Kamis, 03 November 2011

[Sinopsis] The City Hall -- Episode 15 part 1

Hahah, pelukan CSW bikin semangat buat ngelanjutin City Hall lagi.

Jo Gook menatap nanar pada BB. Ia langsung bertanya maksudnya BB. BB tak menanggapi, ia malah menyuruh Mi Rae duduk bahkan memujinya cantik. Mi Rae berusaha sopan, ia berterimakasih dan memperkenalkan diri. Sambil menahan amarah, Jo Gook menyuruh Mi Rae pergi.
“Jika tidak hari ini, kami bisa bertemu nanti. Bukankah lebih baik bila aku bertemu dengannya di sini bersamamu daripada sendirian?” Ada ancaman di balik nada suara BB. BB menoleh pada Mi Rae dan kembali mempersilahkannya duduk.
BB menawari Mi Rae minum, Mi Rae menerimanya. Setelah habis dalam satu tegukan, Mi Rae menyodorkan lagi cawannya. Ternyata itu kebiasaan warga Inju untuk menerima minum lebih dari satu kali.
Mi Rae berniat gantian menuangkan minuman untuk BB saat Jo Gook merebut tekonya. “Katakan saja apa yang harus anda katakan… Dia sangat sibuk.”
Mi Rae menatap Jo Gook bingung, ada apa ini? Mungkin itu yang ada di benaknya. Seolah ingin menjawab keheranan Mi Rae, BB memberitahu bahwa ia tak bisa minum dan Jo Gook yang tahu itu berusaha mencegahnya.
BB langsung ke topik, ia yang selama ini mengasingkan diri dari dunia politik hanya mendengarsoal Mi Rae dari orang lain. “berita tentang membatalkan rencana untuk relokasi City Hall adalah ide yang sangat baik. Orang bisa merasakan ketulusan anda. Anda sederhana, jujur dan sangat cantik…. Namun, saya juga mendengar bahwa ada orang-orang yang dekat dengan anda padahal seharusnya tidak. Ini sangat disayangkan… Gook-ie ini, memiliki ambisi besar. Dia pernah berkata dengan mulutnya sendiri bahwa ia menginginkan negara ini. Bagaimana bisa seorang pria yang ingin memenangkan suatu negara akan tersandung oleh seorang wanita?... Oleh karena itu, Walikota Shin, saya harap Anda tidak akan membuat dia goyah.”
BB dengan nada yang makin dalam memberi dua pilihan, Jo Gook atau warga Kota Inju, “siapa yang akan Anda pilih? Jika Anda tidak melawan keinginan saya, saya dapat memberi Anda banyak hal yang bisa menguntungkan warga Inju. Namun, jika Anda memilih sebaliknya, meskipun sedikit dana dan subsidi pemerintah akan lebih sulit untuk didapat.
“cukup!!” Jo Gook meminta ayahnya berhenti, tapi BB tak perduli. Ia bahkan dengan terang-terangan mengakui telah menugaskan Jo Gook untuk menciptakan walikota boneka, tapi ternyata sebaliknya Jo Gook lah yang kini jadi boneka.
Tahu BB tak bisa dihentikan, Jo Gook mengajak Mi Rae pergi.
BB menatap tajam Jo Gook, “Kau mungkin tak perlu bantuanku, tapi itu berbeda untuk Walikota Shin. Sulit untuk membantu seseorang, tapi menghancurkan seseorang sangat mudah. Jika kau pergi dari sini memegang tangannya, aku pasti akan melakukan seperti yang kukatakan… Karena kau yang menempatkannya di kursi Walikota, kau juga yang bertanggung jawab untuk kenaikan dan kejatuhannya…. Apa yang ingin kau pilih?”
Mata Mi Rae sudah memerah, ia menarik tangannya dari genggaman Jo Gook. Mi Rae berterima kasih atas ‘petunjuk’ BB yang selama ini hanya bisa di lihat di koran dan TV sebagai politikus kharismatik. Kini bayangan itu hancur, Mi Rae dengan jujur mengaku sedih dan sakit. Ia yang awalanya gugup karena khawatir tak tahu etika yang pas untuk menyambut tamu kehormatannya, ternyata kini bisa lega karena tamunya tak ‘sehormat’ yang ia bayangkan. Mi Rae lalu pamit setelah mengucapkan terimakasih atas undangannya BB.
Jo Gook berniat mengejar Mi Rae, tapi BB mengingatkannya bahwa Mi Rae terluka justru karena Jo Gook.
Jung Do terheran-heran melihat Mi Rae dengan langkah gontai dan pandangan kosong, “Apa ada yang salah? Apa terjadi sesuatu? Apa kau bertemu BB?”
“Maaf, tapi aku akan pergi duluan” jawab Mi Rae tetap dengan mata tak fokus. Saat Jung Do menanyakan soal Jo Gook yang mobilnya ia lihat di luar juga Mi Rae tetap tak menjawab. Ia malah bilang kalau ia ingin sendirian dan Jung Do jangan mengkhawatirkannya.
“Aku memintamu menempatkan orangmu, kenapa malah menempatkan wanitamu itu?” Omel BB
“Apa alasanmu? Mengapa seperti ini? Apa yang kau inginkan dariku?”
BB menghentak meja, “Apa yang ku inginkan? Kau tak tahu apa yang kuinginkan? Kupikir kau akan melakukan sesuatu yang besar ketika kau meninggalkanku sambil menangis… Pada akhirnya, kau malah memberikan semuanya untuk wanita itu?... Apa kau tak tahu mengapa aku menjalani hidup dalam pengasingan membuat tembikar?”
“Aku tahu. Sangat tahu… Kau tengah mempersiapkan comeback ke dunia politik. Aku tahu itu semua adalah bagian dari naskahmu dalam mempersiapkan diri untuk pemilihan presiden berikutnya.”
BB masih dengan suara menggeram kalau Jo Gook memang tahu kenapa ia seperti itu? Apa Jo Gook menginginkan dirinya memberi Jo Gook permen atau boneka beruang untuk dipeluk? (=baca dianggap anak)
Mengapa tidak, ternyata alasan Jo Gook adalah ingin bertemu dengan BB sebelum ia memohon pengampunan. Dalam persiapan pemilihan presiden, BB pasti butuh dukungan dana yang besar, yang kemungkinan bisa di dapat dari Presiden Go (ayah Go Hae). “Itu sebabnya aku akan melepaskan Go Hae… Membuang wanita seperti sepasang sepatu tua mungkin mengalir dalam darahku, karena ayahku meninggalkan ibuku. Tapi aku lebih baik dari ayahku, karena dia juga meninggalkan anaknya…. Uang untuk pemilihan presiden? Jangan bermimpi tentang itu. Lanjutkan saja membuat tembikar dan tinggal sebagai legenda. Jalani hidup seperti itu! Aku telah memutuskan untuk menjalani hidup yang berbeda.
BB tertawa (yang menurutku malah mirip ringkikan kuda). “Tampaknya kau benar-benar jatuh cinta padanya…. Baik. Jalani hidupmu seperti yang kau inginkan. Aku tak punya pilihan, kecuali melakukan apa yang tadi kukatakan… pilihan aroganmu akan menurunkan seorang walikota lemah… Tunggu dan lihatlah!”
BB keluar, tampak Jung Do buru-buru sembunyi dengan wajah terkejut. Sepertinya ia mendengar semua pembicaraan.
Mi Rae berjalan-jalan tanpa arah, ia mengingat Jo Gook yang memberinya bunga dan mengatakan rindu (episode saat Jo Gook mengajak Mi Rae kemping), saat Mi Rae menelusuri wajah Jo Gook yang tertidur di tenda, ciuman Jo Gook di dalam mobil saat dinihari ditepi pantai, dan terakhir saat ia dan Jo Gook berpelukan erat menatap Sunrise.
Mi Rae ke bukit tempat ia menggambar harapannya untuk Inju, Jika tadi ia mengingat Jo Gook maka kali ini mengingat kotanya, penduduknya, Mi Rae mulai meneteskan air mata.
Jo Gook langsung mencari Mi Rae, di kantor, di rumahnya, tapi tak menemukannya.
Dan disinilah mereka bertemu, Mi Rae melihat Jo Gook berlari menaiki anak tangga menuju puncak bukit dan Jo Gook akhirnya berhenti saat melihat kaki Mi Rae. 
Perlahan Jo Gook mengangkat wajahnya dan menatap wajah Mi Rae, “Kenapa kau tak menjawab teleponku? Tidakkah kau tahu betapa khawatirnya aku?”
Tanpa lepas dari matanya Jo Gook, Mi Rae perlahan turun mendekati Jo Gook dan menyeka keringatnya.
“Ternyata benar apa yang kudengar bahwa kau tampan. Matamu indah, hidungmu juga indah, bahkan dagumu indah. Pantas saja hatiku berkibar selama ini. Kau tidak tahu, kan?.....” Air mata mulai turun dari wajah Mi Rae yang terus tersenyum, ia menurunkan tangannya, 
“Dalam sebuah mimpi di suatu malam, kita berjalan-jalan bersama. Dalam sebuah mimpi di malam yang lain, kita berpegangan tangan. Lalu malam lainnya kita berpelukan, malam lainnya lagi kita tertidur bersama…. Jadi jika suatu malam, seperti hari ini, kita berpisah seperti ini…. (ini juga mimpi)….” Mi Rae mulai terisak. Mereka sebenarnya sudah tahu tak mungkin bagi mereka berada di sisi yang sama, tapi saat waktunya datang mereka tetap terluka.
Jo Gook tahu itu, ia juga menyadarinya. Ia mengakui kalau pada awalnya ia menganggap Mi Rae wanita naif yang bisa ia manfaatkan lalu ia buang. Ia tak pernah tahu bahwa pada akhirnya ia justru akan mempertaruhkan hidupnya sendiri demi Mi Rae. “Ini membuatku gila…. Jadi ...kau juga jangan memperlakukanku dengan cara ini.”

“Kau pernah bertanya padaku, apa yang akan kulakukan jika kau adalah lawan dari sesuatu yang aku perjuangkan… Shin Mi Rae (yang mencintai Jo Gook) telah kalah, tapi Walikota Shin (yang mencintai rakyatnya) tidak boleh kalah… Aku bukan boneka. Itulah sebabnya kau harus kembali ke sisimu dan aku akan kembali ke sisiku”. Mi Rae meninggalkan Jo Gook yang menangis dengan air mata yang seolah tanpa henti.
Malamnya hujan airmata, Mi Rae menangis tersedu sementara Jo Gook yang seperti tersayat mendengar tangisan Mi Rae juga menangis dalam diamnya di luar rumah Mi Rae.
Esoknya, berita soal kunjungan BB tercetak di berbagai surat kabar. Kandidat Park Jun Jin mencari cara mengambil hati BB, sementara Joo Hwa memarahi para wartawan yang memuat berita ‘BB menemui Jo Gook’ tanpa membawa serta dirinya. Ia berdalih baterai Hpnya Low hingga tak bisa menerima telpon BB. Joo Hwa juga berusaha meyakinkan kalau BB melakukan kontak mata dengannya. Bahkan menuduh Jo Gook menjadi pusat perhatian karena paling tinggi. Joo Hwa berusaha meyakinkan wartawan untuk menerbitkan artikel revisi, ia menawarkan sebuah judul ‘BB memberikan tubuhnya untuk Jo Gook tapi tidak untuk hatinya‘. Sayangnya tak ada wartawan yang bergeming, haha.
Tapi Soo In yang mengenal baik dua atasannya itu tahu sesuatu, ia tampak kurang senang melihat berita itu di TV. Sementara Eraser menganggap itu keberuntungan, ia mengherankan Jo Gook yang tak juga muncul padahal seharusnya Jo Gook memanfaatkan situasi itu.
Mencoba membuat sibuk para tim kampanyenya (yang mulai menyadari Jo Gook yang tak kunjung muncul), Soo In mengeluarkan setumpuk foto untuk bahan kampanye Jo Gook di dunia maya.
“Masuki situs-situs, tak cuma situs yang berhubungan dengan politik, tapi perjalanan, rekreasi, olahraga, tari, mobil, memancing, fashion, obat oriental, dan lain-lain, posting komentar tentang bagaimana terkejut kalian menemukan Kandidat Jo Gook memiliki banyak hobi dan minat. Kemudian posting foto-foto ini untuk melengkapi komentar kalian.

Menciptakan image Jo Gook sebagai teman yang berbagi minat dan hobi yang sama dengan orang lain. Dan pada saat yang sama mengubahnya menjadi seseorang yang dipilih oleh masyaratakat??? Soo In membenarkan, ia menyertakan contoh; ‘Saya kadang melihatnya di bar, di bioskop’…. ‘Di malam berhujan, aku mendekati kandidat Jo Gook. Ia melindungiku dengan payung. Karenaku, salah satu bahunya basah kuyup’… waw Soo In jago ngarang. Ia juga mengingatkan agar timnya ini memakai nick yang berbeda-beda dan dari lokasi yang berbeda juga.
Setelah mengarahkan timnya, Soon mengecek ponselnya dan tak ada kabar dari Jo Gook. Ia melihat banner di dinding dan minta salinan fotonya dari ahjuma pemilik resto bubur.
Dan disinilah Jo Gook menyalurkan frustasinya, frustasi karena tak bisa melindungi wanita yang dicintainya. Bergantian ia memikirkan ancaman BB sekaligus tangisan Mi Rae yang menyatakan perpisahan mereka.
Jo Gook baru sadar ada yang mencarinya saat ada sms dari Soo In lewat jam tangannya. Keren, di GL yang melingkar di tangannya adalah monitor jantungnya. Di Ch jamnya bisa buat smsan.
Jo Gook pulang dan menemukan kantung kertas di pagarnya. Kantung yang berisi jasnya yang ia pakaikan pada Mi Rae untuk menutupi bajunya yang sobek (saat demo di depan Cityhall). Jo Gook menghela nafas, inikah akhir kisah cintanya???
Soo In datang dan langsung memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan. Ada apa dengan Jo Gook? Semestinya Jo Gook mengabari Soo In kemanapun ia pergi. BB secara pribadi telah datang menemui Jo Gook yang bisa diartikan sebagai DUKUNGAN. “Bukankah ini yang kau inginkan setelah mengikutinya bertahun-tahun?... Ini adalah awal!”
“Soo in ...” Jo Gook memotong Soo In
“Apa?”
“Apa kau pernah menangis karena seorang wanita?.. Cobalah menangis. Dengan begitu, kau tidak akan hanya menjadi orang biasa.”
Soo In bingung, ia mempertanyakan Jo Gook melanjutkan pemilunya atau tidak. Apa Jo Gook memang ingin menyerah??
“Mengapa aku menyerah? Ini baru awalan.” Jo Gook lalu minta soo In menyiapkan laporan yang terkait dengan BB dan menyebarkannya ke media lokal maupun nasional. Mau itu nyata atau gosip, pokoknya semuanya. ‘Jo Gook adalah tangan kanan BB dan mitra politiknya’, ‘Jo Gook adalah CPU dan wildcardnya kubu BB’ “
“ Hyung!” Soo In mencoba mengingatkan Jo Gook
“Aku hanya ingin mengklaim permen dan boneka beruang yang tak pernah dia belikan untukku. Apa pun yang diperlukan, aku akan mengklaim segala sesuatu yang seharusnya milikku.” Lagipula dalam politik lumrah untuk mulai dengan menginjak orang-orang terdekat, itu yang diajarkan BB. Soo In masih bengong dengan rencana Jo Gook.

Jo Gook pun melanjutkan kampanyenya. Sesekali ia bertemu dengan rombongan tim kampanye lawan.
‘Saya Calon Nomor 5 Jo Gook.. Seorang pemimpin politik muda yang keren. Saya akan menjadi politisi yang melakukan yang terbaik untuk memperbaiki kehidupan masyarakat. “
Sementara itu Mi Rae dan para stafnya meninjau peternakan sapi. Jung Do berkomentar sapinya sangat tampan dengan mata berbinar mengkilap. “Apa dia tidak mengingatkanmu tentang seseorang?”
“Ya? Siapa? ...” haha, Mi Rae gelagapan, ia memuji pemilik peternakan telah merawat sapi-sapinya dengan baik untuk menghindari mata Jung Do. Dari peternak ini Mi Rae mendapat masukan agar bisa meningkatkan penjualan daging sapi Korea berkualitas tinggi dengan harga rendah.
Walau tadi menghindar, Mi Rae menatap mata sesekor sapi dan membenarkan mata mereka memang mirip. Haha, mata Jo Gook=mata sapi.
Joo Hwa seperti biasa berbuat curang. Ia mengundang makan para calon pemilih. Tapi dengan alibi tak mau dianggap menyuap, ia tak menyiapkan sendok/garpu/sumpit, wkwkwk. Usaha Joo Hwa menjamu tamunya terganggu oleh satu telpon, telpon dari pengacaranya.
Joo Hwa segera menemui Jung Do, ia mempertanyakan surat cerai yang dikirim padanya. Jung Do tak mengelak, ia hanya tak ingin suatu saat Joo Hwa melihat masa lalunya dengan menyalahkan diri sendiri atau perasaan malu.
Joo Hwa masih tak mengerti, apa penyebab perpisahan mereka itu Mi Rae? Bukankah Jung Do pernah bilang bahwa ia boleh memegang keyakinannya sendiri? Dan yang Joo Hwa yakini ia bersebrangan dengan Mi Rae. Kenapa Jung Do tak menerimanya saja dan mereka melanjutkan hidup seperti sebelumnya??
“Aku tidak mau. Aku juga ingin bahagia, aku benci tidur sendirian di tempat tidur besar. Aku juga benci melihatmu tapi tak bisa menyentuhmu setiap hari…. Jika kau tak mau meletakkan jabatan sebagai anggota dewan dan tak mau berbagi kamar lagi, tanda tangani saja…”
Joo Hwa sambil menahan tangis akhirnya menandatanganinya. Tapi bukan itu yang Jung Do mau. Ia berharap Joo Hwa tak menandatanganinya, ia memanggil Joo Hwa. Tapi Joo Hwa sudah terlanjur sakit hati. Ia mengancam, politik berpihak pada rakyat = mimpi. Tanpa dukungan Dewan Kota, Walikota Shin Mi Rae tidak bisa melakukan apa-apa!!
Goo Hae menemui BB, melihat respon positif di koran ia berterima kasih karena akhirnya BB mendukung Jo Gook dengan mengunjunginya di Inju. BB menatap Goo Hae, bagaimana Goo Hae hanya mengandalkan berita di koran untuk memantau prianya (Jo Gook). BB mengerti kalau Goo Hae punya kelemahan, tapi kalau kelemahan itu adalah memegang hati prianya (Jo Gook), BB ragu Goo Hae bisa mengatasi masalah yang lebih besar.
Goo Hae kaget, tapi ia masih bisa tersenyum “Maksud Anda ...”
“Anak itu mengatakan ia ingin membuangmu… Bagaimana menurutmu?”
Hilang senyum di wajah Goo Hae, “Apa pendapat saya? Apa yang Anda pikirkan soal pikiran saya? Apa Anda menyalahkan saya? Beraninya ...” Goo Hae berhenti sejenak, Ia berbalik menyalahkan BB yang tak menasehati ‘Uang tak bisa menghidupkan orang yang sudah mati, tapi uang bisa membunuh orang yang masih hidup’. Goo Hae juga mengingatkan alasan ayahnya memilih BB karena Goo Hae memilih Jo Gook. Jadi jika BB memang menginginkan menjadi calon presiden untuk pemilu berikutnya, pastikan ia meringkus Jo Gook dan menempatkannya disisi Goo Hae. 
BB tersenyum, “Sedemikian cerdas dan kompeten, bagaimana bisa ia tidak menyukaimu?”. Sepertinya BB nyindir.
“Dia mungkin stress karena pemilu hingga hatinya bingung. Mulai hari ini, aku akan makin mirip rubah. Jangan khawatir.” Sahut Goo Hae sambil terus tersenyum. Tapi saat BB pergi, senyum hilang dari wajah Goo Hae.

**Met berAktIVitaS!!**

4 komentar:

yakuza_emina mengatakan...

aha ahjusi CSW buat teh ai, dr Ahn buat ari dan asri wkwkwkwk*melesat kabur dengan jet coster bwahahaha

cha_sya mengatakan...

City Hallll....akhirnya engkau datang juga ...ahjussi pelukanmu bikin iri.

hmmm....nggak banyak basa basi...lanjut ya ai he he ;;;)

Dewi Cendrillon mengatakan...

unnie semangat,....

kim nana rf mengatakan...

foto si akangna kurang banyaaaakkk
di sini mah masih seger dan kasep kenehnya nya
di athena kliatan mukanya udah ada kerutan, dokkojin udah kelaitan lebih tua...
tapi tetep weh kasep hehe

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...