Jumat, 01 Juni 2012

[Sinopsis] Almost Love (Part 3 - End)

Ini film paling lama yang kuselesaikan padahal durasinya gak nyampe 2 jam, Juni 2010 s/d April 2012 (hampir 2 tahun!! Aku buat sinop ini bulan April, tapi ku jadwalin Juni.. yah maklum lah jalan kaki dari Korea ke sini kan 2 bulan)... muaha, selamat menikmati Almost Love part terakhir...
Part 1 ( Juni 2010)
Part 2 ( Desember 2010), di part 2, di kisahkan Ji Hwan mengalami kecelakaan. Ia tertabrak mobil saat menyebrang sambil menelpon.

Dal Rae segera menjenguk Ji Hwan.
Ji Hwan tampak baik-baik saja, ia terlihat tersenyum dalam keadaannya yang tak sadarkan diri.
Dalam kesedihannya, Dal Rae memutuskan mencari tempat rahasia mereka. Setelah sempat putus asa, hembusan angin membantu membuat suara gemerincing aneka barang gantungan mereka dulu.
Akhirnya Dal Rae dapat menemukannya. Ia membetulkan dan mengikat ulang beberapa gantungan yang mulai rusak..
Kenangan saat pertama mereka 'menghias tempat itu berkelebatan di memori Dal rae...
Dal Rae tak hanya melihat tumpukan barang 'simpanan', ia juga menuju pohon yang menghalangi sinar matahari.....
“Ingat aku? Dulu, aku datang bersama Ji Hwan untuk meminta sesuatu…. Kau tahu Ji Hwan, kan?... aku ingin meminta maaf kepada Ji Hwan. Egoku begitu kuat hingga ku tak bisa mengatakannya langsung…. Jadi, tolong jadi perantara kami… (Eh, si Dal Rae kok minta sama pohon? Salah atuh neng).

Ji Hwan, Maafkan aku… Maaf karena tidak menjadi teman sejati… Aku telah berjanji untuk baik padamu, tapi aku menyakitimu… Dengan alasan bertemu pacarku, aku menghindarimu….. Terima kasih telah menjadi teman seseorang yang kejam seperti aku…. Terima kasih telah menghiburku setiap hari.......

…. Ji Hwan, terima kasih telah menjadi sahabat sejatiku.. Kau tahu, aku pernah bilang aku tak percaya pada takhayul… itu bohong, aku percaya itu… benar-benar percaya…. Tolong, buat Ji Hwan segera sembuh…. aku meminta dari mu..” ..
Ji Hwan terbangun, ia merasakan sakit luar biasa di kakinya dan menyadari kakinya tak utuh. Ia panik hingga terguling jatuh. 
Ayah bangun mendengar suara berisik, ia segera meraih Ji Hwan.
Ji Hwan, hampir menangis, ia menatap ayah. “Ayah…. kakiku ... Dimana? Kau memakannya??”
“Ya.... Maafkan ayah… .” Ayah berusaha tersenyum, “Ayah .. sangat lapar”
“Ji Min…. aku sangat tidak menyukai kedatanganmu di sini” Kata ji Hwan dingin
“Baik… Aku akan pergi” Ji Min setengah berlari menahan tangis. Ia tak menghiraukan Young Hoon dan Dal Rae (yang sedang menuju arah Ji Hwan) yang memanggilnya..
“aku ingin sendirian…” Kata Ji Hwan tanpa mengangkat wajahnya.
Dal Rae mengerti, ia memberi waktu pada Ji Hwa, ia mempersilahkan Ji Hwan menelpon kapanpun. Sebelum pergi, Dal Rae memberikan sebuah video plus sebuah surat. Sejak kehilangan kakinya Ji Hwan memilih mengasingkan diri.
Ji Hwan kembali ke kamarnya tanpa membawa video dari Dal Rae. 
Esoknya tampak Ji Hwan tengah memakai kaki palsu pada kakinya yang hilang hingga sebatas betis. Sudah waktunya Ji Hwan pulang. Ia pulang bersama ayah.
Dal Rae memotong rambut ayahnya. Ia curhat pada ayah mengenai rasa sayangnya pada ayah, juga mengenai Ji Hwan….
“Ayah, Kau tahu Ji Hwan si bocah bajingan, itu kan? Ia sedang menderita sekarang… Apa yang bisa aku lakukan untuknya? Setiap kali aku merasa sedih Ji Hwan menghiburku… aku ingin melakukan sesuatu untuknya. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan… . aku benar-benar benci itu. Ayah, Apa yang bisa aku lakukan untuknya? tersenyum?” melihat ayah manggut-manggut, Dal Rae makin yakin kalau terus tersenyum adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan untuk Ji Hwan.
Pagi-pagi sekali Ji Hwan pergi dari rumah. Ayah mengetahuinya, tapi ia tak berusaha mencegah. Ayah tahu Ji Hwan butuh waktu untuk sendiri.
Dal Rae ke rumah Ji Hwan dan menemukan Ayah Ji Hwan yang sedang menangis. Dal Rae akhirnya tahu Ji Hwan telah pergi...
Hari sudah mulai gelap, saat Ji Hwan terlihat terus berjalan di tepi sebuah jalan raya. Lalu ia melewati tanah bersalju dan kini ada di sebuah kedai minuman.
Ji Hwan benar-benar labil, ia marah pada orang yang terus menerus menatapnya.
Ia juga tiba-tiba mengamuk di lorong sebuah pasar…
Ia menyewa kamar, ia dengan cueknya tidur di samping mangkuk mie instant yang berantakan…
Dal Rae tengah kencan dengan Young Hoon. Ia bersiul (siulan ala ji Hwan).
“aku bisa bersiul sekarang!”
Young Hoon hanya bisa menatap kekasihnya yang jelas tengah merindukan Ji Hwan..
Setelah sekian lama, akhirnya Ji Hwan menonton video dari Dal Rae (ternyata dia ambil juga).
“Hai Ji Hwan. Apa kabar? …. Kau tidak tersenyum… Aku tahu ini tak lucu, tapi tersenyumlah melihat usahaku ini…..” Dal Rae lalu berganti kostum
“Terus terang, aku tak tahu apa caraku ini malah akan membuatmu merasa lebih buruk… Tapi kata bijak berkata; ‘hati yang tulus bahkan bisa menggerakkan bumi’….. Yang satu ini, teruntuk seorang teman yang sangat ku sukai, Ji Hwan …. . kuharap video ini akan mengembalikan kekuatanmu… Walau menurutmu tak menarik, kuharap kau menontonnya sampai selesai…”
Seorang atlet lempar lembing yang tangan kanannya hanya sebatas pergelangan tangan… atlit itu melempar lembingnya dengan tangan kiri…
Seorang atlit Thai Boxing (Tinju ala Thailand-Tinju juga, pake kaki juga) yang sarung tangan sebelah kanannya berada di sikutnya namun tetap bisa menjatuhkan lawan…
Seorang pria yang asyik main bola lalu terlihat berlari. Pria itu duduk dan mengangkat pipa celana kirinya, tampak ia memakai kaki buatan. “Aku kehilangan kakiku sama sepertimu Ji Hwan… Jika kau mengabaikan pandangan orang lain, seperti yang kau lihat, kau bahkan dapat bermain sepak bola, juga lari… aku percaya kau dapat menjalani hidup yang lebih menarik dari sebelumnya….
Ji Hwan meneruskan menonton sampai air matanya terus mengalir… ia terisak dan tersedu. Video itu berisi orang-orang yang tak lagi memiliki anggota badan utuh tapi mereka mampu menjalani kehidupan dengan normal.

SATU TAHUN KEMUDIAN
Ji Hwan di panggil seorang produser atas naskahnya yang berjudul “Temanku, Jin Dal Rae’. Produser mengkritik poin utama ceritanya yang samar juga dialog yang kurang bagus. Walau begitu produser tetap tertarik untuk memproduksinya, tentu saja ia akan punya tim yang akan memoles sedikit naskahnya ji Hwan. Produser menelpon seseorang untuk membawakan kontraknya.
“aku tak bisa menandatangani kontrak itu... skenario ini, tak bisa diperbaiki…. Cerita ini ... lebih sekedar cerita untukku… dari sekedar diri sendiri.
Ji Hwan melewati sebuah toko DVD. Ia tertarik melihat layar TV yang memutar satu video klip, dimana Dal Rae bintangnya.
“Bukankah dia cantik? Dia temanku, Jin Dal Rae…” Kata Ji Hwan pada seorang pria yang berdiri di sampingnya. Pria itu melihat Ji Hwan dari bawah ke atas dan segera pergi. Mungkin ia berpikir kalau Ji Hwan berhalusinasi.
Ji Hwan tersenyum melihat Dal Rae yang kini tak gemetaran lagi di depan kamera..
Sementara itu, Dal Rae berjalan bersama Young Hoon, tapi ia asyik dengan fikirannya sendiri..
“Sudah lama tak melihatmu tersenyum”
“Hah?”
“pikiranmu selalu berada di suatu tempat”.
“Maaf”
“ Kau selalu mengatakan maaf.”
Dal Rae berhenti, ia memperhatikan Young Hoon.
“aku mengerti… Ratusan kali bahkan lebih…………………”
Young Hoon membawa Dal Rae ke resto tempat biasa mereka kencan. Cake ultah dengan lilin menyala dan JI HWAN telah menunggunya… Dal Rae mendekati Ji Hwan.
 
Ji Hwan berdiri dan tersenyum, “Dal Rae, selamat ulang tahun”
Plak!! Dal Rae menampar Ji Hwan, dan tanpa sepatah katapun ia pergi…
“Tak memberi kabar selama lebih dari setahun itu buruk” Young Hoon menemani Ji Hwan dan membiarkan Dal rae sendiri dulu. Ia mencoba memberi alasan yang bagus atas tindakan Dal Rae barusan.
“Maaf… pemandangan di Korea terlalu banyak untuk di lihat… “
“Sepertinya kini kau lebih tenang, benarkan?”
“Hanya perlu pencarian jiwa sedikit lagi…”
Young Hoon minta jika Ji Hwan akan pergi lagi, jangan lupa mengirim kabar. Ji Hwan berjanji mengusahakannya. Ia lalu pamit ke kamar kecil. Mungkin akan perlu waktu sedikit lama, jadi Young Hoon tak perlu khawatir.

Sepeninggal Ji Hwan, Young Hoon tertarik melihat kliping (Naskah skenario) di tas Ji Hwan, ia mengambilnya dan membacanya. Diam-diam Young Hoon menyembunyikan naskah itu di balik jaketnya).
Young Hoon memberikan naskah itu sebagai hadiah ulang tahun Dal Rae.
“itu… mungkin adalah surat cinta terpanjang yang pernah aku baca” (=naskah Ji Hwan)
“Hah?”
Young Hoon pergi, sekilas ia menahan sedih dan sempat ragu. Ragu, karena dengan memberi naskah itu, sama saja ia menyerah atas cintanya dengan Dal Rae. Sekali lagi Young Han menoleh, lalu pergi....
Dal Rae tersenyum membaca judul yang menyebut namanya…. Ia mulai membacanya
‘aku mendedikasikan skenario ini untuk temanku Dal Rae…
Seluruh anak minggir saat Ji Hwan kecil lewat. Ji Hwan kecil jagoo kelahi hingga ia 'dijauhi' teman-temannya.
Pertama Bertemu ketika usiaku sepuluh tahun, aku penyendiri dan hanya pandai berkelahi…
Di saat yang lain asyik main di sungai, Ji Hwan hanya melewatinya.
Untuk anak-anak, tak punya teman terasa seperti ada pada kelompok kencan dan menjadi satu-satunya tanpa pasangan, lalu pulang ke rumah yang kosong dan minum sepanjang malam…
Tanpa di sadari Ji Hwan, seorang gadis kecil justru tersenyum saat ia lewat.
Namun, seorang anak bicara padaku… Itulah teman aku, Jin Dal Rae.
“Mau main denganku?”
Ji Hwan terpana
Aku tidak terlalu senang. Dia punya senyum yang cantik juga cerah, tapi aku tidak senang......
 
Jadi,aku lakukan “Peek-a-BOO “ (mengangkat rok Dal rae).
Anehnya Dal Rae tidak marah atau menangis, ia malah tersenyum
“Hei bodoh. Kau harus katakan, PEEK-a-Boo!”
“Itulah cara kami mengatakannya di lingkungan kami” Ji Hwan bela diri
“Di mana Kau tinggal?”
“Di sana…”
“aku tinggal di sana juga, dan kami mengatakan "PEEK-a-Boo!”
Aku masih tidak tahu mengapa aku mengatakan seperti itu. Kecuali, aku tahu hari aku bertemu gadis itu adalah 23Agustus 1991, sebuah hari yang cerah dengan hatiku yang berdetak kencang. Sampai-sampai aku khawatir ada katak atau sesuatu yang lain di dalam dadaku. Aku masih mengingatnya dengan jelas…
Dal Rae tersenyum. Mungkin ia juga mengingat momen pertemuan pertama mereka.
 
Ada seseorang yang mencoret-coret sesuatu di dinding, itu ayahku… aku tak perlu mengatakan apa pun, tapi ia tahu….
Misteri orang yang diam-diam menulis Ji Hwan <3 Dal Rae ternyata ayahnya Ji Hwan.
Ji Hwan selama ini pura-pura tak tahu, padahal mah dia tahu banget. Cret2an di tembok itulah yang membuat Dal Rae dan Ji Hwan makin akrab (part1)
Berkat ayahku, aku tak perlu mengungkapkan langsung isi hatiku padanya… Tanpa dia, kami tak mungkin jadi teman sampai sekarang….
flasback; tampak Ji Hwan dengan sepenuh hati menulis skenarionya tentang Dal rae.
“Beberapa orang berkata, semua tentang cinta?.... Pada kenyataannya, menyukai seseorang adalah yang paling tidak produktif … Tidak memberimu makan… juga tidak menghasilkan uang sedikitpun padamu… Sedikit tidur menyebabkan kehilangan produktifitas... bertindak konyol sepanjang hari dan sepanjang malam …. Mirip pasien sakit jiwa… Mengalami sakitnya cemburu juga patah hati dan dilempar oleh kata-kata menyengat 'apakah kau masih percaya pada cinta?'….

Namun aku menyadari ketika aku mencintai seseorang, aku tahu jutaan alasan untuk melakukannya (hal-hal gila diatas)…
Flashback; Kencan Ji Hwan dengan Dal Rae sesaat setelah mereka berbaikan, mereka nonton layar tancap dari atap sebuah mobil. Bukti ini juga salah satu kegilaan yang Ji Hwan lakukan untuk membuktikan cintanya.
Pertama, kau menyadari ‘memberikan’ membawa kebahagiaan lebih di banding ‘menerima’ ....
Kedua, alih-alih hal buruk, kau selalu melihat hal-hal yang baik duluan…
Ketiga, kau bisa menjadi seorang anak tanpa mesin waktu…
Keempat, aku sering bertanya ”Kau memiliki sesuatu yang baik?”
Kelima, Kau akan tahu betapa indahnya langit, bintang, bunga dan pohon…
Dal rae telah membaca hingga akhir, “Kamu bodoh! ceritanya membosankan ... Siapa yang akan melihatnya?!”
Hujan berganti salju. Dal Rae tampak membuka album fotonya…
 
Si Bodoh Ji Hwan, Putri Dal Rae …
Lalu Foto masa dewasa mereka saat mereka masih akur....
Ji Hwan sudah ada di dalam bis, ia mengangkat pipa celananya dan mengambil bantalan di pergelangan kaki palsunya. (sepertinya bantalan itu untuk menjaga si kaki besi tak gampang kena salju, untuk menjaganya tak mudah karatan).
“Agak menjijikkan, ya?.. ini punya banyak manfaat juga… Tak perlu wajib militer ... Tak khawatir kaki athlete (betis besar?)… dan semua perhatian aku dapatkan, seperti sekarang..” Ji Hwan berusaha santai pada beberapa pasang mata yang memperhatikan kaki palsunya.
Dal Rae keluar dari rumahnya…
 
Ia menyadari ada sepasang bekas telapak kaki disana… 
 
ternyata Ji Hwan memang sempat berdiri beberapa lama di saat hari menjadi gelap… Dan Dal Rae sepertinya tahu itu…
Bus Ji Hwan sudah jalan, ia mengeluarkan surat dari Dal Rae (yang barengan sama Video tea). ‘Tersenyumlah.. maka hal-hal baik akan terjadi… Jika tidak, maka akan terjadi sebaliknya‘
“aku merindukannya…. sangat merindukannya.” Ji Hwan segera menghentikan bus dan turun…
Ia berjalan kembali ke arah datangnya tadi…
Dal rae mengikuti bekas langkah Ji Hwan…
Terus dan terus… langkahnya makin lebar, Dal rae mulai berlari..
Begitu juga Ji Hwan.....
Ia melepas kruknya dan mulai berlari…
Dal Rae agak melambat saat melihat Ji Hwan yang berlari ke arahnya…
“Berhenti. Jangan mendekat!... kubilang jangan mendekat lagi!” Dal Rae mulai menangis,
“Diam disitu… Mulai sekarang, aku yang akan pergi padamu….”
“Bajingan!! aku hampir mati karena bosan!” Keluh Dal Rae saat sudah dekat dengan Ji Hwan.
“Aku juga…”
“Ji Hwan ... aku kedinginan. Peluk aku…”
Keduanya berpelukan dengan haru…
Di suatu lokasi syuting. Ji Hwan tersenyum melihat Dal rae menghafal naskah sambil di rias. Ia pergi saat ada yang memanggilnya.
“Mimpiku adalah untuk menjadi aktris yang ‘heart-telling’… Tapi aku begitu gugup sampai mau pingsan rasanya…. “.
Dal Rae dulu percaya permen gold bisa memberinya kekuatan, tapi ia kini membuangnya. Sebuah kata penyemangat cukup untuknya.
“Mimpiku adalah menjadi aktor action seperti Jackie Chan… aku tahu aku tak bisa menjadi seorang aktor action dengan kakiku yang seperti ini, kehilangan kaki.....“
“Namun, aku bersyukur karena (kehilangan kaki) membuatku bisa mewujudkan sesuatu yang aku tidak tahu selain film Jackie Chan ... Sebegitu banyaknya peralatan film………… “
Dal Rae berusaha menunjukkan tempat harta karun mereka pada Ji Hwan, tapi lagi-lagi tempat itu tak ketemu.
“Ayo, coba ingat-ingat!”
“Aneh… seharusnya ada di sekitar sini..”
“Tidak kah mestinya kau menandainya? Berjam-jam kita sudah menghabiskan waktu”
“Ya sudah… kita pergi”
“Apa kau marah?”
“Lupakan saja.”
“aku minta maaf… sini, aku gemblok kau”
“Tidak apa-apa.. keadaanmu bahkan lebih buruk dari aku..”
“kakiku adalah kaki Robocop, tidakkah kau tahu.?”
“Baiklah… sebentar saja… beritahu kalau kau lelah” Dal Rae menikmati tumpangannya,
“Sangat menyenangkan…. Hey! Lihat-lihat kalau menyentuh”
“Maaf!, Aku melakukannya tanpa sadar” Sahut Ji Hwan, padahal mukanya mupeng, hihi….
“Hentikan!”

*^^*
(End)
*^^*

10 komentar:

Dewi Cendrillon mengatakan...

Un keren banget...
langsung ke lapak dech nyari dvdnya...

Gumawo un rekomendasinya^^

irfa mengatakan...

mbak ai,, mw tanya,, itu yang jadi Young Hoon nya Lee Sang Woo ya??

Ha,, aku pernah nonton film ini,, tapi udah lama banget,,, dulu aku nggak sadar ada Lee Sang Woo di film ini,,

Dengan rambut plontos seperti itu,, Lee Sang Woo tetep keren uy,, musti nonton ulang nih,,,

Makasih banyak Sinopsisnya,,,

ai mengatakan...

@Dewi, DL aja biar puas, ada kok di MQ
@Irfa, iya Lee Sang Woo... he-eh ganteng apalagi di banding sama kwon Sang Woo (namanya sama-sama sang Woo) yang disini tampil acak-acakan...

ai mengatakan...

errr, jangan lewatin kalo kwon-Lee (sang woo) dua2nya di ceritain bug*l pas mandi di KM restoran, hihi....

あり あきな mengatakan...

lihat dari dvd bajakan ni dulu wkwkwkwkwkw

irfa mengatakan...

wohohoho,,, ingin lihat adegan Duo Sang Woo mandi (dipelototin sama Shi Hoo Oppa),, beneran musti dicari nih DVDnya,,, dimana ya??

Yue Lan mengatakan...

uwaaa...akhirnya part terakhir.
oops!
maaf baru komen setelah baca dua bagian awal.
suka deh sama ceritanya.
trims ya sinopsisnya.
:)

ai mengatakan...

@ari... awalnya juga aku liatnya dr bajakan part1 dan 2 itu hasil DVD bajakan yang 3 br DLan hehe..

@irfa.. sayangnya di blur, wkwkwk

@yue lan.. sami2... ^^

minie mengatakan...

Like this,gomawo mba' ai...

Siti Aura mengatakan...

Cinta n berteman dr kecil...dlm bngt y...sdh th baik burukx...hihihi...
Lee Sang Woo keren y...
Thx sinopsisx mb ai...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...