wanita “maksudnya Jo Gook itu bapaknya
“berarti seorang pria. apa pak Lee?” Mi Rae menebak, imajinasinya kembali bermain. Ia  menerawang mengingat perkataan pak lee, “Pada malam bahwa dia tidak pernah bisa melupakan ... ”
“kepala Lee menceritakannya padamu?” Jo Gook heran Jung Do cerita pada Mi rae tapi tidak mau cerita padanya
“Apa benar?” Mi rae minta kepastian
“Sepertinya mungkin kami telah tidur bersama.Tapi aku tidak ingat semua itu”
“Bagaimana bisa? Kau tidur bersama dan berpura-pura tidak ada yang terjadi?”
Jo Gook menyadari arah pembicaraan mereka yaitu Jo Gook dan tunangannya, (Go Hae pernah menginap di kamar hotel yang sama dengan Jo Gook). Mi Rae juga mulai merasa canggung, topikpun akhirnya beralih ke masalah walikota.
 
Jo Gook memberikan satu bendel dokumen. “Ini semua bahan pelanggaran Walikota Go, hanya ini yang bisa kulakukan.” Mi Rae diam menatap map yang disodorkan Jo Gook, Ada apa dengan ekspresimu? Apa kamu takut?” Jo Gook menatap Mi Rae yang tegang
“sedikit, Tapi mengapa kau berikan ini padaku? bukankah lebih baik kau yang melakukannya sendiri?
Jo Gook memberi alasan, politikus yang menjatuhkan politikus lainnya akan di cap jelek, sementara jika Mi Rae yang melakukannya Mi rae tidak akan di cap apapun, karena Mi Rae sendiri adalah korban dari walikota.
“Apa ada motif politik? Tujuanmu adalah untuk menjadi Walikota berikutnya?“
“Jika iya, kau akan memilih ku?“
Mi Rae enggan menjawab, menurutnya itu rahasia. Setelah perdebatan panjang, Mi Rae pamit, “Tidak peduli apapun itu, aku akan memilih caraku sendiri, protes ini pasti akan berhasil”, Mi rae lalu akan pergi.
Jo Gook menahan tangan Mirae, “Tunggu sebentar!“Jo Gook bangun, ia mengeluarkan jepit ikan milik Mi rae dan menjepitkannya di rambut Mi Rae.
“darimana kau mendapatkannya??
Jo Gook tak menjawab, ia malah bertanya, “Apa itu ikan? ....Aku harap yang terbaik untukmu, yang akan membawa keberuntungan untuk kita berdua”.
Di rumahnya, Jo Gook merenung diluar, ia menatap kandang anjing dan mengingat tulisan yang di buat Mi Rae, “Jo Gook adalah orang bodoh” yang buru2 dihapusnya saat Jo Gook mendekat, ia juga ingat insiden gulungan vinyl , dansa tango, dan terakhir saat Mi Rae dilempari telur sementara ia melihatnya dari ruangannya dengan raut sedih. Jo Gook terus kepikiran Mi rae nih ceritanya.

Sementara itu di kamarnya, Mi Rae membaca dokumen dari Jo Gook yang ternyata dokumen2 korupsi walikota: Aset, anggaran, perusahaan ilegal, dan banyak lainnya. Ia menatap ngeri dokumen2 itu, lalu teringat dengan perkataan Jung Do yang tak mau membantunya jika ia memilih bekerja sama dengan Wakil Walikota.

Paginya Mi Rae memberanikan diri menelpon Jung Do, “Kepala Lee, ini aku. aku tahu aku telah sangat menyakiti mu. Bisakah kita bertemu?” Tanya Mi Rae tanpa tahu yang mengangkat telpon itu Joo Hwa. Joo Hwa lansung memarahi Mi Rae, ia ingin tahu kenapa Jung Do harus merasa tersakiti. Mi Rae tak mau menjelaskan, meminta maaf dan menutup telpon.
Joo Hwa menutup telpon dari Mi rae dan kembali menatap pekerjaannya, ia sedang memasak berdasar resep. Jung Do masuk ke dapur dengan handuk tersampir, ia terkejut melihat kesibukan Joo hwa. “duduklah. katamu makanan di kantin balai kota itu tidak enak jadi kau mengundurkan diri. Dari sekarang dan seterusnya aku yang akan mempersiapkan bekal makan siang, kau akan kembali bekerja”

Jung Do duduk dan mencicipi masakan istrinya, ia mencoba menikmatinya, padahal kalo liat ekspresinya kayaknya gak enak, wkwk. Joo Hwa mempertanyakan Jung Do tak mau kembali bekerja dengan alasan sibuk, “bagaimana mungkin pengangguran sangat sibuk? “

Jung Do mengatakan akan mencari pengacara untuk persiapan gugatan walikota.

Joo Hwa kesal, ia telah mengingatkan bekerjasama dengan Mi Rae akan menciptakan masalah. Lalu bilang Mi Rae tadi menelepon, dan ia memarahinya. “Aku tidak akan mengizinkanmu untuk menjawab atau menelpon dia”. Joo Hwa mulai merajuk.
Jung Do membalasnya dengan santai, “jangan lagi bermain poker menggunakan IDku. Kita sudah tidur di kamar terpisah, mengapa kau membuang koin emasku?“. 

Joo Hwa tambah kesal, ia menanyakan lagi apa Jung Do mau bekerja lagi atau tidak.

Jung Do mendekati istriya, ia menyeka wajah istrinya yang cemong2 tepung, “Apa ini? Tidak peduli seberapa kotor, kau tetap terlihat cantik”
“Joo Hwa senang di puji suaminya, ia mulai bercerita mengenai kecantikannya, tapi langsung berubah kesal saat Jung Do menyindirnya soal kelebihannya sebagai anggota Dewan kota yang cuma punya modal cantik.
“Jangan makan! Apa yang ku masak kau tak boleh makan!!” Joo Hwa ngambek membawa piring makanannya pergi, Jo Gook tersenyum melihat tingkah istrinya.
 
Jung Do menemui Mi Rae di restoran Mexico, dihadapannya berserakan dokumen dari Jo Gook . “Mengapa kau ragu-ragu? Bukankah ini yang kau tunggu?” tanya Jung do heran. Mi Rae mengaku bingung, ia tak tahu apa yang harus dia lakukan dengan dokumen2 itu, menurutnya jika Walikota jatuh, itu bukan kemenangannya, tapi kemenangan Jo Gook. Namun yang paling penting sekarang, setelah membaca dokumen itu , ia juga tidak dapat duduk diam dan tak melakukan apa-apa.
“Aku menginginkannya untuk Boo Mi, ibuku, para pedagang di pasar, aku dan kau Kepala Lee, agar kita bisa sama seperti dulu.” Mi Rae lalu meyakinkan diriya bahwa Jung Do memang akan selalu mendukungnya, Jung Do setuju dan Mi Rae tersenyum.

Setelah kepergian Jung do, teman-teman Mi Rae bergegas mendekat, mereka memberi saran beberapa cara, “tidak, kali ini kita akan pakai caraku sendiri. kalian semua harus datang pada Jumat jam 2 siang di depan gerbang Balai Kota” Mi Rae pergi meninggalkan teman2nya yang masih bingung
Esoknya, hari masih gelap saat mi Rae mulai beraktifitas. Ia bersepeda berkeliling mengedarkan dokumennya kepada warga. Membagikannya dirumah2, menyisipkan di koran pagi, pejalan kaki, halte, warnet, dll.
Jo Gook menghentikan mobilnya, ia berhenti saat melihat dari kejauhan Mi Rae sedang membagi2kan dokumen.Ia mendekati seorang pria di halte bis dan minta ijin untuk membacanya. Tersirat senyum di wajah Jo Gook setelah membaca dokumen Mi Rae.

Dokumen itu cepat menyebar. Di kantornya Walikota Go Boo shil marah2, bagaimana Mi Rae tahu setiap detail korupsinya sementara ia sendiri sudah lupa. ia minta kepala park segera mengurusnya. Walikota lalu minta saran Joo Hwa yang kemudian menyarankannya menemui Dewan Propinsi Boo.
Walikota Go Boo shil datang memohon pada Boo Jeong Han. Dewan propinsi Boo kesal dengan kedatangan Boo Shil justru pada saat semua mata sedang melihat ke arah Boo Shil (takut kebawa2). Walikota terus memohon, minimal dewan Boo bisa menghentikan berita lewat telpon atau menenangkan opini publik dengan pernyataan.

“Apa kau pikir panggilan telepon bisa membereskan situasi ini?“ Dewan Boo berusaha menolak. walikota mencoba mengancam, bahwa ia bukanlah satu-satunya orang yang menghabiskan uang itu, uang itu juga dipakai untuk dukungan pada Dewan Boo.
“Apa katamu? Apa aku pernah meminta dukunganmu?“ Boo Jeong Han dan Walikota Go mulai saling menantang, saat tiba2 Jo Gook masuk mengabaikan asisten Dewan Boo yang melarangnya masuk.
Jo Gook tersenyum ngece (ngejek), Dewan Boo Jeong Han dan Walikota Go Boo shil mencoba tenang dan merapikan diri.
“Jadi Anda di sini. saya mengkhawatirkan Anda” Jo gook mencoba menyindir walikota
Walikota mengelak, ia berkilah Sudah lama tidak bertemu dewan Boo, dan hanya mampir untuk memberi salam kepada nya, ia kemudian menanyakan tujuan kedatangan Wakil Walikota. Jo Gook menjawab provokatif bahwa ia datang untuk memastikan dua orang kroni ini baik2 saja, “apa aku terdengar kasar?” tanyanya lagi membuat walikota tambah kesal dan langsung pergi.
Jo Gook mendekati Dewan Boo, ia memberitahukan dukungan terhadap walikota yang terus menurun dan menyatakan agara Dewan Boo tidak lagi mendukungnya karena kemungkinan Dewan Boo juga terseret kasus itu. Faktanya memang dalam kasus ada bukti Dewan Boo terlibat.

Jo Gook juga menyatakan bahwa untuk menjatuhkan Walikota Boo Sil tidak sulit, “Anda tahu dengan baik bagaimana karakteristik warga Korea, dibandingkan dengan korupsi, skandal perselingkuhan terlihat lebih menarik”
Setelah Jo Gook keluar, Dewan Boo berpikir keras, ia lalu menelpon Ny. Jung.

Joo Hwa berkumpul dengan anggota dewan lainnya, ia dengan demokratis menanyakan soal sikap yang diambil yang lain, padahal mah tujuannya tetep mereka harus mengikuti caranya.”Baiklah! keputusan sudah diambil dan disetujui oleh partai Shin Min Dang.” Joo Hwa menyimpulkan secara sepihak.

Sementara itu, Mi rae masih terus menyebarluaskan dokumennya. Kepala Park dan Hae Ri sibuk menerima telepon yang terus berdering dan mencoba mengklarifikasi peredaran dokumen yang menjelekan.
 
Sementara itu, di kantornya, Walikota mengumbar kemarahan mencari ide dari para stafnya, semua kepala Dinas berkumpul. “Biasanya mulut kalian berbunyi, mengapa sekarang semua begitu bisu? satu demi satu ... Apa ide kalian?”
Ia memulainya dari kepala Byeon, kepala Byeon memberi saran agar mereka membuat penyangkalan. sementara Kepala Moon menyarankan untuk mengumpulkan dan membakar semua dokumen atau berita yang menjelekkan walikota,dan terakhir Kepala Ji menyarankan agar Walikota bersembunyi.
“Apa? Apa kau pikir aku penjahat hingga harus sembunyi?”
Jo Gook datang , ia minta waktu untuk berbicara. Walikota tersenyum melihat Jo Gook. “bagus kau telah datang. Wakil Walikota kita ini benar-benar cerdas.“ Walikota muji2 Jo Gook, ia lalu minta solusi.
“Sebenarnya saya benar-benar minta maaf, saya sangat ingin membantu Anda dalam hal ini tapi saya tidak punya waktu luang. Ia lalu mengeluarkan amplop dan memberikannya pada walikota.
“Apa ini?”
“surat pengunduran diri“
“surat pengunduran diri? Apa yang kau katakan? Ketika keadaan sulit, kita semua harusnya bersatu“
Jo Gook menyatakan akan cepat mencari pengganti dirinya, dan ia mengajukan cuti lalu pergi meninggalkan walikota yang tambah uring2an.
 
Jo Gook menemui Gubernur, “Pengunduran diri? Beraninya kau mengundurkan diri saat Pemilu Majelis Nasional di depan mata, apa sebenarnya yang kau inginkan?”
“Saya punya rencana lain”
“Siapa yang mengijinkanmu untuk memiliki rencana lain?“ Gubernur terus ngomel2, sementara Jo Gook menanggapinya dengan santai, “Walikota Kota Inju akan segera diganti“
“Apa?“ gubernur bingung.
Jo Gook menutup pertemuannya dengan gubernur dengan mengatakan ia akan segera menemukan calon yang cocok untuk keperluan partai mereka.

Gerbang Balai Kota, hari itu hari jumat, jam sudah hampir jam 2 siang, Mi Rae naik sepeda kesana, tetapi tidak ada satupun yang datang. Mi Rae melihat jamnya, waktu masih kurang 15 menit lagi, ia msih berdiri menunggu.
Sementara itu, edaran dari Mi Rae bernasib macam2, ada yang terinjak2 di terminal bus, bahkan menjadi pembungkus makanan. (sama aja kayak disini, pedagang kaki lima sering pake kertas bekas buat bungkus makanan).
 
Jam menunjukkan 15:05. Mi Rae mulai lelah menunggu, ia berjongkok menyembunyikan wajahnya. Kemudian ada anak kecil datang dengan ibu hamil. Mi Rae mendongak sementara ibu dan anak itu juga memandanginya. Bumil itu mengaku telah membaca edaran yang Mi Rae bagikan. Baginya protes Mi Rae sama dengan membantu anaknya untuk menciptakan masa depan yang lebih baik, hingga ia datang untuk mendukung Mi Rae. Mi Rae berterima kasih banyak dan menjabat tangan ibu itu.
“Apa hanya 3 orang?” tanya ibu itu melihat tak ada orang lain lagi disana.
“Tidak …ada 4“ Mi Rae menyentuh perut ibu hamil itu, “Sekarang ada 4. Sungguh, aku sangat berterima kasih“
“tidak hanya 4” kata Jung Do dan teman-temannya dari Mexicana yang
 juga datang mendukung. Mi Rae tersenyum lebar menyambut mereka.

Sebelum keadaan bertambah kisruh, Joo Hwa langsung ambil strategi cuci tangan, ia buru2 mengadakan konferensi pers. Mewakili partainya ia menyatakan penyesalan. ”Saya atas nama partai Shin Min Dang, kami yang menjabat di Dewan Kota akan melakukan yang terbaik untuk meredakan dan menyelesaikan skandal ini. Kami akan meninjau insiden ini dan memberikan semua penjelasan yang memuaskan

Walikota Go kaget saat mendengar dari asisten Park, bahwa Joo Hwa sedang konperensi pers. Tak lama Joo Hwa masuk, ia datang untuk menjelaskan semua, ia minta agar walikota bertanggung jawab penuh untuk semua kesalahan dan mengundurkan diri dari jabatannya. Jangan menunggu masalah menjadi lebih besar.
 
“Siapa bilang bahwa aku harus mengundurkan diri? Aku tidak akan melakukannya“ Walikota keukeuh.
“kau harus dan segera“ kata Joo Hwa melempar koran hari ini. Walikota Go Boo shil mengambilnya dan shock untuk membaca berita utama tentang perselingkuhan walikota lengkap dengan bukti foto.
“Apa ini? Dia mengatakan ingin menyimpannya sebagai suvenir ... Arrgggh” walikota menggigit kepalan tangannya. Ia lalu mengemis pada Joo Hwa, “Dewan kota Min, aku tidak ingin masuk penjara. Aku tak suka makanannya.”
“Ada pepatah; kau harus tahu kapan waktu yang tepat untuk pergi. Kau harus pergi dengan kesan baik. Kau harus bertanggung jawab atas semuanya, partai kita harus tetap berjalan.” Joo Hwa meninggalkan Walikota Boo shil yang masih mencerna semuanya. Walikota  menjatuhkan lutut kelantai menangis, ia dihibur oleh Asisten Park.
Diluar balaikota, satu persatu pendukung mI Rae bergabung. Makin lama makin banyak orang yang berkumpul mendukung dan memberi semangat pada Mi Rae. Atas desakan banyak pihak dan tanpa satupun yang mendukungnya termasuk partainya sendiri, Walikota Go Boo shil akhirnya mengeluarkan pernyataannya, ia merasa menyesal, minta maaf, dan mengaku akan bertanggung jawab penuh atas segala kesalahannya. ckckck, kasian juga dia dikorbanin partainya.
 
Jung Do datang untuk mendukung Mi Rae. Tanpa kata, senyum dan anggukan Jung Do mengatakan bahwa Mi Rae telah melakukan semuanya dengan baik.
Sementara itu, Jo Gook juga berada di belakang kerumunan melihat dari jauh dan terpancar senyuman dukungannya.

Terdengar suara Reporter yang mengabarkan tentang kantor kejaksaan telah diperintahkan pengadilan untuk menyelidiki penyalahgunaan tugas Walikota Go Boo shil, dia sekarang ditahan.
Berita di koran pun muncul : Nona Hering menyelamatkan warga kota Inju” lengkap dengan foto kemenangan Mi Rae waktu kontes.

Kelopak Bunga2 cherry mulai berjatuhan, begitu juga di rumah mi Rae. Ia duduk menekuk kakinya dengan kedua tangan menjulur kedepan. (kalo aku ditengah guguran bunga gini kayaknya bakalan bersin2 deh, wkwkwk)
“Yah! aku menganggur lagi” mi Rae mengeluh sendiri menatap kelopak bunga Cherry yang jatuh ke tangannya. Tiba2 ia melihat sepasang kaki masuk ke halamannya, saat mendongak ia melihat Jo Gook mulai mendekatinya.
“Mengapa ... kau di sini?“ Tanya Mi Rae saat Jo Gook sudah berdiri di depannya.
 
“karena aku merindukanmu” kata Jo Gook meyerahkan buket bunga yang dibawanya. Mi Rae mematung memandang hampir tak berkedip. Mereka saling memandang seperti ingin mengukur kedalaman hati masing2… 

5 komentar:

arie sshi mengatakan...

cie..cie... jo gook dah mulai berani ngaku rindu tuh....

ai mengatakan...

xixixi, iya tuh... Jo Gook blm terbiasa dengan 'hati'nya yang baru yang 'terpesona' oleh 'wanita biasa'... wkwkwk, suka senyum2 ndiri ngebayangin aku yang jadi MI Rae

ai mengatakan...

xixixi, iya tuh... Jo Gook blm terbiasa dengan 'hati'nya yang baru yang 'terpesona' oleh 'wanita biasa'... wkwkwk, suka senyum2 ndiri ngebayangin aku yang jadi MI Rae

ai mengatakan...

xixixi, iya tuh... Jo Gook blm terbiasa dengan 'hati'nya yang baru yang 'terpesona' oleh 'wanita biasa'... wkwkwk, suka senyum2 ndiri ngebayangin aku yang jadi MI Rae

ai mengatakan...

wkwkwkwk, nyepam di blog ndiri

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...