Sabtu, 03 Maret 2012

[Sinopsis] Thank You Episode 8

Kisah hari ini adalah Seok hyun yang patah hati…..
Pagi itu Young Shin berusaha membuat Bom terbangun dengan berbagai cara. Senjata rahasia memanggil Park Ji Sung seorang atlet olahraga terkenal korea kesukaan Bom sukses membuat Bom terbangun. Dasar Bom, tahu itu hanya akal-akalan ibunya, ia berniat tidur lagi, haha. Tapi Young Shin dengan sabar mengingatkan tanggung jawab Bom, tanggung jawab untuk menjaga dan mengurus kakek karena Young Shin harus pergi ke ladang. Akhirnya misi membangunkan Bom pun sukses.
Young Shin bergegas keluar, ia menoleh sekilas kamar Gi Seo dan seketika merasa malu teringat kejadian semalam. Sambil berjalan, Young Shin memakai pelindung lengannya.
Langkahnya terhenti ketika di area ladang terdengar suara-suara. Nampak Gi Seo sedang berusaha menolong Ny. Go Pil (istrinya Tuan Go Pil si pecandu Judi – baca sinopsis episode6). Di sampingnya ada Tuan Park yang mengkhawatirkan bibinya itu. Gi Seo bersikeras menolong, karena ia yakin Ny. Go Pil takkan bertahan jika langsung di bawa ke klinik sekarang.


Gi Seo mencoba membuat Ny. Go Pil bernafas, tapi CPR yang ia lakukan tak membuahkan hasil. Ia pun membuat lubang di tenggorokan Ny. Go Pil dengan memakai pisau yang sudah disterilkan dengan di bakar dan batang pulpen sebagai pipa udaranya.
Gi Seo berhenti karena tahu Ny. Go Pil tak tertolong lagi. Gi Seo menaruh jaketnya menutupi wajah Ny. Go Pil. Dalam diamnya Gi Seo mengangguk saat Tuan Park bertanya apa bibinya sudah meninggal. Tuan Park mengamuk, ia mencengkram dan menyalahkan Gi Seo yang tak membiarkannya membawa bibinya itu ke klinik. Ia menuduh Gi Seo sengaja melakukannya demi mendapatkan tanah bibinya itu.

Gi Seo terhenyak mendengar tuduhan itu, ia juga melihat Young Shin yang menangis. Mendengar Tuan Park menelpon Polisi dan mengadukannya sebagai pembunuh membuat Gi Seo mengingat masa lalu. Masa saat ayahnya di panggil pembunuh oleh suami seorang pasien.
Di iringi tatapan beberapa penduduk dan ratapan Tuan Park, jasad Ny. Go Pil di angkat ke ambulans dan Gi Seo di tangkap polisi.
Dokter Oh yang datang terburu-buru ke lokasi tak bisa membantu dengan pembelaannya, karena Gi Seo sama sekali tak berusaha menyangkal tuduhan Tuan Park. Gi Seo bahkan membenarkannya. Ia pun di bawa seperti seorang kriminal.
Young Shin terdiam, ia tetap terduduk di tepi jalan, hanya mampu menatap kepergian Gi Seo.

Seok hyun bergegas ke lokasi saat mendapat laporan soal kejadian itu, ia mendapati Young Shin, dokter Oh dan Suster terpekur. Seok hyun mendekati suster dan bertanya. Dokter Oh tahu ia harus menolong Gi Seo, ia bergegas kembali ke klinik di ikuti suster.
Seok hyun mendekati Young Shin, ia mengulurkan tangan hendak membantunya berdiri.
Young Shin menoleh, ia berkata pelan, “Apa kau bodoh? Cukup katakan ‘tidak’ maka semua akan baik-baik saja”. Jelas kata ini di tujukan untuk Gi Seo. Kata selanjutnya Young Shin tujukan kepada dirinya, “Aku melihatnya juga. Ia tak melakukannya untuk membunuh. Ia melakukannya untuk menyelamatkannya. Dasar dungu! Bodoh!”. Seolah tak menghiraukan kehadiran Seok hyun, Young Shin tetap asyik dengan pikirannya, ia tiba-tiba berlari pergi.

Seok hyun tahu kepedihan Young Shin, melihat Young Shin seperti itu hatinya terluka. Tapi ia berusaha mengabaikan perasaannya, ia berusaha menolong Gi Seo dengan menelpon Presdir karena walau bagaimana Gi Seo juga anak buahnya Presdir.

Dokter Oh berada di Klinik, ia yakin dengan teorinya. Ia yang tahu riwayat kesehatan Ny. Go Pil yang memang mempunyai asma yakin Gi Seo memotong tenggorokan Ny. Go Pil untuk membantunya bernafas (=tracheostomy, dalam istilah kedokteran). Ia berusaha minta bukti, ia minta RS Dae Myung untuk membantu membaca medical record Ny. Go Pil sebagai referensi untuk membantu kasus Gi Seo. Dokter Oh yang biasa kalem dan cenderung penakut, berteriak tak sabar pada si penerima telepon yang mempermasalahkan prosedur.

Young Shin pulang, ia melihat Bom di depan kamar Gi Seo.
Bom berceloteh pada kamar yang tak berpenghuni itu, “Jika ku panggil ‘Supir Kim’, ahjussi harus menjawab ‘ya, Nyonya’… Jika ku bilang ‘cepatlah dan nyanyikan sebuah lagu’, Ahjussi harus menjawab, ‘Ya nyonya’ lalu kemudian bernyanyi…”
Young Shin memanggil Bom dan menanyakan apa yang sedang Bom lakukan. Ternyata Bom sedang berlatih bicara pada Gi Seo, ia ingin Gi Seo membantunya tampil di panggung sekolah. Setiap anak sudah punya partnernya, tinggal Bom yang belum. Ia tak mungkin minta kakek, karena ia khawatir kakek akan poop lagi. Dengan nada agak tinggi Young Shin minta Bom tak mengganggu Gi Seo. “Kenapa ibu marah??”
“Maaf, ibu tak marah…” Young Shin menyadari kesalahannya dan segera membelai kepala Bom. Ia memberitahu ia harus pergi ke suatu tempat dan minta Bom bermain dengan kakek. Jika Bom merasa lelah, Young Shin mengijinkan Bom minta tolong pada Do seok dan Nenek Chang Ja. Young Shin juga menenangkan Bom yang menanyakan Gi Seo dengan mengatakan bahwa ia akan menjemput Gi Seo pulang.

Sementara itu Seok hyun yang kaget segera mengerem mobilnya. Ia kaget saat mendengar pengakuan Presdir bahwa Gi Seo bukanlah sekedar anak buahnya, tapi ia adalah putra sulungnya. Namun Presdir minta Seok hyun untuk tak membantu Gi Seo.
Setelah menutup telponnya dengan Seok hyun, Presdir menelpon ayahnya Gi Seo. “Min Gi Seo, bocah itu…. Ku pikir ia 100% anakku… tapi sepertinya ia adalah anakmu, ia adalah anak Min Jun Ho” Ujar Presdir menahan tangis. Bagaimana tidak, Gi seo kini tersandung kasus yang sama seperti ayahnya dulu.
Gi Seo menolak tawaran di dampingi pengacara. Karena itu penyidik langsung bertanya pada Gi Seo. Tapi alih-alih mendengarkan pertanyaan penyidik, Gi Seo lebih tertarik pada percakapan seorang tersangka yang sedang di interogasi.
“Bagaimana bisa ada orang tak berbakti sepertimu? Sebagai seorang anak, bagaimana kau bisa memukul ayahmu sendiri?” tanya penyidik.
“Siapa yang ayahku? Dia tidak cocok jadi ayahku… . Ayah macam apa dia?.. Dia harus bertindak selayaknya seorang ayah, apa yang pernah dia berikan padaku” jawab si pelaku arogan.
Gi Seo tak tahan, ia segera berdiri dan menendang si tersangka itu. Dua orang Polisi sampai harus memeganginya.
Makin kecil peluang Gi seo untuk di bebaskan, apalagi dengan perilakunya barusan. Seok Hyun hanya bisa menghela nafas melihat kejadian tadi, ia keluar dan terlihat pusing mencari cara. Rupanya Seok hyun mengabaikan permintaan Presdir.

Seok hyun yang berdiri di balik kolom besar tak terlihat dan tak melihat Young Shin datang. Ia kebetulan menoleh ke arah dalam dan melihat Young Shin yang sedang bertanya pada petugas penjaga, Seok hyun diam-diam ikut masuk ke dalam.
Seok hyun makin patah hati saat di lihatnya Young Shin dengan gigih berusaha memberi kesaksian yang bisa meringankan Gi Seo. Namun walau kesaksian Young Shin bisa menghilangkan tuduhan terhadap Gi Seo, petugas tak bisa melepaskan Gi Seo. Karena kesaksian Tuan Park maka kasus Gi Seo tetap akan di proses.
Young Shin yang merasa gagal menolong Gi Seo kini terpekur di luar kantor polisi. Seok hyun yang melihatnya menemaninya, memberinya minum, juga menghiburnya. Seok hyun meyakinkan kalau Gi Seo akan baik-baik saja, dan takkan di tuntut atas kasus pembunuhan.
Siang itu baik Seok hyun maupun Young Shin tak ada yang pulang ke Pureun. Keduanya kini ada di dermaga menunggu dokter Oh. Seok hyun berusaha memberikan jasnya pada Young Shin, tapi Young Shin yang sedari tadi hanya mematung berdiri menatap kapal-kapal menolaknya. Ia mengembalikan jas itu dan mengaku ia tak kedinginan.
Dr. Oh datang membawa kabar gembira. Bukti medical record RS. Dae Myung menunjukkan kalau apa yang dilakukan Gi Seo bukanlah kesalahan. Ny. Go Pil terbukti terlalu dini di bawa pulang oleh keluarganya keluar dari RS. Ditambah lagi dengan kondisi yang kurang fit itu, ia menyemprot pestisida dan pastinya menghirupnya dengan tak sengaja.
Sayangnya bukti itu belum cukup. Bukti terbesar justru kalau pihak keluarga (dalam hal ini Tuan Go Pil) mau bersaksi. Bersaksi kalau keadaan Ny. Go Pil tadi pagi sebelum pergi ke ladang menunjukkan gejala tertentu seperti suara parau atau wajah bengkak. Tapi masalahnya adalah kalau Tn Go Pil mau bersaksi, itu juga berarti bahwa ia mengakui kalau ialah yang memaksa istrinya keluar dari RS dan mengabaikan peringatan RS. Makin sulitlah peluang untuk mendapatkan kesaksian dari Tuan Go Pil.
Gi Seo merenung, ia ingat percakapannya dengan Bom pada suatu pagi.
“Ahjussi, kejahatan apa yang ahjussi lakukan? “ Tanya Bom tiba-tiba. Ia kembali bertanya karena Gi seo tak juga menjawab. “Aku bertanya ahjussi melakukan kejahatan? “
“Apa katamu?” Gi Seo balik bertanya dan berpaling dari buku yang di bacanya.
Bom berlari mendekati Gi Seo, “Ahjussi, bukankah ahjussi juga malaikat?”
Gi Seo menatap Bom, ia belum mengerti arah pembicaraan Bom, sedang Bom sendiri celingak-celinguk melihat keadaan.
Setelah yakin tak ada yang mendengarkan mereka, Bom berbisik, “Ini rahasia…. Aku malaikat juga. .. Darimana asal ahjussi? Apa kau melakukan kejahatan yang membuatmu diusir?”
“Apa kau makan sesuatu yang buruk?” Gi seo bertanya balik dan mencondongkan badannya ke arah Bom, ia tetap belum mengerti.
Bom mundur, ia menggeleng, “Aku tidak makan sesuatu yang buruk. Yang kumaksud adalah aku seorang malaikat dari langit… tetapi karena aku membuat Tuhan sedih dan khawatir, aku bereinkarnasi dan menjadi putri ibuku…. “ Gi Seo sepertinya mulai mengerti, ia kembali duduk tegak. Bom melanjutkan ceritanya, “Apa kejahatan yang Ahjussi lakukan hingga ahjussi datang ke sini? Apakah Ahjussi membuat Tuhan khawatir karena tidak mendengarkan-Nya?... Ibuku mengatakan bahwa mulai sekarang, jika ahjussi melakukan 100 hal baik maka ahjussi akan kembali menjadi malaikat…. “
Gi Seo menahan senyum, ia membiarkan Bom melanjutkan ceritanya.
“Karena Ahjussi sudah menyelamatkan ayah Boram, maka ahjussi tinggal melakukan 99 kebaikan lagi… Aku sudah melakukan 10 kebaikan!” yang terakhir Bom pamer, haha. Ia juga tak lupa menyemangati Gi Seo, “Berjuang malaikat Ahjussi! Basha!...”
Young Shin benar-benar mematuhi perintah ibu Seok hyun, ia tak memberi kesempatan sedikitpun pada Seok Hyun untuk membantunya. Ia memilih berjalan kaki dari pelabuhan menuju rumah, sementara Seok hyun mengikuti dengan mobilnya. Ckckck.
Seok hyun pun keluar dari mobilnya untuk memayungi Young Shin saat hujan turun. Young Shin hanya menoleh sekilas, ia lalu melanjutkan jalan mereka. Mereka sepayung berdua, berdiri hampir berdekatan, tapi nampak sekali ada jurang di antara mereka.
Bom menelpon Young Shin, ia mengadu soal kakek yang tak mau makan dan malah meminta bermain dengan Seok hyun. Padahal saat itu Seok hyun ada disampingnya, tak sulit bagi Young Shin untuk memintanya mampir dan bermain dengan kakek. Tapi Young Shin menganggap Seok hyun tak ada, ia minta bom menjaga kakek dan tidak keluar, sebentar lagi ia akan sampai.

Sesampainya di rumah, Young Shin menoleh pada Seok hyun, ia seperti akan mengucapkan sesuatu, tapi urung. Ia memilih segera masuk ke rumah tanpa sepatah katapun. Tinggallah Seok hyun yang menjatuhkan lengannya yang berpayung.
Hari itu hujan terus turun hingga malam. Di dalam rumah Bom bermain dengan kakek. Ia kembali berlatih dialognya yang ia tujukan untuk Gi Seo, tapi karena Gi Seo tak ada ia minta kakek sementara yang menggantikannya.
“Supir Kim, nyanyikan sebuah lagu!. Cepat!!” Kakek diam saja dan terus makan Pie Coklatnya. “Mengapa hanya menatap? Kakek harus mengatakan ‘Ya, Nyonya’ - seperti itu.. . Oh benar-benar, bisakah kakek berhenti dulu makan pie coklatnya?? Coba katakan ‘Ya, Nyonya’… “ Bom kesal, ia merebut bungkus coklat pie kedua yang sedang di buka kakek, “Aku tak akan bermain dengan Mr Lee lagi!”.
“Ya, Nyonya…” Jawab Kakek
Bom tersenyum, “Bagus. Supir Kim, nyanyikan sebuah lagu!. Cepat!!”
Kali ini kakek tak menjawab dan malah memukul kepala Bom, ia kesal karena pie coklatnya tak kunjung di kembalikan.
Bom mengusap kepalanya yang sakit, “Jika aku dan pie coklat jatuh kesungai, kakek akan menyelamatkan pe coklatnya duluan, kan????”
Dan kakek mengangguk, “hem”
Wkwkwk, Bom kesal.
Bom beralih menatap ibunya, ia bertanya kapan ahjussi akan pulang. Melihat ibunya diam saja, Bom mendekat dan mengulang pertanyaannya. Seolah baru turun ke alam nyata, Young Shin menoleh.
“Kapan Ahjussi pulang? Kenapa ahjussi belum juga datang? Bukankah ibu bilang akan membawanya pulang? Memangnya ahjussi pergi kemana?”
Young Shin bingung menjawabnya, ia menunjuk asal dan menjawab “Kesana…. Di sana…”
“sana mana? Di mana?”

Young Shin keluar menatap hujan, sepertinya ia menghindari pertanyaan Bom. Ia mengingat soal percakapannya tadi dengan dokter Oh soal Tuan Go Pil yang harus jadi saksi untuk membantu Gi Seo.
Mengingat Tuan Go Pil, Young Shin bergegas menuju rumah Tuan Go Pil. Ia berencana memohon pada Tuan Go Pil untuk bersedia menjadi saksi.
Ternyata Young Shin keduluan. Seok hyun tampak sedang bersimpuh memohon pada Tuan Go Pil. Tuan Go Pil menolaknya, ia minum sambil memandang fotonya bersama istrinya itu. Baginya istrinya itu sehat dan kuat, dan Gi Seo adalah pembunuh.
Seok hyun tak patah arang, ia berusaha menjelaskan soal perjudian kemarin. “Aku menginginkan sebidang tanah paman hingga aku menyuruh beberapa (penjudi) profesional untuk menipu paman…. Ku pikir pada akhirnya tanah paman akan diambil oleh beberapa orang jahat, jadi kuputuskan akulah yang pertama (melakukannya)… Aku meminta mereka berjudi dengan paman dan memenangkan lahan itu… Aku adalah orang yang minta dokter itu untuk melakukannya… Sudah hampir 100% ia akan menang, tapi ia memilih tak melanjutkannya. Ia bahkan membayar kompensasi lebih dari 1 juta won…”
Tuan Go Pil dalam diamnya ternyata mendengarkan penjelasan Seok Hyun, ia yang kini berbaring mengingat kejadian tempo hari, saat Gi Seo memutuskan untuk membatalkan semua permainan dan mengembalikan surat tanahnya. Gi Seo juga mengingatkan kalau sampai Tuan Go Pil menggunakan surat tanahnya lagi, maka ia akan berakhir menjadi orang tua yang tak punya apapun bahkan tulang.
“Dia orang yang seperti itu… Untuk mencapai tujuanku, aku bahkan rela untuk menyakiti ayah temanku (=Tuan Go Pil)… Dia benar-benar berbeda dengan karakterku… Aku telah belajar dari kesalahanku… Tolong hukum aku dan selamatkan temanku itu.”

Paginya kakek dan Bom nampak tidur berpelukan.
 Sementara Young shin dan Seok hyun masih ada di tempatnya sejak semalam!!. Seok hyun tampak gemetar, air sisa hujan semalam tampak bercucuran dari seluruh tubuhnya yang basah kuyup. Young Shin tanpa bicara terus melihat ke arah Seok hyun.
Tuan Go Pil keluar sebentar, ia agak marah saat dilihatnya Seok hyun masih ada disana. “Kau gila!! Walau kau berlutut selama 100 hari, aku takkan luluh!”. Tuan Go Pil lalu masuk ke rumah.
Tak berapa lama ia keluar lagi, “Ya, aku pantas mati, aku pantas mati!.. Perutnya kembung, tapi aku tidak memintanya beristirahat!... Aku yang memintanya menyemprotkan insektisida! Aku!!... “
Tersirat senyum di balik wajah lelahnya seok Hyun. Begitu juga di wajahnya Young Shin.
“Jadi apa yang ingin kau lakukan? ….. Aku tak berharap dia akan pergi begitu saja ... Ku pikir ia berpura-pura soal sakitnya” Muncul tangis dalam penyesalan Tuan Go Pil.
Pagi itu juga akhirnya Gi Seo di bebaskan. Ia keluar dari kantor polisi tanpa gairah. Terlihat ayahnya menunggunya, Gi Seo pun berbelok mengabaikan ayahnya yang tersenyum.
“Aku tak menyesali kejadian hari itu…. Kalau terjadi lagi, aku akan membuat keputusan yang sama….” Kata-kata ayahnya ini membuat Gi Seo berhenti dan menoleh. Ayahnya melanjutkan, “Sama seperti bagaimana kau mengerahkan semua kemampuanmu pada Ahjumma itu, aku juga mengerahkan semua kemampuanku waktu itu.”
Gi Seo menyeringai, “Mengerahkan semua kemampuanmu adalah membunuh pasien?... membiarkan pasien mati itu di sebut mengerahkan kemampuan?”
“Aku tak membunuhnya! Aku hanya tidak ingin dia menderita. Aku ingin dia memiliki kedamaian. Jadi aku mengirimnya pergi.”
Gi Seo terkekeh mengejek, “Lalu? Dicap sebagai seorang pembunuh, mempermainkan hidup orang, kehilangan pekerjaan sebagai dokter, bercerai dari istri, dan putrimu meninggal!... Bagaimana dengan putramu?... Dia telah mengalami situasi yang sama… Apa itu disebut mengerahkan semua kemampuanmu?”
Ayah Gi seo dengan sabar mulai menceritakan keseluruhan situasi, tentang siapa dan bagaimana hubungannya dengan pasien wanita yang telah membuatnya di tuduh sebagai pembunuh. “dia dibesarkan bersamaku di panti asuhan… Dia seperti adik kandungku… Daripada membiarkan orang lain melakukannya, mengapa bukan aku? … Akan lebih baik jika aku mengirimnya pergi… Adikmu juga memohon padaku untuk melakukannya juga.”
Gi seo terdiam, ia tak tahu harus berkomentar apa atas semua yang di dengarnya barusan. Saat ayahnya bilang akan mengantarnya, Gi seo menjawab ia takkan kembali ke pulau, lalu masuk ke dalam taxi.
Setelah taxi ayah Gi Seo melaju, tampak Young Shin mengamati kepergian Gi Seo sambil tersenyum lega.
Namun Young Shin tak tahu kalau di belakangnya juga ada Seok hyun yang sedang mengamatinya dengan perasaan campur aduk.
Young Shin pulang ke rumahnya, ia langsung mengamati kamar Gi Seo yang kini telah kosong. Dengan lunglai ia menuju dapur dan makan roti tawar milik Gi Seo. Young Shin makan rotinya dengan penuh penghayatan.
Bom baru pulang sekolah melongok ke dapur, ia kaget melihat ibunya makan roti, “Ooh ibu… mengapa ibu makan rotinya Ahjussi?”
“Rasanya enak… sangat enak… Bom, apa kau mau juga?” Young Shin mengambil selembar roti lagi dan menyodorkannya ke Bom.
Bom merebut roti itu beserta bungkusnya, “ibu tidak boleh!.. Bagaimana bisa ibu makan rotinya Ahjussi? Bagaimana jika Ahjussi marah lagi?”
“Tidak apa-apa… Ahjussi tidak akan kembali.”
“huh??”
“Ahjussi kembali ke Seoul, Bom.”
Bom tak percaya. Tapi semakin Young Shin meyakinkannya bahwa Gi Seo takkan pernah kembali lagi ke rumah mereka, pecahlah tangis Bom. Ia menangis sejadi-jadinya memanggil-manggil ahjussi.
Kembali ke Seoul, ayah Gi Seo mengantarkan Gi Seo ke rumahnya. “Kau bersungguh-sungguh untuk menjadi dokter. Aku tahu itu… Ayahmu ini bahkan tak bisa menandingi gairahmu itu”.
Gi Seo tak menyahut, ia keluar dari mobil, masuk ke rumahnya, lalu menutup pintu dengan keras.
 
Hari-haripun berlalu. Young Shin mulai merindukan Gi Seo. Saat bekerja di ladang ia merasa mendengar Gi Seo memanggilnya. 
Young Shin celingukan, tak ada Gi Seo. Yang ada hanya seorang pemuda memanggil seorang ahjumma yang juga bekerja di ladang yang sama dengannya.
Bom juga merindukan ahjussinya, ia terbangun dan kini duduk di depan kamar Gi Seo. Young Shin mendekati anaknya itu dan menanyakan apa yang sedang di lakukan Bom di situ. Bom mengaku kalau ia mendengar Gi Seo memanggil namanya, dan ia yakin itu bukanlah mimpi. Young Shin menghibur Bom, ia juga mengaku mendengarnya.
Bagaimana dengan Gi Seo? Apa ia juga merindukan ibu dan anak yang beberapa waktu terakhir ini telah mewarnai hari-harinya? Entahlah. Yang pasti Gi Seo terlihat galau, ia berendam sambil minum. Tampak ia menerawang….
Seok hyun pulang dan mendengar suara ibunya yang sedang mengeluh karena pijatan Eun Hee tak bertenaga. Seok hyun lalu masuk ke kamar ibunya dan menggantikannya.
Ibu Seok hyun masih kesal di marahi Seok hyun soal Young Shin, ia menolaknya. “Siapa kau? Beraninya kau memijat punggung seorang wanita? Eun Hee, suruh dia pergi…. Kaulah yang harus memijatku”
“Eun Hee hamil” Jawab Seok hyun sambil terus memijat ibunya.
Ibu Seok hyun langsung duduk, “Apa katamu tadi?”
“Eun Hee sedang hamil, Bu… Jangan menyuruhnya melakukan sesuatu yang butuh tenaga”.
“Tentu saja! Tentu saja!” Sahut ibu Seok hyun antusias, sementara Eun Hee yang belum memberitahu Seok hyun soal keadaan sebenarnya bingung. Ia merasa tak enak atas rasa gembira yang melanda calon ibu mertuanya itu. Boro-boro hamil, Eun Hee di vonis akan kesulitan memiliki anak.
Sementara itu, untuk membuat Bom tertidur, Young Shin menggemblok-menggendong di punggung- Bom keliling desa sambil mendendangkan lagu. Lagu yang sama yang mampu membuat Gi Seo tertidur. Itu lho lagu yang nadanya sama dengan lagu jaman pramuka, ‘sedang apa, sedang apa… sedang apa sekarang…’. Ngomongin lagu ini, kayaknya emang gak masuk dalam OST.
Ternyata kali ini Gi Seopun merasa mendengar lagu itu, lagu yang makin membuatnya sulit tidur…..

Satu bulan berlalu……
Bom mengejutkan teman-temannya! Ia yang biasanya terlambat dan di juluki Raja telat, kini nampak bersemangat pergi sekolah..
Coba baca percakapan berikut,
“Eh? Siapa itu?”
“sepertinya itu Bom”
“Bom? Jam berapa sekarang?”
“jam 7.31”
“Pasti itu bukan Bom!”
“Begitu ya?”
“Iya,… Ayo!!”
Wkwkwkwk.
Atau yang satu ini, “Hey! Raja telat!!... kau mau kemana?”
“Sekolah”
“Apa?..... Kamu?.......... Sekarang?”
Bom pun sukses sampai disekolah. Tampak Yong Joo juga baru datang.
“Yong Joo Oppa!”
“Lee Bom?”
“Oppa, aku tidak terlambat, kan?” tanya Bom terengah-engah. Kok aku ngerasa Bom cantik banget pake baju ini.
“Sepertinya kita yang pertama datang”
“Yes!!!”
“Kamu kenapa?” Tanya Yong Joo bingung. Gak sari-sarinya si Bom datang pagi.
Ternyata Bom tengah mempersiapkan dirinya untuk bertemu Gi Seo. Saat Gi Seo kembali nanti, ia akan bangga bilang kalau ia tak pernah terlambat sekarang.
Gi Seo yang sekarang telah jauh berubah, ia menjadi dingin dan kaku. Ia yang kini bekerja di perusahaan ibunya, dengan mudahnya memutuskan kerja sama dengan seorang ahjussi pensuplai karena sebuah kesalahan. Padahal ahjussi itu sudah bekerja sama dengan ibu Gi Seo sejak merintis usahanya dulu. Ahjussi berlutut mohon kesempatan. Putusnya kerja sama akan membuat oleng industri rumahan yang di kerjakan oleh sekitar 100 keluarga. Gi Seo tak bergeming, ia juga tak segan akan memecat sekertaris Park yang mencoba membujuknya.
Ibu Gi Seo yang kebetulan melihatnya melongo melihat kelakuan anaknya itu, ia menatap Gi Seo yang masuk ke dalam Lift.
Di dalam Lift, Gi Seo yang frustasi mencoba mencekik dirinya dengan dasinya sendiri….
Kita balik lagi ke Young Shin yang menangis melihat berita tentang anak-anak afrika yang kehilangan orang tua akibat Aids. Kakek yang melihatnya memukul TV, menurutnya anak-anak di TV itu jahat karena membuat Young Shin menangis.
“Pergi! Kau jahat!... Pulang ke rumah! Pulang ke rumahmu! Kau jahat!”
“Kakek… Jangan seperti ini. Jangan mengalahkan mereka, Mr Lee… Mereka bukan anak-anak yang jahat. Mereka itu anak-anak yang menyedihkan.”
“Tidak, mereka itu jahat!”
“Mereka punya penyakit yang sama seperti Bom…. Bom punya AIDS juga.”
Kakek diam seolah mengerti, ia mengulang ucapan Young Shin, “Bom punya AIDS juga”.
“Ya. Mereka seperti Bom… Baik hati, namun mereka sakit dan menyedihkan. Jangan pukul mereka.”
“Ya, aku telah belajar dari kesalahanku ... aku telah belajar dari kesalahanku” Kata kakek pada Young Shin, ia lalu menghadap ke TV dan minta maaf.
Sambil mengelus dan meniup sayang ke layar TV, kakek berjanji takkan memukul anak-anak yang di TV lagi, ia mengulang kata-kata soal Bom yang punya Aids juga.
Kakek bermain dengan nenek Chang Ja yang membuatkannya kue kesukaannya. Walau Kakek sudah pikun, kakek tidak melupakan makanan favoritnya itu. Doo Seok keluar, ia hendak ke Seoul. Ia mengomentari ibunya yang masih cinta mati sama si kakek, haha. Obrolan mereka berhenti karena suara omelan diluar dan tangisan anak kecil. Ketiganya melongok dan melihat ibu Bo Ram memarahi sambil memukul anaknya yang pipis di celana.
Kakek langsung ingat soal ia yang dilarang memukul anak-anak di TV, “Jangan memukulnya! Kasihan dia!” Dengan lantang kakek bicara, ia lalu mendekati ibu Bo Ram.
“Itu jahat…. ia memiliki penyakit yang sama seperti Bom… Baik hati, namun sakit dan menyedihkan… Jangan memukulnya.”
“Apa?” Ibu Bo Ram bingung.
“Bom punya AIDS juga! Dia baik hati namun sakit dan menyedihkan… Bom punya AIDS juga! Jangan memukulnya, kau jahat!” Kakek lalu mengelus kepala Bo ram dan meniupnya dengan sayang.
Esok paginya, ibu Bo Ram membicarakannya dengan para ahjuma pekerja di ladang. Atas desakan mereka ibu Bo Ram memberanikan diri bertanya, “Young Shin… Aku punya sesuatu yang mau kutanyakan.”
“Ya, silahkan”
“itu… “ Ibu Bo ram ragu
“Ada apa? Tak apa-apa, tanyakan saja” kata Young SHin sambil senyum
“Itu… Bom punya AIDS?... Itu tak mungkin, kan?”
Perlahan hilang senyum di wajah Young Shin, alat kerja yang di pegangnya terjatuh, tangannya terkulai ke tanah….
Dr. Oh yang kebetulan ke Seoul bertemu dengan Gi Seo. Ternyata dr. Oh tak menyebutkan identitas juga soal pulau Pureun pada Sekertarisnya Gi Seo, karena ia yakin Gi Seo tak mau bertemu dengannya. Dan benar sangkaannya Dr. Oh, karena Gi Seo memang sebenarnya tak mau bertemu dengan siapapun dari Pureun.

Kedatangan dr. Oh hanya untuk menyampaikan permintaan maaf dari Park soal tuduhannya soal kematian Ny. Go Pil. Ia merasa vonis bahwa ia menderita aplastic anemia baru-baru ini adalah balasan baginya.
Gi Seo tetap dingin, hingga dr. oh merasa Gi Seo kini adalah orang berbeda. Dr. Oh menolak tawaran minum Gi Seo dengan alasan harus pulang pagi-pagi ke Pureun. Sebelum pergi, dr. Oh memberi tahu soal rencana kepergian keluarga Lee keluar dari Pureun. Gi Seo yang hampir minum, seolah freeze dengan gelas di dekat mulutnya. 
Dr. Oh melanjutkan ceritanya, “Karena Bom positif HIV, orang-orang di desa terus mengucilkan mereka, jadi mereka tidak dapat terus tinggal di sana.”


................................
..Akankah Gi Seo kembali untuk menunaikan janjinya pada Min Ji?? tunggu episode selanjutnya di Blog Apni..
^^,

4 komentar:

Vee@n mengatakan...

entah kenapa aku paling suka peran unnie disini.. heheh.. pasta, BL.. pokoke yang disini tuh bener2 oke

ai mengatakan...

mungkin karena tampangnya yang ndeso, cocok banget di film ini... haha piss ah mbak Gong Hyo Jin. Tapi dia ini total banget main drama apapun... KEREN

Anonim mengatakan...

Aku tunggu lanjutan nya

ai mengatakan...

@anonim... nagihnya ma apni tuuuh klik nama Vee@an yang di komenan pertama, langsung tagih di blognya, haha...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...