Rabu, 09 Mei 2012

[Sinopsis] The City Hall -- Episode 19 Part 2/2

Akhirnya Jo Gook tahu kalau alasan kemunduran Bb dari pencalonan Presiden dalam pemilu sebelumnya itu karena dirinya. Seseorang mengetahui keberadaan Jo Gook yang anak tidak sah dari Bb lalu mengancam Bb. Bb terpaksa mundur karena kalau lanjut akan ada sidang etika.
Kalau pemilu periode lalu Jo Gook menjadi batu, kali ini Jo Gook justru menjadi sayapnya Bb. Karena sebenarnya orang yang di maksud adalah Presdir Go dari Dae Han Group. Jo Gook kaget.
Ketua Dewan melanjutkan cerita kalau pada pemilu yang lalu itu Presiden terpilih yang mendapat dukungan dari Presdir Go justru memutuskan hubungan dengan Presdir Go begitu saja. Bisa di bilang bahwa upaya Presdir Go semua sia-sia. Jadi ia kembali menjalin hubungan dengan Bb, dan kelemahan Bb menjadi kekuatannya, dimana Jo Gook di tunangkan dengan putri Presdir Go.

Sambil berjalan pulang, Jo Gook memikirkan ucapan ketua Dewang Kota, “Jika kau jadi anggota keluarga Presdir Go, siapa yang bisa menghentikan mereka?” (sebuah kolaborasi berbahaya dimana penguasa politik yang kuat bertemu penguasa uang yang kuat pula).
Jo Gook kaget melihat Mi Rae menunggunya di gazebo dekat kantornya. (tempat yang sama waktu Mi Rae nangis 19 part1). Mi Rae mengaku mencari Jo Gook di kantornya tapi Jo Gook tak ada. Mi Rae ingin mengucapkan terima kasih karena Jo Gook telah meminjaminya payung.
“Kau bahkan tidak menggunakannya.”
“Ku pikir juga begitu… Tapi ternyata aku berada di bawah payung terbesar di dunia…. Musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin semua digulung menjadi satu hari hujan, dan aku di guyur oleh semua hujan di dunia… Jadi aku berterima kasih padamu karena menjagaku tetap kering”
Jo Gook mengerti, dalam diam ia tahu arah bicara Mi Rae, Jo Gook menahan senyumnya. Ia lalu menanyakan kabar Mi Rae, karena biasanya orang akan sakit setelah kehujanan. Mi Rae menjawab yang sakit setelah kerhujanan hanyalah orang orang malang, ia kan murni dan polos. Jadi kalaupun ia mesti berguling-guling di salju, Mi Rae yakin tidak akan sakit.
Jo Gook senang mendengarnya, tapi ia ingin tahu kenapa Mi Rae menghabiskan waktu menunggunya padahal katanya mau menangkap Jo Gook dengan jaring yang besar.
Mi Rae mengaku cuma asal omong, yang sebenarnya ia ingin berkata, “Bisakah aku datang untuk memberikan laporan tentang Kota?"

Udah baikan ceritanya. Jo Gook mempersilahkan, tapi ia memberi tahu kalau dalam sepuluh hari ke depan ia akan sibuk, karena ia menyiapkan diri ‘berperang’ dengan seseorang (Bb). Mi Rae tahu ada dirinya di dalam ‘peperangan’ itu, ia ingin tahu apa yang bisa ia lakukan untuk membantu Jo Gook.
“Jangan menyerah…. “ Jo Gook minta Mi Rae bertahan lebih lama untuk tidak menandatangani (MOU).
Go Hae kaget saat mendengar laporan mengenai walikota Shin yang sulit di temui. Ia memutuskan menemui Mi Rae sendiri. Ia lalu menanyakan soal email dari Greenland pada asistennya dan mendapat jawaban kalau perusahaan itu salah mengirim daftar item limbah yang akan di jual pada Dae Han. Si asisten tampangnya terlihat menyembunyikan sesuatu. Sepertinya ia sengaja membohongi Go Hae.
Ternyata kedatangan Go Hae juga sia-sia, Mi Rae tak berhasil ia temui. Percuma ia menunggu hampir seharian.
Padahal mah didalam, Mi Rae sedang main game, wkwkwk. Jadi inget walikota Go yang gak mau keluar saat Jo Gook datang pertama kali.
Mi Rae mendengar seseorang membuka pintu, ia langsung sembunyi. Padahal yang datang Jung Do.
“Apakah mereka sudah pergi?”
“Katanya ia akan kembali besok.”
“Lagi?” Mi Rae membuang nafas panjang memikirkan bagaimana lagi caranya menghindar. Ia sumringah saat di ingatkan jadwal pengiriman makan siang untuk para orang-orang tua yang hidup sendiri dan yatim. “Haruskah kita pergi tiga hari berturut-turut?”
Esoknya Mi Rae and The Gank tampak sibuk, dari mulai membagi bubur gratis, membersihkan rumah, membersihkan anak-anak. Jung Do sibuk mencatat kebutuhan masing-masing rumah.
Sorenya Mi Rae pulang dengan lelah, ternyata dua orang pria yang membawa mobil mewah tengah menunggunya.
Hari sudah gelap saat Mi Rae menemui Bb, ia menyapa Bb.
“Kau sengaja menahan penandatanganan kontrak dengan Grup Dae Han?” Tanya Bb tanpa repot menjawab salam Mi Rae.
Mi Rae mengakuinya, ia mencoba menerangkan alasannya soal kemungkinan Dae Han mengimpor bahan berbahaya, belum selesai bicara Bb memotongnya.
“Seumur hidupku, baru kau satu-satunya orang yang tidak berpikiran umum, tidak mengerti uang juga politik.” Dengan suara menggeram, Bb mengungkapkan betapa murkanya ia, bila yang lain cukup satu kata Mi Rae sepuluh katapun belum mengerti keinginannya. Bisa-bisanya Mi Rae menjadikan Dae Han musuh padahal tahu kalau Bb dekat dengan Dae Han.
Mestinya Mi Rae tahu diri kapan saatnya mesti berhenti dan mulai berlutut (=minta maaf). Jika Mi Rae terus melawan Bb, Bb yakinkan tak ada pilihan selain merobek nafas Mi Rae, juga bagi Jo Gook berarti Mi Rae telah memadamkan api cita-cita, mematahkan sayap, dan menghancurkan Jo Gook.

“Jika aku tak menerima berita tentang kontrak dengan Dae Han Group diselesaikan besok, aku akan menyelesaikannya dengan caraku…. Aku akan mulai dari bawah, aku akan menghancurkan setiap orang yang kau kenal… “ Bb mendeskripsikan ancamannya, ia akan mulai dari Pabrik yang menyerap tenaga kerja paling banyak, Inju Fibers. Lalu semua pekerja balaikota, beserta keluarganya, beserta seluruh kerabat keluarganya, juga teman dari kerabat keluarga. Kalau perlu seluruh tetangga para teman dari kerabat itu akan ikut hancur. Hiii syerem, berarti dengan kata lain, satu kota bisa saja di hancurkan oleh Bb.
Seakan baru bernafas, Mi Rae megap-megap setelah Bb pergi. Ia terkulai jatuh. Satu yang di ingat ia harus menelpon Jo Gook. Dengan gemetaran Mi Rae ‘ngaburudulkeun’ (mengeluarkan isi dengan membalik wadah) isi tasnya demi mencari ponselnya.
Sayangnya ponsel Jo Gook tak aktif. Dari Soo In akhirnya Mi Rae tahu kalau Jo Gook sedang ke Eropa selama 10 hari. Mi Rae tak kuat, ia merasa rapuh sendirian…
Mi Rae tak pulang, semalaman ia berpikir mencari jalan keluar di kantornya. Sesekali tampak air mata mengalir di pipinya. Hari sudah kembali terang, Mi Rae sudah memutuskan untuk menandatangi kontrak dengan Dae Han, ia pun menelpon Go He dan memintanya datang sore nanti.
Masih dengan wajah kusut, Mi Rae mendatangi ruangan wakil walikota, tampak Joo Hwa dan sekertaris Park ada di sana juga. Joo Hwa dan sekertaris Park mengomentari Mi Rae, diamnya, pakaiannya, pokoknya Mi Rae yang tak seperti biasanya.
“Aku minta tolong… Aku memintanya dari lubuk hatiku, kau harus membantuku… Ini permintaan pertamaku juga yang terakhir…. Tolong dengarkan aku.”
Joo Hwa bingung menatap Mi Rae, berkali-kali ia bertanya apa dan apa….
Joo Hwa yang telah mendengar permintaan Mi Rae berjalan gontai, ia menyapa Jung Do yang baru keluar dari sebuah pintu dan bermaksud share soal Mi Rae. Sayangnya kali ini Jung Do berprasangka buruk pada istrinya itu, ia mengira kalau Joo Hwa terlalu senang karena akhirnya Mi Rae memutuskan menandatangani perjanjian dengan Dae Han. Jung Do juga menyatakan kalau ada lagi yang ingin di katakan Joo Hwa, katakan saja di pengadilan perceraian. Joo Hwa cemeberut menatap punggung Jung Do, “bukan itu yang ingin kukatakan”.
Mi Rae dan Go Hae duduk dengan meja bersebrangan. Go He tersenyum dan menyindir Mi Rae yang akhirnya berubah pikiran juga setelah menyatakan takkan pernah menandatanganinya. Ia menanyakan apa yang membuat Mi Rae berubah dalam satu malam. Mi Rae menyindir balik kalau Go Hae pasti tahu alasannya.
Go Hae tak mau tanda tangannya sia-sia seperti rapat terakhir kali, apa mesti ia yang duluan tanda tangan?. Mi Rae dengan cepat menyahut kalau ia yang pertama tanda tangan. Sebelum tanda tangan, tampak keraguan di wajah Mi Rae. Akhirnya perjanjian di tanda tangani, wajah Jung Do dan Boo Mi nampak tak rela.
Setelah Go Hae pergi, Jung Do berkomentar kenapa Mi Rae menyerah menandatanganinya juga setelah berjuang cukup keras.
Mi Rae minta Jung Do tak khawatir, semua akan baik-baik saja. Ia akan membalik (membatalkan) semuanya.
Boo Mi marah, “Apa yang akan kau balik? Akhirnya kau menandatanganinya. Jika kau membatalkannya dan kita kehilangan uang, kau akan membayar semuanya?”
Jung Do mengantar Mi Rae pulang, sebelum Mi Rae masuk pagar Jung Do memberikan sebotol susu. Jung Do mengaku menyimpan banyak pertanyaan, tapi ia takkan menanyakannya sekarang. Yang pasti ia percaya pada walikota shin Mi Rae, jadi ia minta Mi Rae tak mengkhawatirkan apa pun dan beristirahat yang cukup.
Malamnya Mi Rae melamun sambil meneguk susu dari Jung do. Mengingat masa-masa pencalonan sampai kampanye, sampai saat pengumuman kemenangannya juga saat pelantikan. Mi Rae menangis sesenggukan.
Hari berlalu, Jo Gook di gambarkan telah tiba di Korea dengan Soo In yang menjemputnya.
Soo In menanyakan kabar Jo Gook dan pekerjaannya yang di jawab “semua baik” oleh Jo Gook. Pertanyaan yang sama di ajukan Jo Gook dan jawaban yang sama juga di berikan Soo In. Hanya saja di akhir kalimat soo In mengingatkan agar Jo Gook menelpon Mi Rae.
“Kenapa membawa-bawa Mi Rae? aku tak bisa menemuinya sampai besok, kau membuatku merindukannya.”
Soo In mengejar Jo Gook, “Jadi sekarang, kau akan terang2an (soal hubungan dengan Mi Rae)?”
“Ya, jadi kau harus menyerah sekarang” Haha, Jo Gook masih cemburu sama soo In ternyata.
“Apa ini? Mereka takkan melarikan diri ke Eropa atau kemanapun, kan?”,Gerutu Soo In heran plus senang melihat tingkah Hyungnya yang sudah kembali normal setelah sekian lama di selimuti mendung.

Jo Gook berdiri di Menara Seoul, ia menatap malamnya kota Seoul sambil mengingat soal perkataan Mi Rae padanya. Perkataan bahwa ia harus menggambar mimpinya untuk negaranya.
Esoknya Jo Gook berdiri di rapat Anggota Dewan Kongres. Di rapat itu Jo Gook mengumumkan soal undang-undang regulasi lingkungan yang baru. Regulasi yang membela kepentingan orang banyak, berbanding terbalik dengan yang Bb inginkan.
“Kau!! beraninya kau! Beraninya kau menipuku?” Bb marah besar pada Jo Gook. Ia melempar barang yang ada di dekatnya pada Jo Gook.
Jo Gook menggapinya dengan kalem, baginya itu adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan. Ia minta Bb berhenti agar Jo Gook dapat memaafkannya.
Bb tambah berang, Jo Gook lah yang mengacaukan hidupnya. Ia tak pernah merencanakan punya anak seperti Jo Gook. Dari hari kelahirannya Jo Gook sampai sekarang, hidupnya sudah kacau.
Sebaliknya bagi Jo Gook memutuskan tak lagi mengalah. Sudah saatnya ia mengambil hak-haknya sebagai seorang anak yang di rampas Bb. “Ada dua cara untuk membayar dosa-dosa Anda. Anda bisa mundur sekarang, atau anda tetap pergi dan berakhir pahit”
Amandemen itu juga mengguncang Go Hae. Ia yakin peraturan lingkungan yang baru yang makin membatasi ruang gerak Dae Han grup dalam usaha impor limbah, pada dasarnya di tujukan padanya. (karena kan cabang usaha pabrik limbah ini di pegang Go Hae).
 Segera Go Hae menemui Jo Gook. “Kenapa kau melakukan ini?”
“Kau harus bertanya pada Presdir Go… “ Jo Gook lalu memberikan dokumen kontrak lengkap dengan daftar yang akan di impor Dae Han.
“Tidak perlu …”
“Hal ini menjadi seperti sekarang, aku menyesalinya”
“menyesali?? Dae Han Grup tak akan melakukan itu. Terlebih aku takkan melakukan itu.” Bagaimanapun pabrik itu adalah bentuk hadiah dari Go Hae untuk Jo Gook.
“Perempuan lain mungkin mengungkapkan hati mereka dengan coklat, tapi cokelat dariku adalah dana kampanye ayahmu. Pabrik limbah itu aku bangun untukmu. Karena itu, tidak mungkin aku melakukan hal yang buruk (berhubungan dengan aktivitas pabrik).” Tapi kalaupun memang benar (Dae Han mengimpor limbah berbahaya), mestinya Jo Gook pura-pura tidak tahu saja.
Go Hae mulai tak bisa mengendalikan amarahnya, ia mengancam akan bertindak ekstrem jika Jo Gook terus menekannya. Ia akan membangun pabrik itu dan membawa yang lebih berbahaya dari daftarnya Jo Gook untuk di bawa ke Inju. “Sayang amandemenmu terlambat, aku sudah punya tanda tangan Walikota Shin.”
Jo Gook kaget, ia merebut dokumen MOU di tangan Go Hae, dan terkejut mengenali tanda tangannya Mi Rae.
Pucuk di cinta ulam tiba, Mi Rae datang ke kantor Jo Gook.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Jo Gook begitu melihat Mi Rae masuk ruangannya. Ia menunjukkan dokumen MOU dan menanyakan apa itu memang tanda tangan Mi Rae. mendengar jawaban Ya, Jo Gook menyesalinya. “Aku sudah memintamu untuk tidak menyerah dan bertahan sebentar lagi.”
“Aku melakukan yang terbaik untuk menjaga kotaku, tanda tangan itu tidak sah”
“Apa yang kau katakan? Kau menandatanginya di depanku” Tanya Go Hae bingung
“Saat aku menandatangani dokumen itu, aku bukan lagi Walikota. Dan tentu saja, sekarang juga aku bukanlah walikota”
Wakil Walikota membenarkan ucapan Mi Rae, ia menjadi saksi penting bahwa saat menandatangani MOU walikota Shin sudah mengundurkan diri.
Flashback, Mi Rae menemui Joo Hwa dan wakil walikota, ternyata untuk memberikan surat pengunduran. Hal yang membuat Joo Hwa terbelalak tak percaya adalah ada orang yang rela membuang kekuasaan di tangannya demi melindungi orang banyak. Joo Hwa bahkan sempat mengira Mi Rae sudah gila. Tapi Mi Rae dengan sungguh-sungguh memohon keduanya mengabulkan permintaan Mi Rae. Flashback selesai….
Atas penandatanganan kedua kontrak secara tidak sah, Mi Rae sudah pasrah jika harus di tuntut untuk kasus penipuan. Ia menatap Jo Gook untuk memberitahu bahwa ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk tak menyerah….
*^^*
 
Ingat adegan 'Joo Hwa yang telah mendengar permintaan Mi Rae berjalan gontai'? pasti tuh si Joo hwa tersindir habis-habis. Ia adalah orang yang melegalkan segala cara untuk mendapat kekuasaan. Sementara mi Rae dengan gampangnya meletakkan kekuasaan kalau itu ternyata bisa melindungi orang banyak.

*^^*
SmiLE!!

2 komentar:

TUKANG CoLoNG mengatakan...

cowok paling atas itu gantengnya ga santai

ai mengatakan...

kan ceritanya lagi mikir... ya pasti gak santai lah..
tapi tetep ngakuin kalo beliau itu ganteng kan??? hehe

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...